Batik Aromatherapy Al Warits Hilangkan Kesan Kotor


Penulis:  (Eno/H-2) - 25 May 2018, 02:45 WIB
MI/GILANG PRAKASA
MI/GILANG PRAKASA

SELAIN kain tenun, produk tradisional lain yang mulai memanfaatkan teknologi untuk memasarkan produknya ialah Batik Aromatherapy Al Warits.

Batik aromaterapi ialah buah karya anak muda asal Madura bernama Warisatul Hasanah. Kisahnya dimulai saat Warisatul melakukan perjalanan ke Australia dalam rangka menghadiri Auditing Student Program. Kampusnya mengutus Warisatul untuk belajar bisnis internasional selama 10 hari. Pada saat itu ia tengah duduk di bangku semester 2.

Warisatul mengamati museum yang ada di Australia. Namun, tidak ada yang memajang batik sebagai oleh-oleh khas Indonesia. Di sana hanya terpampang kayu cendana. Kemudian, Warisatul bertanya kenapa tidak ada batik? Jawaban orang Museum Australia, yakni karena proses pembuatan batik menjijikkan dan kotor, sedangkan kayu cendana wangi.

Dari situlah Warisatul memutar otak bagaimana caranya agar batik dapat diterima. "Jika batik bisa mengeluarkan aroma wangi, pastilah bisa diterima," begitu pikir Warisatul saat itu. Sekembalinya ia ke Tanah Air, Warisatul berdiskusi dengan dosen kampusnya dan mendapat dukungan untuk membuat batik aromaterapi.

Aroma wangi dari kain batik menggunakan minyak Camplong khas Madura dengan teknik perendaman sebanyak 4 kali sehingga aroma wanginya menyatu dengan kain dalam waktu yang lama. Semakin lama proses pengaromaterapiannya, semakin lama wanginya bertahan.

Wangi yang bertahan
Ya, Al Warits adalah batik aromaterapi yang mengeluarkan aroma wangi-wangian rempah dan bunga yang berasal dari kain batiknya. Aroma wangi dari kain batik menggunakan minyak Camplong khas Madura dengan teknik perendaman sebanyak 4 kali sehingga aroma wanginya menyatu dengan kain dalam waktu yang lama. Semakin lama proses pengaromaterapiannya, semakin lama wanginya bertahan. Aroma wangi ini bertahan 1 bulan hingga 4 tahun meski batik sudah dicuci berulang-ulang.

Al Warits Batik Aromatherapy terdiri atas batik tulis dan batik cap. Batik aromaterapi ini berupa kain dengan panjang 1,2 meter x 2,25 meter. Harganya dibanderol antara Rp500 ribu hingga Rp30 juta. Variasi produk lain yang dijual ialah hijab dan peci. Omzet yang didapat Al Warits bisa mencapai Rp1 miliar per tahun. Dalam sebulan, kapasitas produksi Al Warits mencapai 4.000 kain batik.

Al Warits juga memberdayakan 50 perajin batik di Kampung Tanjung Bumi, Madura, dengan upah minimal Rp2 juta per perajin per bulan. Selain upah, Warisatul juga membayarkan perajin iuran BPJS kesehatan, serta membayarkan iuran BPJS Ketenagakerjaan bagi karyawan.

BERITA TERKAIT