Digagalkan, Perdagangan Ilegal Burung Paruh Bengkok


Penulis: Dhika Kusuma Winata - 16 May 2018, 22:00 WIB
img
ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

KEPOLISIAN Resor Halmahera Utara melakukan penangkapan terhadap seorang penampung sekaligus pemburu burung paruh bengkok di Kao Barat, Halmahera Utara. Satu tersangka berinisial YD ditangkap.

Dalam operasi tersebut, petugas berhasil menyita barang bukti sebanyak 33 ekor burung paruh bengkok, yang terdiri dari 17 ekor nuri bayan (Eclectus roratus), 14 ekor kakatua putih (Cacatua alba), dan 2 ekor kasturi ternate (Lorius garrulus).

Pemimpin operasi penangkapan Kepala Urusan Pembinaan dan Operasional Polres Halmahera Utara Ipda Aktuin Moniharapon mengatakan dari ketiga spesies burung paruh bengkok tersebut, terdapat satu burung yang dilindungi yaitu nuri bayan.

Adapun kakatua putih (Cacatua alba) dan kasturi ternate (Lorius garrulus) ia sebut sebagai spesies yang juga banyak diperdagangkan.

"Penangkapan ini merupakan salah satu cara untuk mengungkap sindikat perdagangan satwa liar. Dengan bantuan dari masyarakat kami akan terus menyelidiki dan mengembangkan kasus mengenai perdagangan satwa untuk menjaga ekosistem di Halmahera." ujarnya melalui keterangan resmi, Selasa (15/5).

Penangkapan dilakukan di rumah tersangka pada 8 Mei. Sebelumnya, pada tanggal 19 Maret pelaku telah menjual 19 ekor burung paruh bengkok yang terdiri dari 13 ekor nuri bayan dan 6 ekor kakatua putih (Cacatua alba). Burung-burung tersebut merupakan pesanan penampung lain yang berasal dari Kecamatan Tobelo, Halmahera Utara dan akan dikirim ke Surabaya menggunakan kapal laut melalui Pelabuhan Tobelo.

Menurut pengakuan pelaku, dalam satu minggu pelaku mampu mendapatkan sekitar 60 ekor burung paruh bengkok.

Jenis burung yang menjadi target antara lain nuri bayan, kakatua putih, dan kasturi ternate. Selain menjadi pemburu, pelaku juga merupakan penampung burung paruh bengkok dari pemburu lain yang ada di Halmahera Utara.

Kapolres Halmahera Utara AKBP Irvan Indarta mengatakan selanjutnya tersangka akan di proses dan dikenakan pasal tindak pidana perdagangan satwa dilindungi dalam Undang-Undang No 5/1990 tentang Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan hukuman pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp100 juta.

Selain itu tersangka juga terancam melanggar pasal 78 (12) jo pasal 50 (3) huruf m Undang-Undang No 41/1999 tentang Kehutanan dengan ancaman pidana penjara paling lama satu tahun dan denda paling banyak Rp50 juta lima puluh.

"Burung-burung endemik Pulau Halmahera harus dijaga di habitatnya agar tidak punah. Perburuan besar-besaran burung-burung ini yang akan dijual keluar pulau atau keluar negeri, justru akan mengganggu ekosistem di Pulau Halmahera," ungkapnya.(A-5)

BERITA TERKAIT