Pemerintah Yakin Penaikan Suku Bunga tidak Tekan Pertumbuhan


Penulis: Tesa Oktiana Surbakti - 18 May 2018, 16:55 WIB
img
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memandang penaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI 7-Day Reserve Repo Rate/7DRRR) sejalan dengan perkembangan ekonomi global yang memasuki era baru. Penaikan BI 7DRRR juga diyakini tidak akan menekan pertumbuhan ekonomi nasional.

"Memang seluruh dunia naik (suku) bunganya. Semua akan menyesuaikan diri (termasuk ekonomi domestik). Artinya dengan suku bunga acuan yang lebih tinggi itulah new normal. Normalnya (negara) lain juga begitu," ujar Darmin saat ditemui di kantornya, Jum'at (18/5).

Sebelumnya, Bank Indonesia mengisyaratkan penaikan BI 7DRRR sebanyak 25 basis poin (bps), dari 4,25% menjadi 4,5%, berpotensi memengaruhi proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik.

Darmin mengatakan dampak kenaikan suku bunga acuan kemungkinan besar hanya terjadi di awal pasca kebijakan baru berlaku. Setelahnya, kondisi ekonomi nasional akan beradaptasi dengan tren peningkatan suku bunga.

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018, pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 5,4%. Sektor riil atau dunia usaha, kata pun diyakini Darmin tidak akan langsung terdampak. Keniscayaan itu turut mempertimbangkan kecenderungan sektor perbankan yang tidak serta merta melakukan penyesuaian tingkat suku bunga kredit.

"Tidak otomatis naik juga tingkat suku bunga kredit. Kalaupun naik ya proporsional juga lah, enggak harus sama naik 25 bps," pungkas Darmin.

Darmin menegaskan pemerintah berupaya mengawal dampak penaikan suku bunga acuan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Di antaranya melalui simplifikasi perizinan berikut memangkas regulasi yang menghambat.

Pemerintah pun mengeluarkan berbagai insentif fiskal untuk menggairahkan iklim investasi. Misalnya, pembaruan fasilitas pembebasan pajak penghasilan (PPh) badan atau tax holiday dan penurunan tarif PPh final usaha kecil dan menengah (UKM) menjadi 0,5%.

"Ya kami mendorong melalui penyederganaan perizinan dan insentif fiskal. Kami sudah siapkan kok. Tinggal launching saja dalam beberapa hari lagi. Artinya pemerintah sudah menyiapkan diri," tutur Darmin.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16-17 Mei 2018 telah memutuskan untuk menaikkan BI 7DRRR menjadi 4,50%. Demikian pula suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility sebesar 25 bps menjadi masing-masing 3,75% dan 5,25%.

Kebijakan yang efektif berlaku per 18 Mei 2018 itu merupakan bauran kebijakan BI untuk menjaga stabilitas perekonomian di tengah berlanjutnya peningkatan ketidakpastian pasar keuangan dunia dan penurunan likuiditas global.

Semestinya kebijakan anyar tersebut mulai berkontribusi memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, sehingga kembali mendekati fundamentalnya. Namun menilik kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) per 18 Mei 2018, nilai tukar yang tercatat  14.107 per dolar AS masih belum memperlihatkan tren menguat.

Depresiasi kurs yang berlanjut berpotensi menghambat laju pertumbuhan ekonomi nasional. Terhadap kondisi kurs, Darmin enggan untuk berkomentar. "Saya tidak mau komentar dulu lah," katanya seraya tertawa.(A-2)

BERITA TERKAIT