Wajar, Tuntutan Hukuman Maksimal Aman Abdurrahman


Penulis: Dero Iqbal Mahendra - 18 May 2018, 18:55 WIB
img
AFP PHOTO / BAY ISMOYO

MENYIKAPI tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum dalam sidang lanjutan terdakwa kasus terorisme Aman Abdurrahman, Ketua Setara Institute Hendardi memandang bahwa hal tersebut wajar dilakukan. Terutama bila melihat sepak terjang dari Aman dalam sejumlah aksi teror.

"Saya kira itu wajar saja, karena memang dia terlibat dalam beberapa aksi teror. Belum lagi yang peristiwa belakangan ini belum diproses juga," terang Hendardi saat dihubungi Jumat (18/5).

Bahkan menurutnya dalam kasus yang melibatkan Aman tersebut menjadi suatu kewajaran jika tuntutannya adalah tuntutan maksimal. Salah satu sebabnya adalah mengingat orang seperti Aman yang merupakan yang merupakan tokoh dari aksi aksi terorisme.

"Jadi saya kira kalau tuntutannya segitu wajar lah, dan memang saya kira kita harus memberikan tuntutan yang maksimal untuk kasus ini," lanjut Hendardi.

Meski begitu dirinya menekankan bahwa tuntutan hukuman mati tersebut adalah kewenangan JPU dan belum merupakan putusan hakim. Hendardi sendiri mengaku secara prinsip tidak begitu setuju dengan hukuman mati, namun putusan vonis hukuman mati atau tidak sepenuhnya adalah kewenangan dari Hakim.

Hendardi mengaku lebih setuju jika hukumannya tetap hukuman maksimal, namun bukan sebagai hukuman mati. Dengan menerapkan hukuman maksimal tanpa hukuman mati, sebetulnya sejalan dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM).

"Tidak ada statistik yang mencukupi yang menunjukkan bahwa hukuman mati itu membuat kegiatan atau aksi aksi kriminal terorisme ini berkurang. Hukuman maksimal disini artinya bisa dalam arti tanpa remisi dan pengurangan hukuman," terang Hendardi.

Namun ketika ditanyakan apakah dirinya sepakat bahwa hukuman mati adalah hukuman yang layak bagi teroris. Hendardi menjelaskan bahwa hukuman mati merupakan salah satu jenis hukuman yang masih dianut di Indonesia, namun untuk vonis hukuman dari Aman dirinya mengaku tidak sepakat jika vonisnya adalah hukuman mati.

Sebagaimana diketahui Aman merupakan terduga pelaku serangan teror bom Thamrin. Aman dianggap bertanggung jawab dalam aksi teror yang menewaskan sejumlah orang, serta dalang serangan lainnya di Indonesia dalam rentang waktu sembilan tahun terakhir.

Pada 2008, Aman disebut kerap memberikan ceramah atau kajian disejumlah kota, seperti di Jakarta, Surabaya, Lamongan, Balikpapan, dan Samarinda. Materi ceramah Aman diambil dari buku seri materi tauhid yang dikarang olehnya yang berisi pemahaman tentang demokrasi.

Pada 2009, selama mendekam di Lapas Nusakambangan atas kasus pelatihan militer di Aceh, Aman diketahui tetap dikunjungi oleh para pengikutnya dan memberi ceramah. Dari balik jeruji besi itu, Aman juga diketahui membaiat para pengikutnya dan membentuk Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Pada November 2014 Aman meminta pengikutnya untuk melaksanakan sejumlah aksi teror serupa dengan yang terjadi di Paris, Prancis. Aksi itu diklaim Aman perintah dari pimpinan khilafah Suriah. (A-5)

BERITA TERKAIT