Kenaikan Cukai Bebani Industri Rokok


Penulis:  (E-3) - 17 May 2018, 06:45 WIB
img
ANTARA FOTO/Dewi Fajriani

 ANGGOTA Komisi Keuangan DPR, Wilgo Zainar, berharap pemerintah tidak membebani industri dengan kenaikan cukai yang tinggi pada tahun depan.

"Kenaikan cukai rokok pasti berdampak pada se-rapan hasil produksi petani tembakau, penyerapan tenaga kerja, serta penerimaan cukai dan pajak rokok," kata Wilgo di Jakarta, kemarin, seperti dikutip dari Antara.

Menurut Wilgo, penerapan tarif cukai rokok mestinya bisa menggunakan parameter ekonomi yang jelas, seperti inflasi, terlebih tarif saat ini amat membebani industri rokok.

"Jika pemerintah ingin mendapatkan penerimaan cukai lebih optimal, seharusnya bisa melalui ekstensifikasi barang kena cukai lainnya dan bukan dengan kenaikan tarif cukai yang tinggi," kata dia.

Beberapa waktu lalu, Kementerian Keuangan melaporkan pada kuartal I 2018, penerimaan negara dari cukai naik 16,2% secara year on year (yoy) menjadi Rp8,6 triliun. Namun, tidak dirincikan sumbangan dari sektor cukai industri hasil tembakau.

Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Sjukrianto mengatakan, selama 3-4 tahun terakhir, pemerintah selalu menaikkan tarif cukai rokok.

Namun, dia menyayangkan kebijakan itu diambil tanpa memperhatikan dampak di masyarakat, terutama terkait dengan pendapatan dari penjualan rokok. "Kalau pendapatan masyarakat bertambah, tidak masalah cukai dinaikkan. Tapi pendapatan masyarakat juga belum naik."

Ia menjelaskan dengan tarif kenaikan cukai rokok rata-rata 10,04% pada tahun ini, para pedagang eceran sudah mengalami penurunan penjualan.

Dia memperkirakan pertumbuhan pendapatan dari penjualan rokok di tahun ini stagnan. "Apalagi kalau cukai rokok tambah dinaikkan, pendapatan tidak akan tumbuh," ucap dia.

Anggota Dewan Penasihat Forum Masyarakat Industri Rokok Seluruh Indonesia (Formasi) Andriono Bing Pratikno menambahkan, permasalahan lain dari kenaikan cukai terlalu tinggi ialah makin maraknya per-edaran rokok ilegal.

"Semakin mahal harga rokok, semakin marak per-edaran rokok ilegal," ujar Andriono.

BERITA TERKAIT