Kenali Gejala, Cegah Bunuh Diri


Penulis: dr Engelberta Pardamean SpKJ Pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan - 06 June 2018, 01:45 WIB
img
thinkstock

BELUM lama ini kita dikagetkan dengan berita seorang remaja perempuan siswi SMP berusia 14 tahun yang bunuh diri dengan melompat dari lantai 33 di apartemen tempat tinggalnya di Jakarta. Penyebabnya, stres menghadapi ujian sekolah.

Tak lama berselang, ada lagi seorang pelajar kelas 3 SMP ditemukan mati gantung diri di kamar indekosnya. Pemicunya, takut keinginannya untuk masuk ke SMA pilihannya tidak tercapai.

Meningkatnya kasus bunuh diri pada remaja akhir-akhir ini bukanlah hal yang bisa diabaikan. Sangatlah dianjurkan bagi kita semua untuk lebih mewaspadai dan mencegah kasus bunuh diri, khususnya pada kaum remaja.

Masyarakat perlu mengetahui ciri-ciri orang yang mau bunuh diri. Dengan demikian, masyarakat bisa mengenali dan diharapkan bisa melakukan pencegahan secara dini.

Salah satu penyebab umum bunuh diri ialah depresi berat. Dalam kehidupan sehari-hari pasien depresi berat menampakkan beberapa gejala. Seperti tampak murung, sedih, dan sering menangis sendiri. Selain itu, hilangnya minat terhadap hobi yang biasa dilakukan. Lebih banyak mengurung diri di kamar. Selera makan berkurang hingga berat badan menurun.

Sepanjang hari lesu dan lelah walau tidak melakukan aktivitas berat. Konsentrasi berkurang. Berpikir negatif, putus asa, dan cenderung menyalahkan diri sendiri. Mengeluh sulit tidur. Akhirnya, timbul ide-ide bunuh diri atau usaha mencoba bunuh diri.

Secara teori, ada dua faktor yang menyebabkan seseorang bunuh diri. Pertama, faktor psikologis bunuh diri yakni pembunuhan yang dibalikkan sebagai akibat dari kemarahan pasien terhadap orang lain yang diarahkan kepada diri sendiri. Kedua, faktor biologis, terutama pada kasus depresi. Penelitian menunjukkan rendahnya kadar zat serotonin metabolit 5-Hydroxy Indole Acetic Acid (5-HIAA) pada cairan serebrospinal di otak berkaitan erat dengan tindakan bunuh diri pada kasus depresi.

Riset lebih lanjut menunjukkan faktor genetik turut berperan dengan dibuktikan adanya hubungan bunuh diri pada orang kembar dan riwayat bunuh diri dalam keluarga. Berdasarkan teori ini, seorang yang depresi harus diberi obat anti depresan seperti golongan Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI).

Perlu dirawat
Dalam bidang medis, pasien yang sudah mempunyai ciri-ciri hendak bunuh diri harus dirawat di rumah sakit dan perlu pengawasan khusus.

Intervensi terapeutik perlu segera diberikan karena dalam kondisi itu pasien dapat membahayakan lingkungan dan dirinya sendiri. Dukungan keluarga dan kerabat terdekat pasien juga sangat diperlukan.

Keputusan untuk merawat pasien di rumah sakit tergantung pada diagnosis, keparahan depresi, gagasan bunuh diri, kemampuan pasien, dan keluarga untuk mengatasi masalah, situasi hidup pasien, tersedianya dukungan sosial, dan adakah faktor risiko untuk bunuh diri.
Pertimbangan untuk merawat pasien dengan ide bunuh diri di rumah sakit ialah keputusan klinis yang penting. Indikasi untuk perawatan di rumah sakit antara lain, tidak adanya sistem pendukung sosial yang kuat di rumah, terdapat riwayat perilaku yang impulsif untuk bunuh diri, adanya rencana bunuh diri, dan lebih berbahaya lagi apabila pasien sudah pernah mencoba melakukan bunuh diri.

Adakalanya seorang dokter harus meminta persetujuan pasien untuk mau menelepon dokter sesegera mungkin saat ia merasa tidak yakin akan kemampuannya mengendalikan impuls bunuh dirinya. Idealnya, pasien harus diobati dalam bangsal yang terisolasi. Obat antidepresan harus segera diberikan. (H-2)

 

 

BERITA TERKAIT