Batam Kini dan Lalu


Penulis: SURYANI WANDARI - 27 May 2018, 03:30 WIB
img
MI/SURYANI WANDARI

DARI atas ketinggian sekitar 3.000 kaki di atas permukaan laut, saat pesawat yang saya tumpangi akan mendarat di Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau, mata ini tertuju pada keindahan jembatan yang berdiri kokoh di bawah sana.

Kaki-kakinya menancap pada tanah di dua pulau yang saling berseberangan. Tiang-tiang penyangga dengan kabel besi berukuran besar yang menjulang ke atas, berada lebih tinggi daripada bangunan lainnya. Bernama Jembatan Balereng, mungkin tak asing lagi bagi penduduk lokal, pasalnya jembatan ini sudah dibangun sejak 1992 dan selesai pada tahun 1998, menghubungkan pulau Batam dan pulau Tonton.

Bahkan jembatan megah ini dijadikan sebagai ikon program Visit Batam 2010 yang merupakan salah satu dari enam rangkaian jembatan dengan panjang keseluruhan mencapai 2.264 meter. Jembatan-jembatan itu menghubungkan pusat kota ke kepulauan-kepulauan di Riau ini.

Tak ingin hanya melewati jembatan dengan nama lain jembatan Tengku Fisabilillah ini, saya bersama rombongan dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar),  mampir juga ke taman di salah satu ujung jembatan, tentunya buat berfoto.

Pesta diskon
Daya tarik ini pun dikenalkan Kemenpar dalam program Hot Deals Kepri 2018 bertema ‘Hot deals 365 everyday is hot deals offers in batam and beyond’, di Planet Holiday Hotel & Residence Batu Ampar Batam, Kamis (19/4).

Tujuan kegiatan ini, untuk menjaring lebih banyak turis dari Singapura dan Malaysia ke Batam dan Bintan Kepulauan Riau dengan aneka diskon yang ditawarkan. “Kunci sukses uji coba hot deal di Kepri adalah dengan memberikan diskon besar. Maka, tahun ini harus kita tingkatkan akselerasinya melalui 500 ribu paket,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Untuk mendukung itu, pada 2018 Kepri akan mengadakan sekitar 140 event yang didukung fasilitas 210 hotel, 564 restoran, dan 372 jasa hiburan. Sementara itu, untuk aksesibilitas, Kepri memiliki 9 pelabuhan internasional serta 1 bandar udara internasional.

Buddha yang tersenyum
Lanjut berwisata ke tempat lainnya, kami memilih mendatangi Maha Wihara Duta Maitreya yang konon rumah ibadah Buddha terbesar se-Asia Tenggara yang berada di Bukit Beruntung, Sei Panas, Batam Center yang tak jauh dari pusat kota.

“Buddha Maitreya menggambarkan sosok dan salah satu aliran dalam Buddha yang dikenal penuh cinta kasih dan selalu tersenyum sehingga orang-orang yang datang ke sini diharapkan selalu berbahagia,” kata Riandu, aktivis wiraha yang menyambut dan memandu kami. Tidak mau penasaran dengan wujud luarnya, kami masuk untuk tahu lebih dalam.

Beberapa langkah sebelum menuju pintu, beberapa orang tengah beribadah dengan membakar 5 buah dupa merah mudanya, lalu menancapkannya pada guci besar. Menurut Riandu, dupa yang disediakan bagi pengunjung itu pun dibuat sendiri oleh wihara. “Di belakang bangunan tempat ibadah ini terdapat tempat pembuatan dupa yang ramah lingkungan, kami pun mendaur ulang sampah di sini,” kata Riandu.

Makan siang autentik
Memiliki letak geografis dekat dengan lautan, kami sepakat untuk makan siang di tempat yang tak biasa, bahkan cenderung unik. Kendaraan yang kami tumpangi mengarah ke Kelong Restaurant 188 Citra Utama. Jika mengharapkan sebuah restoran mewah dengan pendingin udara dengan latar instragramble, lupakan saja.

Di sini malah menyajikan pemandangan yang berbeda, rumah makan ini mengapung di atas laut, orang Batam menyebutnya kelong atau bilah-bilah bambu yang dipasang sekat atau kurung untuk menangkap ikan.

Soal hidangan, tentu saja kami memilih seafood dengan beragam jenis masakan, ada ikan kakap dan asam pedas, udang lada hitam, sotong goreng tepung hingga gonggong yakni semacam keong laut yang direbus dan disajikan bersama dua jenis sambal cocol, sambal hijau dan merah yang membantu mengurangi aroma amis, sedap!

Kampung Terih
Masih ada waktu sebelum hari mulai petang, kami melanjutkan berwisata yang memakan perjalanan 30-45 menit ke arah Nongsa. Menyusuri jalan berbukit, kami pun sampai ke Kampung Terih, terletak di Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa.

Cukup dengan membayar uang masuk Rp5.000, kami dapat menikmati keindahan destinasi baru hasil kreasi Generasi Pesona Indonesia (Genpi) yang cocok untuk dunia digital, berupa pantai dan hutan mangrove. Sesuai dengan namanya, destinasi ini berada di kampung sederhana, pemukiman warga melayu pesisir dengan suguhan pemandangan aktivitas para nelayan. Nama terih diambil dari bebatuan yang ada di sekitaran pantai, pipih berwarna merah.

Dibatasi laut dangkal, posisinya berhadapan langsung dengan Batam Centre. Tepat di depan jalan masuk, terdapat jembatan kayu yang menjorok beberapa meter ke tengah laut, ada perahu-perahu nelayan yang sedang bersandar di sana. Lokasi ini pun jadi favorit swafoto.

Perawatan penyu
Meski baru diresmikan pada akhir 2017, Pantai Terih sudah banyak menarik wisatawan, didominasi turis Singapura yang jaraknya tak begitu jauh. “Dibuka 5 November silam hingga bulan Maret, tercatat sudah ada pengunjung sampai 24 ribu lebih, kebanyakan dari Singapura dan Malaysia,” kata pria yang akrab dipanggil Sanca itu.

Di kawasan ini juga ada lokasi penyelamatan satwa penyu yang sering terjaring warga, yakni penyu hijau dan penyu sisik, keduanya dilindungi. Penyu-penyu ini dirawat sebelum nantinya dilepas liarkan. Jadi, mari ke Batam! (M-1)

BERITA TERKAIT