Luka yang Memberi Arti


Penulis: Fathurrozak - 02 June 2018, 23:30 WIB
MI/GINO F HADI
MI/GINO F HADI

DALAM ruang serba putih, tersorot tiga bidang serupa dipan rumah sakit lengkap dengan roda di kakinya. Di dalam bingkai kaca, tercecer potongan-potongan dengan luka darah.

Beberapa gunting menjadi bukti, seolah potongan-potongan itu baru saja difragmentasi. Dari pekatnya darah, muncul karakter angka dan huruf. Salah satunya menjadi penegasan, 'karnivor'.

Karya garapan Farhan Siki ini merupakan salah satu titik vokal dalam pameran bertajuk Mal di Galeri Kertas Studio Hanafi, Cinere, Jakarta.

Dengan judul Akara Luka No 4 ini, Farhan memvisualkan kepiluan lara, baik secara fisik sekaligus mengguncang jiwa. Manusia yang mudah rapuh dan terluka. Karya bermaterial kertas dan cat semprot ini membawa kita pada ingatan luka tiap personal yang mungkin saja menjadi kosmik general.

Akan tetapi, dalam pameran tunggalnya ini Farhan juga memberikan tawaran atas interpretasinya dalam memaknai masyarakat urban. Luka-luka yang tersebar di beberapa karyanya kali ini ialah sebagai visualisasi rupa bagian dari keanomalian kehidupan urban.

Ia menampilkan sosok wajah urban yang tersisih, cacat, dan gagal, sebagai bagian dari kemanusiaan kita, yang tak selalu bisa presisi seperti keidealan yang diharapkan industri.

Karakter karya alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Jember itu selalu merepresentasikan beberapa nama besar industri dalam semprotan-semprotannya, sebagai sindiran terhadap laku kapitalistik. Seperti yang terlihat dalam kertas berukuran 109 cm x 79,5 cm berjudul Karena Anda. Ia memparadekan deret nama beken industri fesyen, kecantikan, dan tekno.

Pada karya Urban Ruptures, Farhan mengolasekan berbagai dimensi kertas seperti plat-plat menempel di dinding. Kebanalan rupa industri kapitalistik urban bertaut dengan iklan-iklan minor pinggiran, seperti obat kuat.

"Masyarakat kita memang konsumtif. Masalah identitas kelas sosial sering disimbolkan dengan citraan produk, merek, dan sebagainya. Tak heran, industri kapitalisme tumbuh subur di negeri ini. Dia sudah memberikan rujukan suatu kelas, kalau kamu pake ini kelasnya naik. Kita tidak pernah lepas dari itu," imbuhnya seusai seremonial pembukaan, Minggu (28/5).

Sekalipun mengolok kehidupan urban yang bersentral pada pusaran kapitalisme, toh Farhan tidak terjebak pada kontradiksi kenaturalan alam, atau antitesis dari modernisme urban. Ia justru menjadikan kota yang luka itu sebagai jeda dari rutinitas. Refleksi baginya memaknai keseragaman karakter manusianya.

Berlebih

Di antara karya semprotnya ini, juga terselip simbolisme pola pangan dan konsumsi. Beberapa kali tampil di perlambangan garpu. Farhan merefleksikan sibuknya masyarakat kota yang tak mau saling sapa dan mengenal lebih jauh satu sama lain, merupakan kausalitas dari manusianya yang sibuk demi 'cari makan'.

"Memang orang-orang urban itu kenapa dia bekerja keras pergi pagi pulang sore? Jawabannya apa? Ya, cari makan."

Akan tetapi, lelaki kelahiran 17 Juli 1971 di Lamongan, Jawa Timur itu tak berhenti di situ. Menurutnya pula manusia urban telah bergeser dari tujuan fungsi dasar dalam menggapai sesuatu. Bukan lagi bersandar pada fungsi, melainkan hal-hal yang melekat sebagai pelengkap fungsi.

Katakanlah, mungkin kita kini makan bukan sekadar untuk kenyang, melainkan juga demi enak, demi 'ngeksis' hingga berujung prestis. Begitu pula kendaraan, fesyen dan teknologi yang kita kenakan, semua berlebihan.

BERITA TERKAIT