Sawit dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan


Penulis: Bayu Krisnamurthi Dosen Agrobisnis IPB Dewan Pembina Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Wakil Menteri Perdagangan Periode 2011-2014 Wakil Menteri Pertanian Periode 2010-2011 - 17 May 2018, 03:45 WIB
seno
seno

KETIKA Presiden RI menanam pohon sawit sebagai simbol peluncuran ketiga Program Peremajaan Sawit Rakyat di Bagan Sinembah, Rokan Hilir, Riau, beberapa hari lalu, pohon sawit itu tentunya diharapkan akan tumbuh berkembang. Pohon itu juga menghasilkan tandan buah segar sawit mulai 2022 atau 2023 dan terus-menerus berbuah setidaknya hingga 2048. Artinya pohon sawit itu akan melewati periode Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan hingga 2030 sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017. Dengan perkataan lain, dapat dibayangkan bahwa Presiden juga menyampaikan pesan bahwa kebun sawit rakyat yang diremajakan harus memberi kontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDG).

Tujuan global
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) dikenal juga sebagai Tujuan Global (Global Goals) merupakan kesepakatan negara-negara sedunia di bawah PBB. Pada September 2015, 193 negara bersepakat ada 17 tujuan yang akan diusahakan bersama untuk dapat dicapai pada 2030. Perinciannya 1) tidak ada kemiskinan, 2) tidak ada kelaparan, 3) kehidupan yang sehat dan sejahtera. Lalu, 4) pendidikan yang berkualitas, 5) kesetaraan gender, 6) ketersediaan air bersih dan sanitasi yang layak.

Selanjutnya, 7) ketersediaan energi bersih yang terjangkau, 8) tersedianya pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi, 9) berkembangnya industri, inovasi, dan infrastruktur, 10) berkurangnya kesenjangan, 11) kota dan permukiman yang berkelanjutan, 12) konsumsi dan produksi yang bekelanjutan. Serta, 13) menangani perubahan iklim, 14) menjaga ekosistem kelautan, 15) menjaga ekosistem daratan, 16) perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh, dan 17) kerja sama untuk mencapai tujuan.

TPB (SDG) merupakan kelanjutan sekaligus pengembangan dari Tujuan Pembangunan Milenial (MDG). Indonesia berperan aktif dalam merumuskan TPB karena bersama Inggris dan Liberia, Indonesia memimpin kelompok kerja khusus yang dibentuk Sekjen PBB untuk penyusunan tujuan-tujuan bersama yang lebih komprehensif, sekaligus mendorong transformasi MDG menjadi SDG.

TPB bersifat lebih menyeluruh, melibatkan semua pemangku kepentingan--pemerintah, media, LSM/organisasi masyarakat sipil, bisnis, media, filantropi, pakar dan akademisi. Berprinsip bahwa pencapaian tujuan itu sepenuhnya inklusif tanpa pengecualian (no one left behind) untuk seluruh tujuan. Serta dilengkapi dengan berbagai perangkat untuk melaksanakan usaha mencapainya.

Perlu dipahami bahwa TPB bukan hanya sebuah kesepakatan formal antarnegara-negara, melainkan juga cermin harapan dan keinginan kita sebagai bagian dari umat manusia yang berperikemanusiaan. Kiranya tak satu pun di antara kita yang akan menolak kondisi ideal yang ingin dicapai dalam TPB itu.

Mencatat kontribusi
Sebagai industri strategis dan produk ekspor terbesar Indonesia, sewajarnya jika sawit diharapkan--bahkan dituntut--untuk berkontribusi pada pencapaian tujuan-tujuan penting dalam TPB. Pengalaman Indonesia menunjukkan sawit memang telah dan akan terus berkontribusi pada pencapaian TPB.

Bank Dunia menyebutkan sawit sebagai salah satu produk pembangunan (development product) karena kontribusinya pada pengurangan kemiskinan. Sangat sering ditemukan pendapatan petani sawit per hektare beberapa kali lipat lebih tinggi jika dibandingkan dengan pendapatan petani lain di daerah yang sama. Hal itu berkontribusi pada pencapaian tujuan pertama mengurangi kemiskinan.

Peningkatan pendapatan merupakan salah satu prasyarat paling penting bagi hilangnya kelaparan dan tercapainya kehidupan yang sehat dan sejahtera pada keluarga-keluarga miskin. Petani yang meningkat pendapatannya dan terangkat dari kemiskinan hampir pasti akan memiliki kehidupan yang lebih baik, dan tercapainya tujuan kedua dan ketiga. Peningkatan pendapatan itu pula yang kemudian membuka kesempatan bagi anak-anak petani untuk mendapat pendidikan yang lebih baik jika dibandingkan dengan orangtua mereka.
Di samping itu pengembangan kawasan-kawasan perkebunan telah mendorong tumbuhnya kota-kota baru, yang berarti juga fasilitas pendidikan, sanitasi, dan fasilitas kesehatan yang lebih baik. Berikutnya infrastruktur tersedia, akses dan mobilitas terbuka, permukiman berkembang, dan berkurangnya kesenjangan.

Sawit juga berkontribusi pada penyediaan energi bersih dan berkelanjutan. Program B20--mencampurkan biodiesel sawit 20% pada bahan bakar solar--dan pemanfaatan limbah sawit untuk menghasilkan biogas atau pemanfaatan biomassa sawit sebagai sumber energi pembangkit listrik merupakan bentuk konkret kontribusi tersebut.

