Rupa Zaman di Tangan Hafiz Rancajale


Penulis:  */M-4 - 09 June 2018, 23:20 WIB
MI/FATHURROZAK
MI/FATHURROZAK

SEPULUH orang berbanjar di depan kaca besar. Satu tangan dari semuanya menggenggam palu yang digerakkan acak. Seseorang mengacungkannya pada pengunjung.

Bergerak ritmis, lalu bak partitur tangga nada mereka menghantam kaca latar. Pecah an beling berserak di lantai. Daya eksplosif pukulan palu menghasilkan visual pada kaca yang beragam. Ada yang bolong, tetapi ada pula yang
sekadar menghasilkan raut retak pada kaca. Pertunjukkan itu merupakan bagian dari karya Mirror and Unpredictable dalam pameran Social Organism milik seniman Hafi z Rancajale yang bisa disaksikan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, hingga 9 Juni 2018.

Dengan menggabungkan unsur pertunjukkan, seniman yang lebih dikenal sebagai kurator atau fasilitator ini sengaja ingin memberikan sajian spontanitas, suatu yang prosesnya bisa kita simak secara nyata dan hasilnya tak tahu mengarah ke bentuk mana. Ia coba mempertontonkan perkembangan suatu organisme bukanlah sesuatu yang bisa dikontrol, tetapi bisa diarahkan.

Dari hantamanhantaman palu itu, kita tak bisa mengontrol kenampakan pola dan raut kaca, si pemukul tentu bisa mengarahkan pukulan-pukulannya menjadi suatu yang berbeda dari bentuk awal. “Organisme itu tumbuh mengarah ke berbagai macam hal, bisa jadi positif bisa juga negatif,” ujar Hafi z.

Menurutnya, membaca sebuah sosio kultural bisa dengan tawaran konsep social organism, menjadi semacam pisau untuk membaca perubahan  di masyarakat. Dalam konteks kultural, bagaimana proses organisme itu tumbuh dan bermula. “Bisa untuk diarahkan, namun tidak bisa dikontrol,” ucapnya saat ditemui, Jumat (25/5).

Setelah lama ngaso dari pameran secara arti harfiah, pendiri Forum Lenteng ini menyuguhkannya potret perjalanan sosio kultural itu dalam media gambar, video, dan audio. Dari beberapa karya gambarnya, Hafiz lebih banyak menggunakan material bolpoin, dengan dominan warna merah, atau biru, lalu padu pada warna hitam, dan putih kertas.

Dalam seri Interior Demensia, misalnya, ia menggunakan keseluruhan bolpoin merah dan hitam. Hafi z menyodorkan visual yang tak jauh-jauh dari teralis, sekat, garis geometris, dan menyertakan simbolisme tetumbuhan. Konsep konstruksi yang kemudian berwujud pada teralis dan elemen interior ini juga dipertegas dalam penyajian interior ruang gedung A Galeri Nasional. Kehadiran jeruji hitam memberikan sekat untuk seri gambar versi bolpoin biru.

“Garis menurut saya, semacam studi pada hal yan  paling basic. Membaca visual dari bentuk awal,” ujar Hafi z. Selain karya gambar, tentu karya identik lain dari Hafi z ialah video. Ada satu yang cukup mencuri perhatian. Satu dinding dipenuhi dengan tampilan kolase beberapa wajah masyarakat, mulai benar-benar wajah seseorang, aktivitas, atau pamer kemampuan.

Performativity, karya yang dibuat pada 2009 itu memberikan makna perkembangan video, juga bagaimana seseorang membingkai diri mereka di depan kamera. Jauh sebelum muncul gejala narsis yang menjangkit di era video blog (vlog) saat ini, Hafiz telah memberikan gambaran lewat karya Performativity yang dibuatnya delapan tahun lalu itu.

Jika dulu untuk menghadirkan gambar terikat dengan berbagai kesakralan, mulai dari aturan, hingga izin, sekarang konsep membingkai diri di depan kamera menjadi konstruksi inisiatif warga.

BERITA TERKAIT