Eksplorasi Energi Simpul Dawai


Penulis: Fathurrozak - 09 June 2018, 23:00 WIB
img
DOK. JCP

NUANSA melankolis merambahi telinga begitu bunyi orgel bambu di belakang panggung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta  Pusat, Rabu (6/6) malam, menyemburatkan tragis.

Gesekan biola yang serupa langkah kaki mengendapendap dari kunci G Minor dalam komposisi Adagio milik Tomaso Albinoni-Remo Giazotto, menyusul setelahnya. Keduanya membunyikan melodi ironi dalam adegan opera. Langgam minor setelah seperempat jam pertama itu masih berlanjut melalui harmoni gesekan dawai yang mendayukan Serenadenya Edward Elgar, distel pada E Minor. Nadanya begitu mendayu-dayu.

Dalam seri ke-13-nya malam itu, Jakarta City Philharmonic (JCP) menampilkan susunan berbeda. Tidak ada perkusi maupun terompet. Orkes kota yang dimainkan awal pertengahan tahun ini hanya menampilkan satu unsur orkestra
dan menihilkan ketiga unsur utama susunan standar (tiup logam, tiup kayu, dan perkusi). JCP cukup mengantarkan simfoni lewat salah satu unsurnya, yakni dawai.

Selain hanya menyuguhkan komposisi dawai, JCP juga membawa orkestra hingga ke sela pendengar. Para pengunjung dipersilakan membawa biola mereka dan memainkan bersama komposisi Kanon dalam D Mayor milik Johann
Pachelbel di bawah gerak tangan pengaba Budi Utomo Prabowo, salah satu fluktuasi keriaan setelah dibuka dengan elegi.

Komposisi etnik bernada pentatonik juga dibawakan, Tarian Kabut Kintamani punya Budhi Ngurah. Beberapa biola dipetik menggunakan dua jari, tanpa menggunakan busur. Seolah kaki-kaki kering bersejingkat, mengantarkan pada
alunan gamelan Bali. Menilik momen menuju Lebaran, tema yang diangkat orkestra kali ini ialah simpul, yang bisa kita maknai sebagai ikatan. Begitu juga dengan Lebaran yang kerap jadi momentum untuk mengikat persaudaraan di antara sesama umat muslim.

Lebih luas lagi, dalam JCP kali ini juga menyentuh permasalahan kontemporer kebangsaan dan problematika kemanusiaan. “Awalnya kami ingin memberi tajuk JCP ke-13 ini dengan judul Dawai, tetapi kemudian Simpul yang dipilih. Dawai, tanpa diikat oleh simpul, meski sudah memiliki potensi energi, tetapi tidak akan menghasilkan suara dan tidak akan berdampak,” kata Pengaba, Budi Utomo Prabowo.

 

Harmoni kebangsaan

Bila dinarasikan pada konteks kehidupan berbangsa, tentu simpul menjadi unsur penting menjalin persatuan di tengah banyaknya perbedaan yang rentan gesekan. Namun, dari simpul itulah justru kita memperoleh energi untuk tetap
terus melanjutkan hidup dalam harmoni kebangsaan. JCP mendedikasikan konser jelang Lebaran ini sebagai jeda mengheningkan cipta untuk para korban peristiwa teror belakangan yang menimpa di beberapa daerah.

Kita memang hidup dalam perbedaan multispektrum. Sebab, itu simpul menjadi penting sebagai pengikat energi yang kita miliki, untuk melahirkan harmoni seperti dawai yang digesek. JCP merupakan proyek bersama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sejak pementasan perdananya pada November 2016 lalu, JCP berusaha tetap menjaga titik ekuilibrium masyarakat dengan menyediakan ruang refleksi melalui musik.

Orkestra kota ini akan digelar setiap bulannya selama 2018 dengan delapan kali pertunjukan. Pertunjukan perdananya April lalu, mengusung tema Lingkaran Keabadian yang merangkum berbagai pertanyaan mengenai esensi
kemanusiaan. Konser ke-2 bertajuk Tirta dihelat Mei 2018. Dalam bahasa Sanskerta, Tirta berarti air suci. Selama ini pemaknaan air sebagai sumber kehidupan disesuaikan dengan kebudayaan dan kebiasaan. (M-4)

BERITA TERKAIT