Dangdut yang Menyatukan


Penulis: (AT/M-4) - 13 May 2018, 06:40 WIB
img
MI/PIUS ERLANGGA

SOROT lampu panggung mengarah ke sebuah bingkai televisi berukuran besar yang tersaji di atas panggung. Suara musik dangdut mulai terdengar, diikuti liukan para penyanyi yang mendendangkan lagu Pemuda Jadi Impian.

Sebuah awal segar untuk membuka pentas teater bertajuk Princess Pantura di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, April lalu. Pementasan ini terasa unik karena cerita diolah dari lagu-lagu dangdut dengan fenomena saat ini, yaitu situasi menjelang pemilihan umum (pemilu).

Princess Pantura berlatar sebuah kampung di pesisir pantai utara Pulau Jawa, yang bernama Kampung Pantura Utara. Laiknya sebuah kampung, persoalan ekonomi dan sosial pun muncul dalam di kampung ini, mulai anak-anak muda nakal, warga yang memiliki utang, hingga impian-impian warganya untuk menjadi pedangdut terkenal.

Bagi sebagian warga kampung ini, menjadi penyanyi dangdut terkenal ialah cita-cita mereka. Dengan menjadi pedangdut terkenal, mereka bisa memperbaiki nasib, keluar dari berbagai himpitan ekonomi. Persaingan untuk menjadi penyanyi dangdut terkenal pun tidak terelakkan.

Bagi warga di Kampung Pantura Utara, musik dangdut sangat melekat di kehidupan mereka. Bahkan, bisa dibilang musik dangdut ialah urat nadi mereka.

Di sisi lain, kedekatan masyarakat Kampung Pantura Utara dengan musik dangdut dilihat para elite politik di kampung tersebut sebagai komoditas untuk menjaring suara. Konflik elite politik, yang diperankan Tarzan dan Cak Lontong, yang melibatkan warga pun, tidak terhindarkan.

Walau menampilkan kritik sosial dan politik, cerita Princess Pantura tetap disajikan dengan penuh humor dan tidak jarang satire. Misalnya, salah satu adegan Arie Kriting ketika mengajak warga asal Timur untuk kembali ke kampung mereka untuk membangun daerah asal mereka. Sekarang infrastruktur di Timur sudah semakin maju.

Secara spontan pun, Cak Lontong bertanya ke Arie, apakah itu berarti Arie Kriting akan kembali ke kampung halamannya? "Untuk kembali ke Timur, nanti dulu, saya masih laku, je. Kalau kembali, nanti saya malah jadi sampah masyarakat," kata dia yang disambut tertawa penonton.

Ada pula dialog antara Cak Lontong dan Akbar tentang pengalamannya ditilang polisi. "Saya pernah ditilang polisi," kata Cak Lontong.

"Kenapa ditilang?" sahut Akbar bertanya kepada Cak Lontong.

"Karena enggak bawa duit ditilang," jawab Cak Lontong. Dialog tersebut dan ekspresi Cak Lontong yang terlihat polos membuat penonton tertawa lepas.

Seperti karya-karya Butet Kertaredjasa, Djaduk Ferianto, dan Agus Noor sebelumnya, Princess Pantura menampilkan sindiran-sindiran politik yang sedang hangat, misalnya, bubar di 2030, fiksi yang dilaporkan ke Bareksrim Polri, hingga 2019 ganti pesinden.

Pesan moral begitu terasa ketika di bagian akhir Sruti Respati berujar, jika dangdut digunakan untuk kepentingan politik, itu membuat kita menjadi tercerai berai. "Siapa pun pilihan kalian, apa pun yang menjadi pilihan kalian, kita tidak boleh tercerai berai. Kita tidak boleh terpecah-belah. Seharusnya dangdut bisa menyatukan kita."

Pertunjukan Princess Pantura merupakan bagian dari program Indonesia Kita produksi ke-28. Butet Kertaredjasa selaku bagian dari tim kreatif Program Indonesia Kita mengatakan, acara tersebut merupakan sebuah ibadah kebudayaan. "Walaupun berbeda-beda, dalam ibadah kebudayaan kita disatukan oleh dangdut."

Bagi Agus Noor, selaku penulis cerita, menulis cerita teater dari musik dangdut sudah lama dicita-citakannya. Karena ia lahir di Tegal, wilayah pantura, musik dangdut sangat dekat dengannya.

"Mengolah lagu-lagu dangdut ke dalam sebuah cerita bergaya komedi merupakan kerja yang asyik dan menarik," kata dia seusai pentas.

Menurutnya, lagu-lagu dangdut punya kemampuan membuat kita tetap bisa bergoyang dalam penderitaan. Lagu-lagu dangdut seakan sebuah pernyataan, hidup memang penuh penderitaan, tetapi kita tidak boleh lupa untuk bahagia.

"Dangdut menjadi semacam ekspresi pembebasan sekaligus katarsis untuk (bisa sejenak) terbebas dari impitan penderitaan," kata Agus.

BERITA TERKAIT