Wim Prihanto Jalan Keadilan Petani dan Konsumen


Penulis: Siti Retno Wulandari - 17 May 2018, 01:00 WIB
MI/ADAM DWI
MI/ADAM DWI

HARGA jahe merah yang sedang turun membuat petani di lereng Gunung Sewu, Jawa Tengah, enggan untuk panen. Kondisi itu sampai ke telinga  Wim Prihatno, praktisi digital. Kebetulan, salah seorang temannya memang petani jahe emprit.
Tidak sekadar menjadi pendengar, Wim mencoba menawarkan solusi. Usul pertamanya untuk menjual jahe emprit ke industri di daerah Solo ditolak karena harga yang juga tidak bagus.

Enggan menyerah, memutar otak lebih keras dan terbesitlah ide membuat event penjualan dengan harga yang pantas atau berkeadilan, Argo Fair Price. Hasilnya, dalam waktu dua minggu, event itu bisa menjual 250 kilogram (kg) jahe dan tentunya dengan harga pantas.  
"Pemasaran jahe merah itu sebagai bentuk validasi ide saya pasti bisa dilakukan, membeli sekaligus membantu petani untuk bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Saya berikan harga yang pantas, tidak terlalu kecil bagi petani tetapi juga tidak tinggi kepada konsumen," kata Wim saat ditemui di kantornya daerah Kuningan, Jakarta, Rabu (25/4).

Hasil baik itu mendorong Wim lebih jauh berkiprah untuk membantu memasarkan hasil pertanian. Terlebih, pria dengan latar belakang ilmu pertanian dan bisnis ini mendengar bahwa ketimpangan harga jual ialah hal umum yang mendera petani.
Event pada 2015 itu pun menjadi pintu bagi Wim untuk menciptakan aplikasi yang menjadi media pemasaran hasil pertanian. Untuk lebih mengembangkan aplikasi bernama Regopantes itu dua tahun kemudian (2017), Wim menggandengkannya dengan 8Villages, perusahaan rintisan (start-up) yang berkecimpung di dunia pertanian.

Merger dua entitas itu cukup baik menjadi solusi bagi petani di Jawa Tengah. Malah kemudian, dengan kinerja yang terus meningkat, petani-petani wilayah lain ikut menitipkan hasil taninya melalui laman Regopantes. Hingga September 2017, sudah 5.000 petani terdaftar dan setengah dari jumlah tersebut merupakan petani Jawa Tengah. Sementara itu, jumlah konsumen terdaftar mencapai 8.000 orang. "Karena masuk melalui jalur kelembagaan, digandeng Pemerintah Provinsi Jawa Tengah," imbuh Wim.

Membeli sekaligus membantu
Berasal dari bahasa jawa, Regopantes berarti harga yang pantas. Untuk menjalankan prinsip itu, Wim memiliki simulasi hitungan berupa penjumlahan dari harga beli tengkulak dengan harga pasar lalu dibagi dua. Selain itu, harga pengiriman dan pengemasan juga dibagi dua, yakni menjadi tanggung bersama petani juga konsumen.

Maka, harga yang diterima petani ialah hasil bagi dari harga jual dikurang dengan hasil bagi biaya pengiriman. Sementara itu, harga yang dibayar konsumen ialah hasil bagi dari harga jual ditambah dengan hasil bagi biaya pengiriman. Dengan begitu, harga yang tertera pada situs sudah termasuk dengan ongkos pengiriman.

Simulasi itu diklaim Wim menjadi pembeda Regopantes dengan start-up lain yang sejenis. Harga pantas menjadi fokus utama, sedangkan untuk ekspansi tidak bersifat kedaerahan.  Untuk bergabung dengan Regopantes, petani diharuskan mengisi formulir yang juga memuat data luas lahan garapan. Wim menjelaskan pendataan itu untuk mengetahui kapasitas lahan dan hasil panen.

Regopantes kemudian membuat perhitungan harga komoditas yang dimiliki petani. Dengan begitu, perhitungan harga bukan dibuat petani. Jika setuju, petani dapat mengunggah komoditasnya di aplikasi tersebut. "Kalau mereka tidak setuju dengan harga ya enggak perlu unggah produk. Hampir 90% komoditas yang tersedia itu diunggah langsung oleh petani," tutur pria juga menjadi dosen luar biasa bidang technopreneurship di Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang ini.

Agar harga terus sesuai dengan kondisi riil, tim Regopantes mengecek pergerakan harga ke lapangan tiap tiga hari sekali dan mengecek ke tengkulak tiap satu minggu sekali. Prinsip keterbukaan kepada konsumen dilakukan dengan mencantumkan identitas petani. Selain itu, juga ada besaran harga yang diterima petani dan perbandingannya dengan harga yang diterima petani dari pedagang dan tengkulak.

Tidak berhenti di situ, pada laman web juga dimuat sekilas cerita tentang diri petani, cara pengolahan lahan, dan perawatan tanaman yang dijalankan petani yang bersangkutan. Hal ini membuat konsumen bisa memiliki informasi lebih luas tentang barang yang dibeli.
Meski harga yang ditawarkan tidak seperti harga umum, Wim yakin mekanisme perdagangan tersebut tetap akan memiliki pasarnya sendiri. "Sasaran kami itu ya ibu muda maupun anak muda yang memang memiliki sensitivitas dengan isu sosial. Kalian tidak sekadar membeli, tetapi juga membantu petani baik untuk hidup sehari-hari maupun biaya pendidikan anak. Itu kampanye kami," tutur pria kelahiran Belitung, 12 Desember 1966 ini.

Empat klasifikasi produk
Ada empat tingkatan produk yang diterapkan Regopantes, yaitu reguler, khusus (petani organik tetapi belum besertifikat), organik dengan sertifikat, dan fair trade yang mengakomodasi beberapa persyaratan internasional seperti upah buruh sesuai UMR dan mempekerjakan 30% perempuan.

Dari 40 etalase yang ada di laman Regopantes, terlihat jika produk organik memang masih minoritas jika dibandingkan dengan produk reguler. Wim mengaku pihaknya juga tidak melakukan edukasi khusus agar petani beralih ke jenis produk tertentu, termasuk jenis organik.
Baginya, lebih penting untuk membantu agar setiap petani mendapatkan kesempatan yang sama. Ia juga yakin petani bisa memilih sendiri jenis produk yang menguntungkan, baik secara profit, lingkungan, maupun dengan kecenderungan kesadaran masyarakat sekarang ini.

Sementara itu, untuk menjaga kualitas produk hingga diterima konsumen, Regopantes memiliki aturan pengiriman dan pembelian tersendiri.  Waktu pengiriman akan dilakukan satu minggu sekali. Petani yang menerima pesanan harus mengumpulkan barang dagangan di satu titik kumpul, dan dalam waktu 12 jam barang harus sudah diterima konsumen setelah melalui proses kontrol kualitas. Untuk pemesanan juga ada syarat minimal, yaitu 4 kg dalam satu kali pengiriman. Hasil rekapitulasi akhir, sudah 15 ton barang terjual dengan jumlah varian komoditas 36, mulai bawang merah, alpukat, hingga brokoli.

"Sehingga komoditas yang diterima masih segar, itu ketetapan kami dibantu dengan jasa ekspedisi. Untuk petani mandiri yang mendaftar langsung dan tidak bersifat kelembagaan harus mengirimkan sendiri dengan harga yang juga sudah kami hitungkan," jelas pria yang kini sedang menjajaki kerja sama dengan pengusaha kuliner. (M-2)

 

BERITA TERKAIT