Menghubungkan Perantau dan Minangkabau


Penulis: Fathurrozak - 03 June 2018, 03:30 WIB
DOK PRIBADI
DOK PRIBADI

SEBAGAI bagian dari anak rantau dari Minang, Zulkifli Yuanata, mahasiswa lulusan Institut Teknologi Bandung, tak mau terpisah dari akarnya. Semangat itu pun ia sebarkan pada anak-anak muda dan komunitas Minang lainnya.

Sasaran pertamanya, Jakarta, salah satu kota yang paling banyak didatangi perantau Minang. Ide itulah yang kemudian mengantarkan Ikif, panggilan akrab pemuda ini, meraih Gold Winner Asia Young Designer Award (AYDA) 2017 regional Indonesia dalam kategori desain interior. Yuk simak petikan wawancara Muda dengan Ikif!

Saat ikut AYDA 2017, ide apa yang kamu ajukan?

Berawal dari keresahan saya melihat semakin banyaknya perantau Minangkabau ke seluruh daerah di Indonesia. Setelah saya riset, Jakarta merupakan salah satu kota paling banyak yang didatangi perantau Minangkabau.

Saya juga menyayangkan, peranakan Minang yang besar di Jakarta, tidak punya akses edukasi maupun lingkungan Minangkabau sehingga mereka tidak dapat mengetahui kesenian maupun kebudayan Minangkabau.

Untuk komunitas Minangkabau di Jakarta sebenarnya sudah lumayan banyak, mereka terpisah-pisah sehingga saya merasa perlu adanya suatu fasilitas untuk untuk para perantau Minangkabau, komunitas, maupun untuk masyarakat lain yang mau mengenal budaya Minangkabau, dan bisa untuk tempat mempromosikan budaya Indonesia kepada masyarakat luar.

Ketika kamu mewakili Indonesia ke AYDA tingkat Asia, bagaimana kamu mengembangkan ide ini?

Pada tingkat Asia, saya lumayan banyak mengubah konsep karya. Dari Minangkabau Art Centre menjadi Archipelago Theater Indonesia. Karena banyak pertimbangan, saya lebih memilih Archipelago Theatre Indonesia supaya dapat mewakili Indonesia secara eksternal. Namun, untuk archipelago saya lumayan banyak mengubah desain di area lobi.

Secara konsep saya bikin lebih kompleks lagi, ada desain bernama Layers of Indonesia, karena kalau diperhatikan Indonesia terdiri dari banyak layer. Busananya ada batik, kawung, lalu ada lahan sawah terasering, maupun kalau dilihat dari budayanya, banyak terdapat hierarki dalam bahasa.

Saya sangat banyak dapat masukan-masukan dari mentor-mentor. Walaupun pada akhirnya presentasi saya belum terlalu sempurna, tapi sangat banyak mendapat bekal ilmu yang sangat berguna pada yang didapat. Input itu juga sangat berguna saat saya masuk ke dunia kerja seperti saat ini, di salah satu perusahan swasta di bidang arsitektur interior di daerah Jakarta selatan.

Tantangan utama bidang desain interior?

Untuk mencari konsep ide desain itu lumayan susah, perlu mood yang bagus dan biasanya datang di malam hari. Karena susah mendapatkan ide, membuat kita sering begadang, di luar deadline.

Konsep merupakan akar dari desain sehingga kalau konsepnya sudah kompleks, saat mendesain akan mengikuti alur konsep yang kita bikin.

Bagaimana pandangan kamu terhadap perkembangan industri desain interior di Indonesia?

Indonesia memliki potensi dan SDM yang bagus untuk arsitektur maupun desain interior. Namun, untuk saat ini, memang bisa dibilang desain interior dari cabang ilmu maupun dalam dunia pekerjaan, masih di dalam tahap perkembangan.

Belum banyak orang Indonesia yang menghargai cabang ilmu interior, ketimbang negara seperti Singapura, Thailand, Malaysia, dan beberapa negara di Asia. Tapi saya berharap, semoga disiplin ilmu ini semakin berkembang terus, sebelum semakin banyak orang-orang berbakat Indonesia diambil oleh orang luar untuk dipekerjakan di sana.

Bagaimana kamu melihat kualifikasi SDM kita saat AYDA tingkat Asia lalu?

Untuk segi SDM, saya sangat optimistis kita sangat bisa bersaing di Asia. Namun balik lagi, negara kita saja masih banyak yang belum 'menerima' interior.

Di Indonesia, saya merasa kita terlalu banyak batasan untuk desain. Baik dari segi harga, proses pengerjaan dari tukangnya, dan banyak aspek lain.

Menurut saya, kita harus mengubah perspektif orang Indonesia dulu, baru fokus untuk bersaing di kancah Asia. Saya akui, di Indonesia banyak sekali talenta-talenta yang bisa memajukan dunia desain Indonesia.

Ajang kompetisi desain seperti AYDA sangat membantu dong?

Sangat penting untuk pengalaman baru para mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja. Bisa meng-upgrade skill desain kita. Ke depannya mungkin saya akan membuat consultant design sendiri.

Selama ini banyak berkaca dari siapa dalam bidang desain interior?

Untuk dalam negeri, saya sering berkaca dengan dosen-dosen saya di ITB, kalau luar negeri saya sering mendapat inspirasi dari Zaha Hadid, Le Corbusier, Santiago Calatrava, Tadao Ando, dan masih banyak lagi. (M-1)

How To:

Muda ada sedikit tips untuk kamu mahasiswa desain interior, biar jadi bekal kamu. Nih!

1. Maksimal

Ini penting banget lo Muda. Saat kamu diberi tugas dosen, harus kerjakan secara maksimal ya! Jangan malas-malasan.

2. Jangan Asal Selesai

Karena desain-desain yang sudah kita buat pada saat kuliah dengan kuliatas dan konsep yang sudah kompleks pasti akan berguna nanti. Salah satunya, diikutkan lomba, seperti Zulkifli Yuanata, yang menggunakan tugas akhirnya untuk dimasukkan ke Asia Young Designer Award 2017, dan berhasil dapat Gold Winner.

3. Bermakna

Selain untuk dapat nilai, tapi coba deh dipikir lagi. Tugas yang kalian buat sudah punya makna lebih belum, selain bermakna sebagai tugas? Kalau punya makna lebih, ilmu yang kita dapat saat mengerjakan bisa membantu dalam menciptakan ide-ide yang kreatif.

Biodata
Nama: Zulkifli Yuanata
Tempat, tanggal lahir: Padang, 8 Mei 1995
Pekerjaan: Karyawan Swasta dan Freelance Desain Interior
Prestasi: Gold Winner Asia Young Designer Award (AYDA) 2017 kategori desain interior.

BERITA TERKAIT