Kebun Produktif di Ruang Publik


Penulis: FATHURROZAK - 27 May 2018, 02:30 WIB
img
DOK PRIBADI

BERBEKAL tugas akhir kuliahnya di Universitas Gadjah Mada yang disarankan sang dosen untuk ikut kompetisi desain arsitektur, ia berhasil menjadi juara nasional dan mewakili Indonesia dalam kompetisi Asia Young Designer Award (AYDA) Nippon Paint tahun lalu.
Alfian Reza AlMadjid menawarkan gagasannya mengenai penggabungan konsep pertanian dengan kehidupan urban, kemudian dieksplorasi lebih jauh saat proses mentoring dan diskusi dengan teman-teman kampus lintas disiplin ilmu, mulai arsitektur, teknik sipil, dan pertanian. Kini, ia berkarier sebagai arsitek junior di sebuah konsultan. Yuk simak bagaimana kisahnya menyodok posisi kedua tingkat Asia AYDA dan mencuri tipsnya untuk kamu yang tertarik mengikuti AYDA tahun ini.

Boleh diceritakan dong, proses saat kamu mengikuti AYDA tahun lalu?
Aku memakai karya tugas akhirku karena sesuai dengan tema saat itu,  You for Tomorrow. Diedit-edit sedikit, terus dikirim, eh tahunya lolos final nasional.
Lalu, ada coaching session dari para juri. Dari yang awalnya mikir desainku udah stuck dan enggak bisa diapa-apain lagi, di situ dibahas serius dan baru sadar ternyata masih bisa banyak dikembangkan. Aku dapat dua kategori Gold Award dan Alumni’s Choice Award.

Bagaimana kamu mengakomodasi unsur efisiensi energi dan ramah lingkungan ke dalam ide kamu?
Desainku terinspirasi dari pola pertanian tradisional, jadi aku banyak menggunakan pencahayaan alami, passive cooling, juga peng­olahan dan pemanfaatan limbah. Aku juga mengintegrasikan kegiatan pertanian dengan fungsi lain seperti komersial dan restoran sehingga bisa memangkas rantai distribusi pangan dan mengurangi jejak karbon.

Dari mana kamu dapat referensi ide?
Karena diambil dari tugas akhir, jadi aku banyak cari literatur dan lihat beberapa desain dari arsitek-arsitek top dunia seperti OMA, MVRDV, dan SANAA. Aku juga banyak diskusi sama dosen dan sempat wawancara ke beberapa praktisi.

Menurut kamu, konsep desain hijau dalam arsitektur itu bagaimana?
Green architecture tentu tidak terlepas dari bagaimana desain kita bisa menghemat energi, meminimalisasi limbah buangan dan yang menurutku paling penting, desain kita bisa memberi inspirasi dan dampak positif pada sekitar, baik lingkungan, maupun masyarakat. Baik untuk saat ini maupun untuk masa depan.

Ceritakan dong tentang ide kamu yang jadi juara ini?
Judulnya Pixellate Farm, aku berpikir cara membawa kembali pertanian ke kehidupan urban, mengenalkannya kepada generasi mendatang, tanpa kehilangan esensi dan suasana alaminya.
Jadi aku bikin agricultural park bernama Pixellate Farm itu. Aku menekankan pada desain yang mengintegrasikan proses pertanian dan fungsi-fungsi perkotaan seperti komersial, hiburan, dan pembelajaran. Desain bangunan dan kawasannya dibuat modular seperti pixel untuk merespons perubahan kebutuhan masyarakat kota yang dinamis.
Tentu masih sangat konseptual dan perlu banyak pertimbangan jika ingin benar-benar dibangun. Setidaknya aku ingin menyampaikan gagasanku kepada orang-orang, meskipun di perkotaan dan di kehidupan modern, kita bisa kok hidup berdampingan dengan alam, khususnya pertanian, yang sejatinya kita tidak bisa hidup tanpanya.  

Kamu menjadi pemenang AYDA 2017 regional Indonesia dan bersaing di Asia. Pengalaman apa yang kamu dapat?
Banyak banget, selain mengunjungi tempat-tempat keren karya para arsitek, aku juga bisa kenal dan berbagi cerita dengan para finalis dari negara lain. Paling berkesan sih mendengar komentar para juri regional setelah presentasi final. Rasanya lega banget, apalagi saat itu aku presentasi urutan pertama dari sekitar 20-an presenter regional. Menurut para juri sih, aku masuk peringkat 2. Beda tipis dari yang juara 1.

Di AYDA juga ada mentoring, apa saja sih yang diberikan oleh para ahli?
Banyak banget, mulai dari masukan dari segi desain sampai cara presentasi yang baik dengan waktu terbatas. Bahkan, saat di regional Asia, para mentor Indonesia bareng-bareng datang langsung ke kamar hotel kami dan ikut mempersiapkan presentasi sampai jam 1 malam.

Apa yang paling signifikan memengaruhi visi kamu dalam arsitektur, setelah bertemu dengan peserta dari negara lain dan mendapat bimbingan dari ahli?
Tentu wawasanku semakin terbuka setelah banyak melihat karya-karya peserta lain dan presentasi beberapa pembicara yang sudah berpengalaman di dunia arsitektur. Dari situ, aku jadi semakin bersemangat untuk bisa terus berkarya dan menghasilkan ide-ide kreatif.
Meskipun perjalanan masih sangat panjang, aku yakin suatu saat bisa benar-benar menjadi arsitek dan memberi kontribusi positif pada masyarakat luas.

Menurut kamu, ajang seperti AYDA ini seberapa penting untuk mahasiswa? Mengapa?
Penting banget. Terutama untuk mahasiswa-mahasiswa yang memiliki pemikiran-pemikiran kreatif dan ingin menyuarakan gagasan.
Terkadang kita merasa tidak percaya diri pada desain kita hanya karena tidak cocok dengan dosen di kampus. Apalagi kalau desain kita aneh-aneh. Padahal jika terus digali, dengan banyak masukan dari para juri, bisa jadi desainmu ialah jawaban atas permasalahan saat ini. Siapa yang tahu?

Mimpi kamu selanjutnya apa nih?
Sejauh ini aku masih ingin menjadi arsitek. Meskipun kata orang berat, kita yakin dengan pilihan kita dan ingin terus belajar rasanya tidak ada yang tidak mungkin. Yang jelas aku ingin terus berkarya dan membuat desain-desain yang bisa memberi dampak positif terhadap masyarakat luas. Karena menurutku setiap orang layak mendapatkan desain yang baik. (M-1)

 

BERITA TERKAIT