Warga Keberatan Tarif Parkir Kendaraan Offstreet Naik


Penulis: Yanurisa Ananta - 16 May 2018, 18:45 WIB
img
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

SEJUMLAH warga DKI Jakarta mengaku terbebani bila tarif parkir kendaraan di dalam gedung (offstreet) di Jakarta naik. Sebagian dari warga merasa tarif yang berlaku saat ini sudah ideal. Hal itu dikeluhkan terutama oleh warga yang biasa berlama-lama di pusat perbelanjaan atau gedung perkantoran.

“Dari sisi pemilik mobil pasti saya kerasa banget karena mahal banget jatuhnya. Tapi kalau dilihat dari keseharian saya, saya mulai jarang bawa mobil ke mana-mana dan rata-rata tidak berlama-lama parkir,” kata Susan Fiandini, 26, pegawai swasta di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (16/5).

Namun demikian, Susan melihat hal ini lebih luas lagi. Menurutnya, kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) menaikan pajak parkir bagi pengelola yang berimbas pada kenaikan tarif parkir tersebut cocok untuk mengurangi penggunaan mobil. Masyarakat pun sudah jenuh melihat kepadatan jalanan Ibukota.

“Tapi di sisi lain saya setuju dengan harapan bisa mengurangi penggunaan mobil. Maka dari itu saya biasanya pakai mobil pikir-pikir. Kalau misalnya saya akan stay lama. Saya akan memilih naik taksi daring,” papar Susan.

Setali tiga uang, Munir, 30, warga Pekojan, Jakarta Barat, terang-terangan menyatakan tidak setuju karena tidak semua orang berlama-lama di dalam gedung. Misalnya, ada taksi daring yang masuk dalam gedung hanya sebentar. “Kan kasihan, jaman sekarang bukan hanya orang kaya yang punya mobil. Supir taksi daring juga bakal merasakan keberatan,” tutur Munir.

Di sisi lain, Memet, 29, pria asal Cirebon yang tinggal di Jakarta itu, mengaku setuju agar pemakaian kendaraan pribadi bisa berkurang. Namun, ia menegaskan aturan itu harus diterapkan di pusat kota. Tidak berlaku di terminal, stasiun, hotel dan apartemen.

“Setuju. Biar tidak pakai kendaraan. Tapi kalau bisa di lokasi tertentu, terutama pusat kota. Kalau terminal sama lain lain jangan lah. Pusat perbelanjaan boleh, tapi jangan rumah sakit, hotel atau apartemen,” jelasnya.

Di Jakarta sendiri tarif parkir offstreet beragam besarannya. Untuk mobil dipatok tarif sebesar Rp5.000 berlaku progresif. Untuk motor berlaku progresif juga sebesar Rp2.000. Di tempat lain jumlahnya bisa jadi berbeda, misalnya di perparkiran Stasiun Gambir. Res Parking sebagai pengelola mengenakan tariff Rp3.000 untuk motor berlaku progresif.

Ketentuan besaran tarif parkir di Jakarta sejatinya telah diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) No 120/2012 tentang Biaya Parkir Pada Penyelenggaraan Fasilitas Parkir untuk Umum di Luar Badan Jalan. Dalam aturan itu, sepeda motor yang terparkir di pusat perbelanjaan, hotel, perkantoran apartemen, pasar, tempat rekreasi, dan rumah sakit.

Pemprov DKI tengah merevisi Perda tentang perparkiran. Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda), Abraham Lunggana (Lulung) menargetkan raperda parkir akan selesai dalam waktu sekitar 2,5 bulan.

Namun, Lulung meminta agar PT Transportasi Jakarta sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang menaungi transportasi di Jakarta segera membentuk rapat kordinasi dengan stakeholder terkait, khususnya pengusaha angkutan umum untuk mempercepat OK Otrip.

"Percuma kalau parkir naik tapi Ok Otrip belum juga berjalan. Bagaimana masyarakat mau berpindah ke angkutan umum," ungkapnya. (OL-5)

BERITA TERKAIT