Puasa Jadikan Manusia Berkualitas


Penulis: Syarief Oebaidillah - 07 June 2018, 08:50 WIB
img
ANTARA /M AGUNG RAJASA

MENJALANI ibadah puasa Ramadan bagi kaum muslim merupakan kewajiban sebagaimana diperintahkan Allah SWT dalam Alquran. Seperti ibadah lainnya, berpuasa di bulan suci yang merupakan ibadah rukun Islam ketiga itu mengandung ujian di dalamnya.

"Kualitas kita dalam berpuasa mempunyai sejumlah tanjakan (ujian). Setidaknya ada lima tanjakan yang dapat saya jelaskan di majelis Ramadan ini," kata Ustaz Abdul Kohar di Masjid Baitut Tholibin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dengan mengutip karya ulama terkenal Indonesia Syekh Nawawi Albantani, Abdul Kohar yang juga Wakil Kepala Bimbingan Mental Komando Daerah Militer Jakarta Raya (Wakabintal Kodam Jaya) menjelaskan tanjakan pertama berpuasa ialah melatih hidup susah dan mendidik kita bersabar. Kita harus menunggu batal puasa, menahan lapar dan haus, tidak minum dan makan, hingga waktunya berbuka.

Tanjakan kedua sanggup menjadi orang yang berjuang pada siang dengan berpuasa dalam keadaan lelah. Pada malam harinya beribadah Tarawih, tadarus, sedekah, dan iktikaf semampunya, serta serius meraih ketakwaan. Tanjakan ketiga sabar dan tabah menghadapi cobaan karena terkadang dihinakan orang lain. Namun, di hadapan Allah yang berpuasa ialah baik dan mulia.

Tanjakan keempat memilih lebih banyak diam, menjadi orang yang memosisikan diri tawadu dan rendah hati. Tanjakan kelima ialah memilih kehormatan dalam upaya menjadi orang yang bertakwa, seperti termaktub dalam Alquran Surah Al Baqarah ayat 183 bahwa tujuan utama berpuasa ialah untuk menjadi orang bertakwa.

"Tahapan kelima ini, dengan menjadi orang bertakwa, memilih jalan hidup terhormat. Inilah kualitas puasa, yakni mendorong orang berperilaku seperti itu," tegasnya.

Ia melanjutkan, puasa bermakna melipatgandakan kekuatan untuk menjadikan kita sebagai manusia berkualitas. Dengan demikian, kita menjadi orang yang pantang menyerah dalam menjalani kehidupan.

Karena berpuasa mengangkat manusia menjadi orang berkualitas, yang terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya ialah mereka tidak menjadi orang yang lemah fisik dan mental kendati berpuasa.

"Contohnya dalam peristiwa Perang Badar yang terjadi pada Ramadan, ketika kaum muslim bersama sahabat Rasul membela diri dan terpaksa berperang melawan kaum kafir Quraisy yang menindas umat Islam saat itu. Ketika kezaliman kaum kafir Quraisy sudah di luar batas karena mereka menyiksa dan membunuh, kendati jumlah umat Islam sedikit, (umat Islam) mampu mengalahkan mereka yang berjumlah banyak. Itu terjadi di Ramadan, 14 abad silam di masa Rasulullah," papar Abdul Kohar.

Perintah Allah untuk berperang melawan kebatilan yang terjadi pada Ramadan juga terjadi dalam Perang Tabuk. Dalam peristiwa di bulan puasa itu, kualitas umat Islam yang dipimpin Rasulullah sebagai anutan secara fisik dan mental teruji.

"Rasul bukan hanya pemimpin umat, melainkan juga memenuhi kapasitas seorang panglima perang yang tidak tertandingi, yang memimpin umat menghalau kebatilan," tegasnya.

Ketika menengok ke Tanah Air, Abdul Kohar mengutarakan kemerdekaan Republik Indonesia dari kaum kolonial yang diproklamasikan Bung Karno dan Bung Hatta pada 17 Agustus 1945 juga terjadi pada Ramadan.

"Kita tahu, kontribusi para pahlawan kita yang bangkit berperang melawan penjajah. Sebagai bangsa kita juga punya pahlawan para ulama, kiai, santri. Mereka adalah orang soleh yang membela Tanah Air karena kecintaan mereka pada umat, agama, juga pada bangsa dan negara," tuturnya. (H-1) 


 

BERITA TERKAIT