Merayakan Air sebagai Sumber Kehidupan


Penulis:  (AT/M-4) - 20 May 2018, 05:00 WIB
img
MI/PIUS ERLANGGA

GESEKAN biola mengalun lembut membuka konser malam itu lewat komposisi pertamanya berjudul Sungai Moldau karya Berich Smetana. Penonton hening seolah terhipnosis dengan musik yang dimainkan.

Komposisi tersebut merupakan komposisi kedua, setelah Indonesia Raya, yang dimainkan Jakarta City Philharmonic (JCP) bertajuk Tirta, Rabu (16/5) malam di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Konser JCP malam itu merupakan konser bulanan yang kedua pada tahun ini. JCP adalah proyek bersama Badan Ekonomi Kreatif dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang konser perdananya diadakan pada November 2016.

Aditya Pradana Setiadi selaku musikolog menceritakan, Tirta merupakan bahasa Sanskerta yang berarti air suci. Pemaknaan terhadap air sebagai sumber hidup makhluk di bumi pun beragam, sesuai dengan kebudayaan dan kebiasaan.

Musisi pada era romantik mulai membuat terobosan baru menciptakan komposisi musik tentang keindahan alam, puisi, dan perasaan manusia. Hal itu berbeda dengan era sebelumnya, era klasik, yang menciptakan musik untuk musik.

Komposisi Sungai Moldau misalnya, jelas mengilustrasikan aliran air yang lugas. Smetana sang kreator menyelipkan 'rekaman' lanskap dan soundscape tentang keramaian pernikahan di suatu perdesaan, para pemburu yang sedang berpesta, hingga suara riak air di jeram.

Pada komposisi kedua, JCP dengan Budi Utomo Prabowo sebagai pengaba menampilkan Konserto untuk terompet dan orksetra karya Alexander Arutiunian. Sebagai peniup terompet, Eric Awuy pun tampil ke atas panggung.

Musik yang ditampilkan sangat dipengaruhi melodi dan ritme musik rakyat Armenia, bahasa musik Rutiunian. Walau demikian, semua melodi yang terkandung dalam Konserto ini sangat orisinal, tidak meminjam elemen lagu rakyat mana pun.

Pada dua komposisi terakhir setelah jeda 15 menit, JCP menampilkan karya Anak Perahu karya Mochtar Embut yang diaransemen Budi Utomo Prabowo dan Lautan (La Mar) karya Claude Debussy.

Pada Anak Perahu karya Mochtar Embut mengilustrasikan banjir di Jakarta pada 1960-an. "Nuansa bening dan simbolistis musiknya menjadi catatan tersendiri bahwa banjir sebagai bencana, merupakan upaya alam dalam mencari titik ekuilibriumnya," tulis Aditya.

Dimainkannya karya Mochtar Embut tersebut menjadi bentuk komitmen JCP untuk menghadirkan karya musik simfoni anak bangsa pada setiap edisi pementasan.

Karya Claude Debussy sengaja ditempatkan pada penampilan penutup sekaligus untuk mengenang mendiang yang hidup dari 1862 hingga 1918. Karya Debussy yang dalam bahasa Prancis, La Mer merupakan salah satu karya orkestra nonsimfoni yang paling terkenal yang pernah ditulis.

Mengutip teoritikus musik Blair Johnston, La Mer tidak sekadar mengangkat deskripsi alam dalam tata musikal, tetapi juga sebuah representasi sonik akan bunga rampai pemikiran, suasana hati, serta reaksi insting esensial yang dapat dijangkau samudra dari jiwa seorang individu.

BERITA TERKAIT