Pokoke Menang


Penulis: ONO SARWONO - 13 May 2018, 07:30 WIB

BUDAYAWAN Mohamad Sobary mengatakan ada sebagian elite politik di negeri ini yang beraliran 'pokoke menang' atau yang penting menang. Sobary menyampaikan kegelisahannya itu ketika menjadi salah satu narasumber dalam Sarasehan Dalang Nasional yang digelar Persatuan Pedalangan Nasional (Pepadi) di Jakarta, belum lama ini.

Diksi 'pokoke menang' yang ia sampaikan itu tentu dengan melihat realitas politik kekinian. Batas sensitivitas bangsa sudah tidak diindahkan lagi. SARA yang selama ini sebagai wilayah yang terjaga, sekarang justru diaduk-aduk, malah dijadikan sebagai amunisi perjuangan.

Bukan itu saja, etika dan moral pun telah tiada. Berhamburnya ujaran kebencian, hoaks, dan fitnah di antara buktinya. Lalu, peraturan perundang-undangan pun diakali dengan kecerdasan sesat. Itu semua dikapitalisasi sebagai senjata memenangkan ambisi.

Duryudana galau
Dalam kisah wayang, dogma 'pokoke menang' digaungkan Duryudana (Kurawa) dalam perang Bharatayuda. Ini terjadi pada hari ke-14 perang antara Kurawa dan Pandawa di tegal Kurusetra tersebut. Mereka semua klan Prabu Kresnadwipayana alias Begawan Abiyasa.

Alkisah, Raja Astina Prabu Duryudana galau. Kekuatan pasukan Kurawa yang ia pimpin semakin menipis karena banyak prajurit yang gugur hingga di hari ke-13. Tentara sekutu yang membantunya pun tidak berkutik. Sejumlah senapati andalannya pun berguguran.

Merespons situasi tersebut, Duryudana menggelar rapat mendadak di pesanggrahan Bulupitu. Sisa nayaka praja penting yang hadir di antaranya patih Sengkuni, Prabu Salya (mertua Duryudana), Karna Basusena, dan Durna. Agendanya mencari cara menghabisi putra Pandawa, Gathotkaca, kesatria yang menyebabkan banyaknya korban di pihak Kurawa.

Sejak Abimanyu gugur, Gathotkaca berharap segera diangkat sebagai panglima perang Amarta. Ia gemereget ingin membalaskan kematian adik sepupunya itu. Namun, Raja Amarta Prabu Puntadewa tidak juga menugasinya karena belum ada lampu hijau dari botoh Pandawa, Kresna.

Gathotkaca memang sangat gusar dengan kematian Abimanyu. Ini beralasan karena hubungan antarsaudara sepupu itu sangat akrab. Di mana ada Abimanyu di situ ada Gathotkaca. Mereka pun saling menyayangi.

Jadi, selama belum menjadi senapati utama, Gathotkaca mendapat tugas sebagai senapati pengapit. Meski demikian, sepak terjangnya membuat lawan giris. Dengan kesaktiannya bisa terbang, Gathotkaca bak pesawat tempur yang ganas menggempur dan membumihanguskan musuh.

Dalam pakeliran, kesaktian Gathotkaca dinarasikan dengan ungkapan otot kawat balung wesi, berotot kawat bertulang besi. Ini simbolisasi semua pusaka dan ajian ampuh yang dimiliki telah menyatu dalam diri putra Werkudara-Dewi Arimbi ini.

Gathotkaca mendapat seperangkat pusaka dari Raja Kahyangan Bathara Guru ketika menjadi jagonya dewa, di antaranya caping basunanda, kotang antrakusuma, dan terompah padakacarma. Bila mengenakan pusaka itu, Gathotkaca dapat mengangkasa tanpa terkendala oleh hujan, terik matahari, gelap malam, dan tidak ada rasa takut.

Sementara itu, ajian yang menyatu dalam tubuhnya di antaranya brajamusti di telapak tangan kanannya, brajadenta di lengan kirinya. Gathotkaca juga memiliki ajian narantaka pemberian Resi Seta dari Wiratha.

