Berbeda tapi Bersahabat


Penulis: SURYANI WANDARII - 27 May 2018, 02:00 WIB
MI/WANDARI
MI/WANDARI

INSTRUMEN musik lagu itu terdengar, setelah bel tanda masuk, para siswa kelas 3 SD Tunas Metropolitan, Tangerang, Banten, pun menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini dan dilanjutkan dengan Indonesia Pusaka. Suasana nasionalisme inilah yang sengaja dibangun oleh ibu Vidi Yulia Lestari, wali kelas 3 SD Tunas Metropolitan, Kamis, (17/5), untuk mengingatkan bahwa kita bersatu meskipun berada dalam keberagaman agama, suku, dan budaya.

Setiap kelas di sekolah ini terdiri dari beragam agama loh. Sikap toleransi pun telah dibangun untuk menjaga kebersamaan di antara mereka dalam satu pelajaran khusus bernama mata pelajaran leadership character and enterpreneurship (LCE) atau yang dikenal oleh gurunya sebagai pembentukan karakter. Di sekolah kamu ada program serupa sobat?

Kita sama
Sobat, tahukah kamu peristiwa yang terjadi belakangan ini, yakni serangan di Surabaya. Menyikapi hal ini, pak Jamaludin, guru bahasa Indonesia SMP Tunas Metropolitan, mengatakan, “Pada hakikatnya agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan, jadi tidak ada kaitan antara agama dan aksi terorisme.”

Pak Jamal, begitu sapaan akrabnya, memang menjadi narasumber dalam pelajaran LCE hari itu. “Di setiap kelas, pelajaran ini digelar seminggu sekali selama satu jam mata pelajaran atau 35 menit,” kata Shanti Widiawati, Kepala SD Tunas Metropolitan. Pelajaran ini memang tidak ada modul, buku pelajaran, dan sebagainya.

Pelajaran bisa bervariasi tergantung gurunya, lebih banyak pula menghadirkan narasumber dari luar seperti orangtua yang menjadi TNI, polisi, dan sebagainya, untuk mengajarkan suatu profesi. Kali ini LCE khusus mengajarkan anak-anak untuk bertoleransi kepada temannya yang berasal dari latar belakang yang beragam.

Saling menghargai
Setelah pelajaran LCE usai di jam pertama kelas, seluruh siswa beranjak bangun dan mempersiapkan perlengkapan salat. Bagi siswa muslim mereka melakukan salat Duha berjamaah di sebuah kelas, sedangkan siswa non-muslim seperti Kristen, Katolik dan Buddha, berkumpul pula untuk melakukan kegiatan Bina Iman.

“Bina Iman isinya mengkaji kitab, meskipun membahas satu kitab, tapi pesan yang disampaikan sama, mengajarkan kebaikan sehingga bisa diamalkan semua agama,” kata bu Shanti.

Seperti kali itu, Bina Iman yang dipimpin pak Yoakim Lawa, guru agama Khatolik ini membahas pasir dan batu. Pasir ialah benda yang mudah hancur, sedangkan batu yang keras yang mengibaratkan diri kita. Ada yang tahu artinya? “Ya, kita harus menjadi batu yang keras dalam belajar, bekerja dan berusaha,” kata pak Yoakim.

Karena kami beragam
Bukan hanya sekadar materi yang didapatkan loh sobat, nilai-nilai keberagaman pun telah mereka tanamkan di dalam diri mereka loh, seperti menghargai seseorang yang berbeda agama. “Saya bersahabat dengan muslim, di bulan Ramadan ini saya menghargainya dengan tidak makan di hadapannya.

Meskipun kami berbeda agama, tapi kami bersahabat dengan baik,” kata Sarah, kelas 3 yang beragama Kristen. Bukan hanya Sarah, ada pula Calista yang hidup berdampingan dengan saudara dari ayahnya yang beragama Konghucu. “Ayahku sudah masuk Islam, bagi kami, yang penting doa yang kita panjatkan baik,” kata Calista. (M-1)

 

BERITA TERKAIT