Menulis dengan Tangan itu Seru


Penulis: Suryani Wandari - 13 May 2018, 03:05 WIB
img
DOK PRIBADI

MELAKUKAN aktivitas rutin dan mengalami berbagai kejadian tak terduga kita alami setiap hari. Bahkan, beberapa kejadian berkesan selalu dijadikan sebagai kenangan.

Namun, apakah Sobat Medi selalu mengingat pengalaman berkesan itu atau malah terlupakan? Agar mengingatnya, bisa lo mencatatnya di buku harian atau diary.

Selain mencatat peristiwa sehari-hari di diary, kita pun bisa mencurahkan segala perasaan dan menyampaikan isi pikiran lewat tulisan. Bahkan, bisa juga lo sebagai sarana berkreasi karena bebas untuk menghiasnya dengan gambar pula. Namun, tahukah medi, fungsi menulis lebih dari itu lo. Mau tahu? Simak Medi ya!

Proses merekam pelajaran
Sobat, sejak kapan kamu bisa menulis? Biasanya kamu menuliskan apa pada bukumu? Sebuah cerita, puisi, atau materi palajaran yang kamu dapat dari sekolahmu? Kemampuan menulis khusunya di buku tulis sangat penting lo sobat.

Menurut Ibu Nurman Siagian, Pakar Edukasi Anak dari Wahana Visi Indonesia, menulis di buku tentu berbeda dengan menulis di gawai. "Terdapat proses dalam menulis, seseorang akan berpikir terlebih dahulu, mengingat, serta melatih motoriknya. Berbeda dengan di gawai, tak ada proses motorik, semua sama hanya dengan ketikan," kata Bu Nurman, Selasa (8/5) di Morrissey Hotel, Jakarta Pusat.

Dalam acara talk show yang diadakan Sinar Dunia (SiDU), Membangun Generasi Cerdas Indonesia melalui Kebiasaan Menulis, Bu Nurman pun mengatakan manfaat menulis bisa menambah kosakata, mengasah berpikir kritis, serta menangkap pelajaran lo, tapi sobat, kompetensi anak Indonesia masih berada di belakang negara lainnya nih.

Menurut survei tiga tahunan dari Programme for International Student Assessment (PISA) 2015 yang dikeluarkan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menunjukan Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 72 negara. Begitu pun dengan hasil riset Kemendikbud 2016 yang waktu itu melakukan AKSI atau Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia mengatakan dari 100%, masih ada 73% anak-anak yang sulit menulis. "Itu terjadi karena pemahaman anak-anak terhadap apa yang mereka pelajari masih sangat rendah, mereka pun masih sulit mengeluarkan ide dan eksisnya lewat tulisan," kata kak Nurman.

Modul buku dari SiDU
Sobat, bukan hanya membaca ya yang harus kita lakukan, kita pun harus melatih kemampuan menulis lo untuk menciptakan generasi cerdas. Oleh karena itu, merek buku unggulan Asia Pulp and Paper (APP) SiDU melakukan program Ayo Menulis Bersama SiDU sejak April hingga Mei 2018.

"Gerakan ini mencakup pemberian buku latihan menulis untuk anak yang melibatkan orangtua dan guru selama 21 hari," kata Customer Domestic Business Head SiDU, Pak Martin Jimi.

Ya, berdasakan studi, untuk menumbuhkan kebiasaan baru menulis, seseorang harus melakukannya selama minimal 21 hari secara rutin lo. Di buku ini akan ada beberapa cerita, lalu di halaman selanjutnya terdapat pertanyaan yang bisa kalian jawab dengan tulisan. "Topiknya mencakup berbagai topik untuk memancing minat anak untuk menulis, mulai mengenal diri sendiri, mengetahui asal mula kertas, hingga perhelatan Asian Games 2018," kata Pak Jimi.

SiDU akan membagiakan buku modul itu secara gratis kepada 200 siswa dari 100 sekolah dasar di Jabodetabek.

Terbiasa menulis sejak kecil
Menulis sudah diterapkan beberapa orang sejak kecil, termasuk Fayanna Ailisha Davianny, penulis cilik yang juga Reporter Cilik Media Anak Media Indonesia 2015 lalu lo. Fayanna, begitu panggilan akrabnya menceritakan kisahnya sudah gemar menulis sejak usianya 7 tahun. "Sejak kecil ibuku selalu menceritakan dongeng sebelum tidur, kemudian saya senang baca dan akhirnya mencoba menulis cerita diumur 7 tahun," kata Fayanna.

Kemampuan menulis ini pun terus ia latih lo. Hingga di umur 13 tahunnya ini ia telah menciptakan 42 buku terbitan Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) lo, di antaranya novel berjudul Jejak Sahabat dan Bintang di Siang Hari. Atas prestasinya, ia pun memperoleh penghargaan Tunas Muda Pemimpin Indonesia dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan terakhir ia menjadi pembicara di International Book Fair Kuala Lumpur. Keren kan sobat?

Menulis untuk berkomunikasi
Tak hanya Fayanna, ada pula ibu Melly Kiong, Praktisi Mindfull Parenting yang mengajarkan anak-anaknya menulis sejak kecil untuk menunjukkan sebagai komunikasi yang sangat baik antara anak dan orangtua. Ibu Melly, menumbuhkan kebiasaan menulis dari dirinya sendiri sehingga otomatis anak-anaknya meniru perilaku ibunya, salah satu contohnya ibu Melly selalu menuliskan memo pada bekal makanan anak atau menuliskan prestasi yang anaknya capai dan menempelkannya pada kulkas.

Hasilnya, kedua anaknya pun bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan lewat tulisan pula lo, seperti ucapan ulang tahun, valentine, dan lainnya. "Anak akan merasa dekat dengan orangtuanya di mana pun. Melalui tulisan sederhana anak, orangtua pun dapat melihat talenta terpendam anaknya atau bahkan dapat merasakan masalah yang dihadapi anak," kata ibu Melly.

Nah, sudah tahu menulis itu banyak manfaatnya, jadi tunggu apa lagi? Yuk mulai menulis dari hal sederhana seperti mengisi jurnal atau dia buku harian. (M-1)

BERITA TERKAIT