Gathotkaca gugur
Dalam rapat yang diliputi kemurungan, Duryudana menyatakan sudah tidak sabar untuk segera menuntaskan Bharatayuda. Ia lalu memerintahkan Karna menyirnakan Gathotkaca. Karna dianggap sebagai satu-satunya yang bisa membunuh Gathotkaca karena memiliki pusaka kuntawijayadanu.

Alkisah, ketika Gathotkaca lahir, tidak ada satu perangkat pun yang bisa memutuskan tali pusarnya. Puntadewa lalu menyuruh Arjuna untuk mencari pusaka yang bisa untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dengan menjalani laku prihatin, Arjuna memohon petunjuk dewa.

Bathara Guru di Kahyangan terusik tapa brata Arjuna. Ia lalu memerintahkan Narada turun ke marcapada memberikan kuntawijayadanu kepada kesatria Madukara itu. Namun, Narada keliru. Pusaka ia berikan kepada Suryaputra (Karna) yang dikira Arjuna, yang ketika itu sedang bertapa. Sekilas, wajah dan seluruh badan Karna memang mirip Arjuna.

Tidak lama kemudian, Narada bertemu Arjuna. Ia kemudian diperintahkan adik Werkudara itu merebut pusaka kuntawijayadanu dari tangan Karna. Akhirnya, terjadilah perang terbuka berebut pusaka. Kodratnya, Arjuna hanya mendapatkan warangkanya (sarung pusaka).

Narada bersabda, meski yang didapat warangka, itu sudah bisa untuk mengatasi masalah yang dialami Gathotkaca yang juga bernama Tetuka. Keajaiban terjadi. Setelah tali pusar putus, warangka menyatu dalam pusarnya. Gaibnya, pada suatu ketika warangka itu akan bersatu kembali dengan pusakanya.

Semula, Karna berkeberatan karena malam mulai tiba. Berdasarkan aturan yang telah disepakati kedua belah pihak (Kurawa-Pandawa), perang Bharatayuda hanya berlangsung mulai matahari terbit hingga terbenam.

Namun, Duryudana emoh tahu tentang aturan, yang penting menang. Menurutnya, untuk menang strategi apa pun harus dilakukan. Maka, karena perintah raja, Karna mengobarkan perang pada malam hari.

Di pihak Pandawa, atas saran Kresna, Puntadewa mengangkat Gathotkaca sebagai senapati. Gathotkaca, yang juga didukung pasukan Pringgondani, gemilang mengobrak-abrik pasukan Astina yang dipimpin Karna.

Ketika pasukan Kurawa terdesak, Karna melepaskan pusaka panah kuntawijayadanu. Gathotkaca yang tahu sebagai sasaran, terbang secepat kilat dan setinggi-tingginya. Semula, pusaka tidak mampu menjangkau, tetapi tiba-tiba muncullah sukma Kalabendana yang kemudian menyarungkan panah itu ke dalam pusar Gathotkaca sehingga gugurlah sang senapati sebagai kusuma bangsa.

Mengabaikan aturan
Jasad Gathotkaca jatuh menghunjam kereta yang digunakan Karna hingga hancur lebur dengan seluruh kudanya. Karna selamat karena bisa menghindari dengan cara meloncat dari keretanya.

Gugurnya Gathotkaca membuat Kurawa bersukacita. Satu benteng utama Pandawa telah dilenyapkan. Kubu Kurawa meyakini peluang memenangi perang Bharatayuda mulai terbuka.

Duryudana kembali menegaskan kepada senapati dan sekutu serta seluruh pasukannya agar mengabaikan, membuang jauh aturan, etika, dan moral. Segalanya harus dilakukan untuk memenangkan peperangan.

Ini merupakan pasemon perpolitikan kini seperti yang diprihatinkan Sobary. Dengan kesadaran penuh sebagian elite politik telah mempraktikkan diri seperti Duryudana, tidak peduli cara yang mereka lakukan, bahkan mengancam keutuhan bangsa. 'Pokoke menang'.

BERITA TERKAIT