Kemenristek Dikti Targetkan Publikasi Ilmiah Indonesia Rajai ASEAN Tahun Depan


Penulis: Syarief Oebaidillah - 17 May 2018, 19:35 WIB
img
ANTARA

KEMENTERIAN Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) menargetkan pada 2019 Indonesia menjadi pemimpun di ASEAN dalam hal publikasi jurnal Ilmiah.

Pencapaian target tersebut antara lain didorong oleh Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 9 Tahun 2018 tentang Akreditasi Jurnal Ilmiah.

“Kita akan terus tingkatkan publikasi jurnal ilmiah kita semoga tahun depan kita menjadi leader di kawasan ASEAN,” kata Menristek Dikti M Nasir pada peluncuran Peraturan Menristekdikti No 9/2018 tentang Akreditasi Jurnal Ilmiah di Kemenristek Dikti Jakarta, Kamis (17/05).

Nasir menjelaskan berdasarkan data Publikasi Internasional ASEAN per 8 Mei 2018, publikasi internasional Indonesia berada di angka 8.269, sedangkan Thailand saat ini mencatatkan 5.153 publikasi. Hal itu dapat dikatakan Indonesia sudah mampu mengungguli setelah 20 tahun berada di bawah Thailand.

Mantan Rektor Universitas Diponegoro tersebut mengungkapkan jumlah jurnal Indonesia yang terakreditasi sebelum terbit Permenristek Dikti No 9/2018, hanya 530 jurnal. Setelah terbit Permenristek Dikti itu terdapat 1.682 jurnal.

“Kita memerlukan sebanyak 7.817 jurnal, jadi masih kurang sebanyak 6.135 jurnal. Kami menargetkan bulan depan bertambah sebanyak 3.500 jurnal,” jelas Nasir.

Saat ini Indonesia baru memiliki jurnal terindeks SCOPU sebanyak 37 jurnal yang menampung sekitar 1.100 makalah para peneliti Indonesia per tahun.

Permenristek Dikti No 9/2018 mengamanahkan lembaga akreditasi jurnal ilmiah menjadi satu atap di Kemenristek Dikti. Adapun jurnal ilmiah yang sudah terakreditasi oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan masih berlaku masa akreditasinya secara otomatis diakui Kemenristek Dikti hingga masa berlaku akreditasinya habis.

Kemenristek Dikti juga menerbitkan sertifikat baru bagi jurnal ilmiah yang telah diakreditasi oleh LIPI tersebut.

Nasir mengutarakan publikasi merupakan syarat mutlak dalam menuju inovasi yang nantinya produk inovasi tersebut mendapatkan hak paten. Indikator paling dominan mencapai publikasi tersebut adalah kemampuan menghasilkan publikasi dari riset.

Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristek Dikti Dimyati menambahkan Permenristek Dikti No 9/2018 strategis dalam mendorong kondusivitas riset Indonesia sekaligus mendorong produktivitas dan relevansi penelitian di Indonesia.

“Perbedaan utama dengan peraturan sebelumnya adalah memasukan unsur pembinaan dalam akreditasi internasional, kita membuka ruang untuk ke internasional lebih banyak lagi,” pungkasnya. (A-2)

BERITA TERKAIT