Dari Lawan Menjadi Pahlawan


Penulis: (FIFA/BBC/R-1) - 18 May 2018, 00:15 WIB
 AFP PHOTO / CRIS BOURONCLE
AFP PHOTO / CRIS BOURONCLE

PUBLIK Peru bersukacita setelah tim nasional mereka kembali bisa adu kekuatan di ajang terakbar Piala Dunia setelah 36 tahun absen. Pujian bak pahlawan pun lantas ditujukan kepada sang pelatih, Ricardo Gareca, yang bisa memberikan keajaiban kepada Peru.
Sebelum menjadi aktor protagonis saat ini, Gareca sejatinya musuh besar masyarakat Peru. Jika bukan karena Gareca, Peru tidak akan menunggu hingga 36 tahun untuk kembali mencicipi ajang Piala Dunia yang terakhir diikuti pada 1982.

Tiga tahun setelah Piala Dunia di Spanyol itu, Peru kembali mendapatkan kesempatan menuju putaran final. Sampai pertandingan terakhir di Grup 1, Peru akhirnya menyerah setelah Gareca yang masih menjadi pemain mencetak gol tunggal di menit ke-81 untuk kemenangan Argentina yang membawa tim Tango lolos ke Piala Dunia 1986 Meksiko. Namun, el Tigre, sapaan Gareca, yang menjadi penyelamat Argentina, malah tidak disertakan dalam skuat utama.

"Saya kehilangan posisi di Piala Dunia 1986 dan itu menjadi pukulan yang keras bagi saya. Saya memulai menjadi pemain inti melawan Venezuela dan muncul kembali saat melawan Peru. Saya mencetak gol dan berharap mimpi saya terpenuhi, tapi nyatanya tidak terjadi," kata Gareca mengenangnya.

Tidak disangka takdir mempertemukan Gareca dengan Peru setelah tiga dekade. Pelatih kelahiran Tapiales, Argentina, itu mendarat di ibu kota Lima pada 2015 dan memberikan dampak positif dalam waktu singkat. Gareca membawa Peru mencapai semifinal Copa America 2015 setelah empat bulan memimpin. Prestasi terbesar Gareca ialah membawa Peru lolos ke putaran final Piala Dunia 2018, mengalahkan tim besar lain, Cile, yang akhirnya tersingkir di babak kualifikasi.

"Anda dapat melihat perbedaan dengan apa yang terjadi dengan Ricardo Gareca. Kami membuat awal yang buruk di babak kualifikasi, tapi mereka akhirnya percaya dengan rencananya dan memberinya dukungan. Itu kuncinya. Federasi melakukan pekerjaan yang baik dengan memiliki pelatih yang benar," puji asisten pelatih Peru Nolberto Solano.

Gareca memang mencanangkan peremajaan tim ketika datang pada 2015. Satu-satunya yang mungkin selamat dari revolusi Gareca ialah Jefferson Farfan. Eks punggawa Schalke 04 tersebut telah berusia 33 tahun dan kini bermain untuk Lokomotiv Moscow. (FIFA/BBC/R-1)

 

BERITA TERKAIT