Imunoterapi, Senjata Terbaru Melawan Kanker


Penulis: (Nik/H-1) - 06 June 2018, 01:30 WIB
thinkstock
thinkstock

Meningkatnya angka kejadian kanker di Indonesia dan di seluruh dunia melahirkan kekhawatiran tersendiri. Sudah beberapa dekade perlawanan dilakukan terhadap penyakit kanker, tetapi angka kematian masih tinggi. Berbagai penelitian di bidang terapi untuk kanker terus dilakukan agar menghasilkan terapi kanker yang efektif. Beberapa tahun terakhir, dunia penelitian mulai menaruh harapan besar pada imunoterapi.

Dokter Konsultan Hematologi Onkologi Medik, Andhika Rachman, menjelaskan imunoterapi memiliki tujuan yang sama dengan terapi kanker yang sudah dikembangkan sebelumnya, yaitu terapi target. "Artinya terapi menyasar langsung kepada sel kanker yang dituju. Hanya saja, pada imunoterapi, konsepnya sedikit berbeda. Imunoterapi memberikan kesempatan kepada sel kekebalan tubuh agar lebih aktif melawan sel kanker," ujarnya di Jakarta, pekan lalu.

Prosesnya, lanjut dia, imunoterapi memutus ikatan antara PD-1 (Programmed Cell Death-1), yaitu reseptor yang ada di permukaan sel-T, sel yang berperan penting dalam sistem imun dengan PD-L1 (Programmed Death-Ligand 1) yang ada di permukaan sel kanker. Ketika PD-1 dan PD-L1 berikatan, sel T tak mampu mengenali sel kanker sehingga terjadi kegagalan untuk membunuh sel kanker sebagaimana seharusnya.

“PD-1 itu dijadikan salah satu kaki dari sel kanker tadi untuk melumpuhkan sel imun kita. PD-1 ditempel dan dimodifikasi sehingga program untuk melumpuhkan sel kanker tidak berjalan,” papar dokter dari FKUI-RSCM itu.

Imunoterapi diharapkan dapat melawan semua jenis kanker yang sel-selnya mengekspresikan PD-L1. Untuk menentukan apakah sel kanker mengekspresikan PD-L1, perlu dilakukan pemeriksaan biomolekuler.

Saat ini, obat pembrolizumab yang merupakan penghambat PD-1 (PD-1 inhibitor) menjadi satu-satunya imunoterapi di Indonesia yang sudah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk digunakan terapi kanker paru dan kanker kulit jenis melanoma. Penelitian untuk pengobatan jenis kanker lain masih terus dilakukan.

"Hasil pengobatannya cukup signifikan yang ditandai dengan respons terapi yang lebih baik dan peningkatan angka kesintasan pasien," imbuhnya.

Farmakolog sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Prof dr Iwan Dwiprahasto, menambahkan imunoterapi merupakan terapi biologis yang bertujuan membantu tubuh meningkatkan pertahanan alami dalam melawan kanker.
"Pada dasarnya setiap orang punya imunitas, tapi untuk melawan kanker yang bersarang di tubuhnya, tidak semua orang memiliki imunitas yang cukup, karena itu diberi imunoterapi,” ujarnya. (Nik/H-1)

 

BERITA TERKAIT