Awal Ramadan, Ganjar Pranowo Memilih Ngabuburit ke Panti Asuhan Ketimbang Kampanye


Penulis: Haryanto - 18 May 2018, 21:54 WIB
img
ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho

GUBERNUR Jawa Tengah nonaktif Ganjar Pranowo menghabiskan dua hari pertama Ramadan dengan beristirahat dari aktivitas kampanye. Dia memilih ngabuburit dengan olahraga bersepeda berkeliling Semarang.

Rute ngabuburit pada Jumat (18/5) dimulai dari rumah kontrakan Ganjar di Jalan Tengger Timur Raya, Gajahmungkur. Rombongan melintasi Jalan Sultan Agung, Taman Gajahmungkur, Tumpang, Kelud, Basudewo, dan Indraprasta.

Dari Indraprasta, gowes berbelok ke Jalan Brotojoyo, melintasi SMK Jawa Tengah kemudian menuju Jalan Srikandi. Rupanya Ganjar dan klub sepeda Samba bermaksud mampir di Panti Asuhan Aisyiyah.

Pria kelahiran Tawangmangu, Karanganyar itu tiba di panti asuhan yang terletak di Jalan Srikandi X/61 Plombokan, Semarang Utara itu pukul 17.00 WIB.

Kedatangan Ganjar disambut pengasuh panti yaitu pasangan Jazuli, 62, dan Harimastuti, 55. "Monggo silakan masuk, wah kejutan niki pak gub (gubernur)," kata Jazuli.

Ganjar mengobrol dengan Jazuli dan Harimastuti tentang kondisi panti di tengah kampung itu.

Panti tersebut berdiri pada 11 Oktober 1989. Kala itu Jazuli purnatugas sebagai pegawai negeri sipil (PNS) Departemen Agama.Kini ada sekitar 40 anak yang tinggal di panti bercat biru tersebut bersekolah. "Ada tiga yang kuliah di Udinus (Universiats Dian Nuswantoro)," kata Harimastuti.

Sebelum berpamitan, Ganjar menyempatkan membuat vlog. Dalam vlognya ia mendoakan anak-anak panti mampu mencapai cita-cita masing-masing.

Jazuli menyampaikan terima kasih atas kedatangan Ganjar. "Kami tadi sama pak gub mengobrol tentang anak-anak. Pak Gub mendoakan mereka jadi orang berhasil. Pesan dari pak Gub tadi supaya para pengasuh memberi pelajaran etika dan sopan santun," tutur Jazuli.

Ganjar mengatakan, kedatangan rombongan klub sepedanya sekadar menunaikan tradisi klub. Selain tur keliling kota rutin, klub Samba punya tradisi menyisihkan rezeki dari anggota. Hasilnya dijadikan santunan ke pondok pesantren, keluarga miskin, dan panti asuhan.

Setiap Ramadan, gowes yang biasanya pagi hari dipindah jadi sore hari. "Kami punya tradisi yang bagus. Mereka punya kegiatan ke pondok pesantren, ke panti asuhan, sekaligus olahraga. Jadi kalau dulu olahraganya pagi sekarang pindah ke sore," kata Ganjar. (A-1)
 

BERITA TERKAIT