Pengembang Cenderung Menahan Harga


Penulis: Ghani Nurcahyadi - 21 May 2018, 23:45 WIB
ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

KONDISI politik yang kian memanas seiring dengan penyelenggaraan pilkada serentak tahun ini dan dimulainya tahapan Pemilu 2019 serta kondisi perekonomian yang dipengaruhi melemahnya rupiah membuat pengembang properti saat ini cenderung menunda kenaikan harga.

Associate Director Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan saat ini perhatian terbesar para pengembang ialah serapan pasar yang cenderung belum terlalu tinggi. Hal itu membuat pengembang pun melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan serapan tersebut, salah satunya dengan cara menahan harga.

"Kecenderungannya memang menahan harga saat ini karena secara umum pengembang lebih menaruh perhatian pada volume penjualan. Jadi, bagaimana penjualan bisa meningkat dengan kondisi agak sulit saat ini. Kalau perlu, malah pengembang memberikan diskon tambahan," kata Ferry kepada Media Indonesia, kemarin.

Beberapa proyek infrastruktur yang akan segera rampung pada tahun ini pun, menurut Ferry, belum menjadi faktor pendorong kenaikan harga properti pada 2018. Menurutnya, proyek infrastruktur hanya akan menjadi katalis atau nilai tambah bagi produk properti dari para pengembang sebelum benar-benar menjadi faktor pengerek harga.

Sejumlah proyek properti yang menurut Ferry akan terkerek harganya tahun ini ialah proyek properti yang menggunakan material impor berteknologi tinggi. "Tapi itu pun kalau mereka membelinya setelah kurs dolar naik, kalau sudah dibeli sebelum kurs dolar naik, tidak akan berefek apa-apa terhadap harga properti," ujar Ferry.

Secara terpisah, Ketua Umum Persatuan Realestat Indonesia, Soelaeman Soemawinata, menegaskan pengembang saat ini memang masih menunggu reaksi kondisi perekonomian terakhir, terutama setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan ke level 4,5% sebagai upaya menjaga nilai tukar rupiah.

Salah satu hal yang jadi perhatian pengembang ialah kredit konstruksi. Soelaeman berharap perbankan tidak buru-buru menaikkan kredit konstruksi mereka yang kini masih berada jauh di atas suku bunga acuan Bank Indonesia. Hal itu dimaksudkan agar pengembang bisa 'bermanuver' di tengah kondisi perekonomian terakhir.

"Kita terus mengimbau anggota (REI) untuk terus mengeluarkan produk mereka ke pasar untuk memacu kegairahan. Saat ini dampak dari segi harga memang belum terlihat, tapi kita kan tidak tahu nanti setelah ada penyesuaian di perbankan. Kita ingin sih ada keberpihakan," ujar pria yang akrab disapa Eman tersebut.

Nilai tambah

Terkait dengan pembangunan infrastruktur, Direktur Operasional PT Timah Karya Persada Properti, Eko Budisantoso, mengatakan pembangunan infrastruktur bukan menjadi satu-satunya faktor pendorong kenaikan harga. Berdirinya bangunan justru menjadi faktor terbesar dalam tren kenaikan harga proyek properti.

Di Familia Urban, kawasan hunian yang dikembangkan Timah Properti di kawasan Bekasi Timur, misalnya. Meski kompleks perumahan seluas 176 hektare itu dekat dengan sejumlah proyek infrastruktur, terutama dari aspek transportasi seperti kereta ringan (LRT) dan tol bertingkat (elevated toll), kenaikan harganya didorong penyelesaian fase pertama pembangunan.

"Untuk saat ini hunian di Familia Urban dipasarkan mulai harga Rp500 jutaan. Kami yakin, di harga ini akan mampu diserap pasar, baik itu end user maupun investor. Dari sisi investasi, harga hunian di Familia Urban ini telah meningkat sekitar 15% dari sejak awal dipasarkan pertengahan Februari 2017 yang lalu. Tentu ini sangat menguntungkan," tandasnya.

(S-1)

BERITA TERKAIT