Menanti Kejutan Tim Kuda Hitam


Penulis: Satria Sakti Utama - 18 May 2018, 00:00 WIB
 AFP PHOTO / Ernesto BENAVIDES
AFP PHOTO / Ernesto BENAVIDES

TIM Nasional (timnas) Peru akhirnya kembali bertarung di ajang Piala Dunia setelah menghilang selama 36 tahun. Peru terakhir beraksi pada Piala Dunia 1982 Spanyol. Peru berada di sisi barat Amerika Selatan, menghadap langsung ke hamparan luas Samudra Pasifik. Negara dengan ibu kota di Lima ini merupakan negara yang kaya dalam budaya antropologi dan dikenal sebagai tempat lahir Kerajaan Inca yang beribu kota di Machu Picchu. Kerajaan tersebut itu telah dipakai sebagai julukan timnas Peru, yakni Los Incas.

Nama timnas Peru merupakan salah satu tim yang dianggap sebagai tim 'kuda hitam' di Piala Dunia 2018. Tim yang dinakhodai Ricardo Gareca ini menjadi kontestan terakhir yang memastikan tiket ke Rusia seusai melalui jalur play-off melawan wakil zona Oseania, Selandia Baru, pada November 2017. Peru unggul agregat 2-0 atas Selandia Baru.

Kendati demikian, Peru tidak dapat dipandang sebelah mata. Meski jarang dipenuhi pemain bintang, tim itu sukses menggemparkan dunia di kurun 1970-an. Peru sukses menembus babak perempat final Piala Dunia 1970 dan 1978.

"Saya bangga untuk negara saya. Kami mencintai sepak bola dan setiap orang di Peru selalu ingin di belakang tim nasional. Saya punya waktu yang baik dan buruk, mungkin lebih banyak buruknya, tapi fan selalu mendukung dan betapa gilanya mereka ketika kami lolos dari babak kualifikasi," kata eks bintang sekaligus asisten pelatih timnas Peru saat ini, Nolberto Solano.  

Persiapan Peru sempat diganggu dengan konflik internal antara pemerintah dan federasi. Sanksi bisa saja dijatuhkan dan keikutsertaan Peru dibatalkan. Beruntung perseteruan tersebut tidak berlanjut lebih jauh lagi.

Renato Tapia dan kolega pun tampaknya tidak banyak terganggu dengan masalah tersebut. Hal itu terbukti dengan penampilan impresif di dua laga uji coba melawan Kroasia dan Islandia. Peru sukses menyapu bersih dua pertandingan tersebut dengan kemenangan.
Hasil pertandingan tersebut menjadi bukti Peru tidak dapat diremehkan di Grup C. Tidak hanya bisa merepotkan Prancis, dua kali juara Copa America tersebut juga dapat mengatasi perlawanan Denmark dan Australia.

Tanpa sang kapten
Peru akan melakoni laga perdana melawan Denmark di Grup C pada 16 Juni. Target kemenangan akan dibidik untuk mempermudah laju menuju babak selanjutnya. Akan tetapi, Peru terancam tidak akan diperkuat sang kapten, Paolo Guerrero.

Guerrero tersangkut kasus doping setelah tes menunjukkan ia positif mengonsumsi kokain (metabolite cocaine benzoylecgonine) pada November lalu. Akibatnya, kapten timnas Peru itu harus menerima hukuman dari FIFA, yaitu tidak boleh bertanding selama satu tahun.
Tidak berselang lama FIFA lantas merevisi hukuman Guerrero, yaitu dikurangi menjadi enam bulan saja. Kabar itu sempat membuat penyerang 34 tahun ini memiliki asa untuk membela tanah kelahirannya di Piala Dunia 2018. Guererro seharusnya sudah akan bebas dari sanksi FIFA pada bulan ini.

Namun, World Anti-Doping Agency (WADA) mengajukan banding ke Court of Arbitration for Sport (CAS) untuk meninjau kembali keputusan FIFA. Hasilnya CAF justru memperberat hukuman Guerrero menjadi 14 bulan. Panel CAF memutuskan Guerrero memang melakukan kesalahan atau kelalaian. Panel juga menilai Guerrero bisa mengambil beberapa tindakan untuk mencegahnya dalam melakukan pelanggaran antidoping.

"Menganggap bahwa sanksi yang tepat ialah skors selama 14 bulan mengingat tingkat kesalahan Guerrero," jelas dalam keterangan CAF. (FIFA/ESPN/R-1)

 

BERITA TERKAIT