Suka Duka Hari-Hari di Balik Jeruji


Penulis:  (AT/M-4) - 06 May 2018, 06:40 WIB
img
MI/ARDI TERISTI HARDI

SAMBIL bersila, seorang laki-laki khusyuk membaca Alquran di depannya. Sambil mengeja, tangan kanannya menunjuk jalinan huruf dalam kitab suci agama Islam tersebut. Di hadapannya, seorang lelaki tampak sedang menyimak ucapan yang dilafalkan.

Potret lelaki yang sedang membaca Alquran di bawah bimbingan guru mengajinya itu tertangkap dalam bidikan kamera. Karya foto berjudul Iqro itu diambil saat berlangsungnya kegiatan pembinaan rohani di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Salemba, Jakarta Pusat.

Tak jauh dari sana, ada juga foto yang menunjukkan seorang lelaki sedang mempersiapkan papan kayu berukir kaligrafi. Foto tersebut diberi judul Kaligrafi kayu, salah satu kegiatan asistensi Kanwil Kemenkum dan HAM Lampung di LP Narkotika Lampung.

Dua foto itu ditampilkan dalam pameran fotografi di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, dalam rangkaian acara Indonesian Prison Art Festival (IPAFest) 2018 pada 23-24 April lalu. Ada 79 foto yang ditampilkan, mulai dokumentasi penjara pada masa penjajahan hingga kondisi LP dan rutan terkini.

Semuanya hasil bidikan kamera Humas Dirjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang diambil JP Budi waskito, Denni Nurpatria, dan Nanda Hakiki.

Sebagian besar foto yang ditampilkan menunjukkan potret kehidupan di balik dinding penjara. Misalnya, sebuah foto yang diberi judul Locker. Tampak loker-loker yang berderet lengkap dengan kunci. Sebuah potret yang menunjukkan ketatnya pemeriksaan di Lapas.

Ada pula potret tentang Ujian Nasional Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak Pria di Tangerang. Potret tersebut menunjukkan, anak-anak usia sekolah tetap memperoleh hak pendidikan walau berada di rutan.

Di foto lain, ada potret tentang kegiatan pemungutan suara Pilkada 2016 di Lembaga Pemasyarakatan Cibinong yang diberi judul LUBER Demokrasi. Ada pula foto pertandingan tinju di Rutan Cipinang dengan judul Hook.

Pameran ini sendiri diadakan untuk menunjukkan perkembangan pemasyarakatan yang sudah berusia 54 tahun, mulai dari bangunan lapas/rutan tempo dulu sampai sekarang, pembinaan warga binaan pemasyarakatan, dan petugas pemasyarakatan.

Ade Kusmanto, Kabag Humas dan Protokol Direktorat Jendral Pemasyarakatan Kemenkum dan HAM menuturkan, dalam sejarahnya, dulu penjara dibuat untuk membuat jera dengan cara menghukum. Di LP Sukamiskin, misalnya, ada ruangan untuk memenjarakan orang yang hanya cukup untuk jongkok saja.

Namun, sekarang konsep hukuman Lapas telah menjadi tempat pembinaan sehingga konsepnya lebih humanis. Mulai dari penyediaan tempat ibadah, olahraga, dan berbagai kegiatan positif yang lain.

Pembinaan dilakukan berdasarkan nilai-nilai Pancasila dengan melibatkan masyarakat sehingga warga binaan menyadari kesalahannya, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi kembali tindak pidana, serta dapat aktif produktif dalam pembangunan.

"Saat ini perlakuan terhadap narapidana menjunjung tinggi hak asasi manusia. Bangunan LP atau rutan tidak lagi menyeramkan karena konsepnya adalah pemasyarakatan," sebutnya.

BERITA TERKAIT