Reaktualisasi Panca Dharma Pendidikan


Penulis: Ali Usman Pemerhati Pendidikan - 14 May 2018, 04:40 WIB
MI/Seno
MI/Seno

SEORANG guru agama di sebuah sekolah menutup mata pelajaran yang ia ampu dengan pertanyaan, semacam tebak-tebakan, "Apa beda takut kepada Tuhan dengan takut kepada binatang buas?" Sejenak murid-murid kelas 1 SD itu terdiam, lalu satu per satu di antara mereka mengacungkan tangan dan memberikan jawaban yang cukup beragam.

Alhasil, tidak satu pun jawaban murid dianggap benar menurut gurunya. Lalu, apa jawaban yang benar dari pertanyaan itu? Sederhana. Kunci jawabannya, menurut pak guru ialah tentang 'jauh dan dekat'. Artinya, seorang yang takut kepada Tuhan akan cenderung mendekat dan bahkan berusaha sedekat mungkin bersama-Nya dengan cara memperbanyak ibadah, misalnya. Sebaliknya orang yang takut dengan binatang buas akan cenderung menjauh, lari dan berusaha menghindarinya.

Merasa mendapat pencerahan dari sekolah, Sukma, yang menjadi salah satu murid di kelas 1 SD itu, pulang sampai rumah langsung menanyakan ulang kepada orangtua, tetangga, dan teman-teman bermain--sebagaimana yang diajukan oleh gurunya. Orang-orang di sekeliling Sukma, termasuk orangtuanya merasa heran bercampur kagum atas apa yang dilakukan Sukma.

Dari fenomena itu dapatlah dimengerti bahwa telah terjadi korelasi positif antara peran sekolah/lembaga pendidikan dan keluarga/masyarakat. Pihak sekolah mampu meberikan pembelajaran dan penguatan karakter peserta didik lewat edukasi yang humanis, tidak kaku dan formal. Begitu pula keluarga dan masyarakat sekitar memberikan apresiasi tinggi kepada peserta didik untuk mengekspresikan kebebasanya selama tidak bertentangan dengan norma-norma, baik agama maupun adat-tradisi.

Benar apa yang pernah diungkapkan Ki Hadjar Dewantara yang mengatakan, "Berilah kemerdekaan kepada anak-anak kita: bukan kemerdekaan yang leluasa, melainkan yang terbatas oleh tuntutan-tuntutan kodrat alam yang nyata dan menuju arah kebudayaan, yakni keluhuran dan kehalusan hidup manusia. Agar kebudayaan itu dapat menyelamatkan dan membahagiakan hidup dan penghidupan diri dan masyarakat, perlulah dipakai dasar kebangsaan. Akan tetapi, jangan sekali-kali dasar ini melanggar atau bertentangan dengan dasar yang lebih luas, yaitu dasar kemanusiaan," (Djumhur dan Danasaputra, 1976: 175-176).

 

Panca Dharma Pendidikan

Dalam pemikiran yang lain, Ki Hadjar Dewantara juga merumuskan apa yang lazim disebut sebagai Asas-Asas 1922 atau Panca Dharma Pendidikan Taman Siswa--yang jika dicermati dan direfleksikan kembali akan memiliki relevansi secara langsung dengan situasi pendidikan dewasa ini. Pertama, asas kemerdekaan, yang berarti hak untuk mengatur hidup sendiri dengan mengindahkan syarat tata tertib hidup bermasyarakat.

Kemerdekaan diri harus diartikan sebagai swadisiplin atas dasar nilai hidup yang luhur, sebagai individu ataupun sebagai anggota masyarakat. Swadisiplin mengandung pengertian kesediaan diri sendiri mematuhi tata tertib, norma yang disepakati dalam aturan tertulis dan tidak tertulis, juga dilandasi kesadaran pentingnya keteraturan dan saling menghormati hidup bermasyarakat.

Kemerdekaan yang dimaksud tidak dalam arti absolut, bebas tanpa aturan. Hak dan kewajiban tetap dalam koridor wajar, yang juga dibatasi hak dan kewajiban orang lain. Artinya, tidak dibenarkan, misalnya, seorang guru, atau bahkan orangtua anak, melakukan tindakan-tindakan yang melanggar kemanusian meskipun punya dalih sebagai pengayom. Begitu pula sebaliknya, hubungan anak kepada orangtua/guru, tidak bisa melakukan tindakan melanggar hukum atas dasar kebebasan.

Kedua, kodrat alam, yaitu manusia menempatkan dirinya sebagai makhluk yang pada hakikatnya ialah satu dengan alam semesta. Manusia sebagai makhluk, ada penyerahan hidup pada hukum-hukum Tuhan yang disampaikan lewat pesan-pesan dan ajaran moral agama dalam berbagai kepercayaan. Hukum-hukum Tuhan itu juga hadir dalam siklus alam. Karenanya, kebahagiaan akan diperoleh jika manusia menyelaraskan diri dengan kodrat alam.

Ketiga, kebudayaan. Pendidikan harus menjadi sarana untuk memelihara nilai dan bentuk kebudayaan nasional. Kebudayaan nasional ini diarahkan bagi kemajuan dan kepentingan hidup rakyat lahir dan batin sesuai dengan perkembangan alam dan zamannya. Globalisasi tak dapat dibendung.

Kebudayan bukanlah penjara yang mengurung generasi dalam pola pikir yang sama seperti leluhurnya. Justru dengan bekal pemahaman akan nilai budaya nenek moyang inilah, generasi bangsa dapat memaknai nilai-nilai luhur budaya yang membentuk identitas diri dan lingkungannya.

Keempat, kebangsaan, yang pada umumnya dimaknai sebagai sekumpulan komunitas yang terikat oleh rasa persatuan karena persamaan nasib perjalanan sejarah di masa lampau dan memiliki cita-cita di masa depan. Rasa satu bangsa ini menggerakkan semangat untuk memberikan pencapaian terbaik bagi bangsa dan negaranya.

Kebangsaan yang diejawantahkan dalam patriotisme dan nasionalisme ini tidak boleh dipertentangkan dengan kemanusiaan sehingga dalam mencapai kejayaan bangsa dan negara tidak mengandung permusuhan dengan bangsa lain.

Kelima, kemanusiaan, yang bersumber dari keluhuran akal budi manusia. Keluhuran akal budi akan melahirkan rasa dan laku cinta terhadap sesama manusia dan seluruh makhluk Tuhan. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya, yang meliputi jiwa, yaitu cipta, karsa, dan karya secara seimbang. Pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya.

Dari itulah, pola interaksi pendidikan yang digambarkan dalam cerita di awal tulisan ini, antara guru, murid (Sukma), dan keluarga/masyarakat, telah memberikan secercah harapan generasi bangsa masa depan. Bahwa praktik pendidikan secara ideal sejatinya membuat diri menjadi lebih baik, berbudi luhur, pintar tidak hanya kognisi, tetapi wajib diikuti pula oleh afeksi dan sekaligus psikomotoriknya. Semoga.

BERITA TERKAIT