Sawit juga menghasilkan sekitar 5,4 juta kesempatan kerja langsung mulai petani di kebun hingga pekerja pabrik dan pekerja aneka jasa yang terkait--serta hingga 12 juta kesempatan kerja tidak langsung merupakan bentuk langsung kontribusi pada pencapaian tujuan kedelapan.

Kesempatan kerja itu pun berjalan beriring dengan pengembangan industri dan membutuhkan inovasi terus-menerus karena saat ini sekitar 70% dari produk sawit diekspor dan sekitar 75% dari produk sawit ekspor ialah produk hilir yang memiliki kandungan kegiatan manufaktur tinggi.

Sawit juga telah menjangkau dan menjadi bagian dari sangat banyak produk yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari. Banyak yang memberi argumentasi bahwa 50% produk yang dijual di supermarket atau toko sedikit atau banyak mengandung sawit di dalamnya. Mulai minyak goreng, kosmetik, kue, coklat, pembersih, hingga sabun.

Produktivitas sawit yang sangat tinggi sebagai penghasil minyak nabati produksi minyak sawit per hektare lahan 9 kali lebih besar daripada produksi minyak kedelai per hektare telah mampu meningkatkan efisiensi penggunaan lahan. Hal ini konsisten dengan usaha mencapaian tujuan kedua belas. Sekaligus juga sebagai bentuk usaha mencapai tujuan ketiga belas, memanfaatkan sumber daya alam seefisien mungkin. Di samping kenyataan bahwa sawit ialah pohon yang tegak berdiri dan terus-menerus menyerap karbon (CO2) dari atmosfer setiap hari selama sekitar 30 tahun, dibanding misalnya kedelai yang tiap tiga bulan dipanen dengan lahan yang diberakan dalam satu hingga dua bulan.

Menjawab kontroversi
Uraian singkat di atas menunjukkan bahwa sawit berkontribusi setidaknya pada 12 dari 17 tujuan dalam TPB. Namun, tidak dapat dimungkiri kontribusi positif sawit itu masih banyak dipertanyakan. Sawit bahkan terus-menerus mendapat kampanye negatif dan kritik. Mulai aspek kesehatan yang terkait dengan isu kesehatan, tuduhan dampak sawit yang buruk pada lingkungan, hingga masalah buruh dan sosial kemasyarakatan yang dikaitkan dengan sawit. Kontroversi itu perlu disikapi dengan tepat.

Petani dan industri tidak perlu memungkiri bahwa memang masih ada masalah dalam pengusahaan sawit. Misalnya, masih ada ribuan kebun lahan sawit yang diduga berada dalam kawasan hutan atau lahan yang memang belum jelas benar (belum clean-and-clear) statusnya. Atau bagaimana 400 ribu petani kecil sawit yang berlahan di wilayah gambut dapat terus mengusahakan sawit dengan air tanah yang tetap terkelola baik. Masalah-masalah itu harus dijawab dan dicari solusinya.

Namun, hal-hal yang sudah jelas serta didukung data yang akurat juga perlu diterima secara objektif. Laporan Komisi Eropa pada 2013 menunjukkan bahwa selama 20 tahun deforestasi di seluruh dunia, 58 juta hektare berubah menjadi padang pengembalaan dan usaha peternakan. Sebanyak 13 juta hektare berubah menjadi usahatani kedelai, 8 juta hektare berubah menjadi usaha tani jagung, dan 6 juta hektare berubah menjadi kebun sawit. Jadi, sawit bukan penyebab deforestasi terluas.

Pada 2015, Indonesia sudah menghasilkan sekitar 6,5 juta ton atau 51,6% dari total CPO yang besertifikat internasional sebagai CPO yang berkelanjutan di dunia. Atau fakta bahwa sawit menggunakan pupuk kimia, pestisida, dan energi per hektare yang jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak nabati lain. Kesemuanya itu merupakan indikasi kuat bahwa dampak pengusahaan sawit tidak seburuk yang dikampanyekan.

Optimasi dan diplomasi
Prinsip dasar yang perlu dilakukan ialah mengoptimalkan peran dan kontribusi sawit. Artinya selesaikan masalah yang dihadapi sawit¸ minimal hal-hal yang negatif jika ada, dan maksimalkan hal-hal positifnya. Pertama, perlu pengkajian secara saksama dan rinci terhadap kontribusi sawit pada TPB. Hal itu menjadi basis untuk mengukur capaian selanjutnya.

Kedua, menyusun strategi pengembangan kontribusi sawit bagi TPB yang komprehensif dan sistematis menjangkau 20-30 tahun yang akan datang. Atau setidaknya 12 tahun ke depan hingga 2030, dengan menempatkan petani sebagai pelaku sekaligus penerima manfaat utama.

Terlepas dari kontroversinya, kontribusi sawit pada TPB merupakan bahan diplomasi yang berguna. TPB (SDG) sudah menjadi 'bahasa dunia' yang dipahami secara internasional. Apalagi, industri berbahan baku sawit di Eropa misalnya pada 2016 telah menciptakan sekitar 100 ribu kesempatan kerja dan kegiatan ekonomi senilai 6 miliar euro. Ada indikasi kuat, sawit ternyata juga berkontribusi pada pencapaian TPB Eropa. Itu yang perlu kita yakinkan pada mereka.

 

BERITA TERKAIT