Kera, Kelinci, dan Zebra Punya Cerita


Penulis: Suryani Wandari /(M-1) - 12 May 2018, 23:50 WIB
img
DOK PRIBADI

SEUSAI memperkenalkan diri di depan anak-anak, Kak Ana dari komunitas Ayo Dongeng Indonesia tak henti-hentinya menggaruk tubuhnya. Tangan, kaki, hingga pipinya digaruk cepat. Rupanya bukan hanya Kak Ana, Kak Yani pun terus menyentuh hidungnya dengan jari. Wah, ada apa ya sobat?

Tak lama kemudian kak Ana bersuara. "Uu a akk," kata Kak Anna.

"Pasti jadi kera," teriak salah seorang anak menebak apa yang diperagakan Kak Anna.

Ya, benar sobat, Kak Ana memang sedang beralih peran menjadi seekor kera. Begitu pun Kak Yani, ia menjadi kelinci lucu yang menggemaskan dengan suara nyaring.

Mereka sedang mendongeng kisah kera dan kelinci yang masing-masing terganggu kebiasaan temannya ini lo. Menurut Kak Yani, ekspresi muka dan sikap memang harus dilakukan agar cerita dongeng itu sampai kepada penonton dan harus dilakukan tanpa malu dan ragu-ragu lo. Selain seru, kisah dongeng yang ditampilkan pun memiliki pesan yang tersembunyi lo. Mau tahu? Yuk ikuti Medi!

Asal-usul kuda zebra
Beragam dongeng ditampilan pada acara Dongeng Kejutan Bersama para Penjaga Mimpi dari Ayo Dongeng Indonesia, Sabtu (5/5), di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, dalam acara Speak Up! Festival Literasi Dua Bahasa.

Di antaranya ada kak Ana dan Kak Yani yang menceritakan kebiasaan kera dan kelinci. Mereka berlomba untuk tidak melakukan kebiasaan itu dalam waktu lama. Namun, usaha mereka gagal lo, mereka tidak tahan untuk tidak melakukannya, seperti menggaruk tubuh atau menyentuh hidung meskipun sebenarna tidak gatal.

"Aku tidak tahan menyentuh hidungku, sepertinya kita tidak boleh melarang menghentikan kebiasaan orang lain. Yang harusnya kita lakukan itu saling menghargai kebiasaan orang lain bukan?" kata Kak Yani, si kelinci kepada sang Kera.

Tak hanya itu, dongeng lainnya pun hadir seperti kisah sepatu ajaib, batu ajaib, hingga asal-usul kuda zebra yang di dongengkan Kak Purwa. Mau tahu ceritanya?

"Zaman dahulu ada dua kelompok kuda, kuda hitam dan kuda putih. Tapi ada aturan yang tidak membolehkan kuda ini saling bertemu," kata Kak Purwa.

Aturan itu dibuat pula dalam waktu datangnya kuda-kuda ke sungai untuk mengambil minum. Kuda hitam hanya boleh meminum di pagi hari, sedangkan kuda putih di siang hari.

"Zeze, si anak kuda hitam ini ingin sekali minum di malam hari, hal itu pun dirasakan pula oleh Bibra, anak kuda putih yang kehausan. Kedua anak kuda berbeda warna ini menghiraukan aturan tersebut dan datang ke sungai. Mereka bertemu," kata Kak Purwa melanjutkan kisahnya.

Mereka saling berpandangan agak lama karena merasa aneh, di kelompoknya tak ada warna yang sama dengan lawannya tersebut. Tapi akhirnya mereka menjadi sahabat yang sering bermain bersama tanpa sepengetahuan orangtuanya. Namun sayang, ketika rahasianya ini terbongkar, mereka diusir orangtuanya masing-masing dan pergi ke hutan. Mereka pun bertemu lagi.

"Lama hidup berdua, mereka pun dikarunia anak dengan warna tubuh paduan dari ayah dan ibunya. begitupun dengan namanya diambil dari nama orangtuanya Zeze dan Bibra menjadi Zebra," kata kak Purwa menyelesaikan dongengnya. Tepuk tangan pun riuh terdengar.

Berlatih mendongeng
Kisah dongeng dari kakak Ayo Dongeng Indonesia ini memang seru ya sobat, kisah itu diambil dari dari buku-buku cerita pendek lo. Ya, mendongeng dapat dilakukan dengan beragam teknik seperti membacakan cerita dengan buku, dan membacakan cerita secara langsung tanpa membacakan buku, bisa juga menggunakan peraga seperti boneka dan lain-lain.

Jika sobat ingin belajar mendongeng coba perhatikan bebarapa hal penting yang dirangkum menjadi sebuah kata Ceria. "Ceria berasal dari kata cerita, gestur atau gerak tubuh, suara, ekspresi, alat bantu," kata Kak Yani.

Kak Yani melanjutkan, dalam bercerita kita harus jujur, tidak ada yang dikurangi dan ceritakan saja semua tanpa pernah mengkhawatirkan pesannya sampai atau tidak.

Melalui kegiatan dongeng ini, Ayo Dongeng Indonesia ingin kembali menumbuhkan minat orang tua dan anak-anak untuk mendongeng. "Banyak manfaat yang di dapat, di antaranya dapat membangun kedekatan emosional orang tua dan anak, dapat mentransfer sejarah dan pengetahuan, pengembangan karakter dan emosi, belajar imajinatif dan kreatif, membangun minat baca dan tentunya dapat menghibur," kata Kak Yani.

Mendongeng itu mudah dan sederhana lo, Sobat Medi pun bisa mencobanya dengan alat bantu seperti boneka jari atau benda-benda yang ada di sekitarmu. (M-1)

 

BERITA TERKAIT