Membangun Pendidikan Demi Energi Masa Depan Desa Tampur Paloh


Penulis: (Gnr/S4-25) - 02 May 2018, 07:00 WIB
img
Dok Pertamina

BANJIR bandang di Desa Tampur Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, pada 2006 menjadi titik terkelam bagi desa yang berlokasi di paling hulu Sungai Aceh Tamiang tersebut. Tak terhitung jumlah kerugian materiel masyarakat yang sebelumnya harus menempati wilayah tersebut akibat konflik yang disebabkan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Bukan hanya harta benda yang hilang, pendidikan anak-anak desa itu pun menjadi terbengkalai. Banjir bandang akibat pembalakan liar yang berlebihan tersebut memaksa masyarakat mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Akibatnya, akses anak-anak menuju sekolah menjadi terbatas.

Akses menuju sekolah negeri terdekat harus ditempuh sekitar 2 jam perjalanan menggunakan perahu. Desa Tampur Paloh tidak memiliki sekolah dan tenaga pendidik yang bisa diandalkan untuk mengajar anak-anak. Kondisi tersebut membuat para orangtua justru melibatkan anak mereka untuk ikut menebang pohon di hutan, bukan lagi memikirkan sekolah sang anak.

Di tengah kondisi memprihatinkan bagi pendidikan anak-anak itu, pemuda asal Aceh bernama Ali Muda Tinendung hadir karena rasa empatinya yang besar terhadap anak-anak Desa Tampur Paloh. Menganggap anak-anak desa selayaknya anak sendiri, Ustaz Ali--begitu ia disapa--mulai melakukan pendekatan terhadap anak-anak tersebut untuk kembali menuntut ilmu.

Metode yang digunakan Ali sangatlah sederhana karena tanpa ruang kegiatan belajar (RKB). Ia akan segera mengeluarkan alat tulisnya begitu melihat kumpulan anak-anak desa di mana pun berada. Dapat disebut, hutan belantara, daerah aliran sungai, gubuk sederhana, lapangan terbuka, dan pohon rindang menjadi ‘ruang kelas’.

Ali juga mulai melakukan pendekatan kepada para orangtua murid dan tokoh masyarakat untuk dapat mendirikan RKB. Upaya yang dilakukannya setelah pemulihan pascabanjir bandang itu mendapat sambutan positif hingga pada 2007 berdirilah SMP Swasta Merdeka yang dibangun dengan semangat gotong-royong.

Ali fokus membangun SMP karena saat itu sudah berdiri SD negeri. Cuma, keberadaan SD negeri tidak serta-merta menjawab permasalahan pendidikan karena akses SMP terdekat tergolong jauh dan sulit. Tanpa keberadaan SMP, dikhawatirkan anak-anak kembali ke hutan untuk membantu orangtua menebang pohon.

Siekula Anak Nangroe
Bukan hanya warga Desa Tampur Paloh yang diajak Ali untuk membangun SMP Swasta Merdeka. Melalui program Siekula Anak Nangroe atau Sekolah Anak Negeri yang diinisiasi Pertamina EP Asset-1 Field Rantau, SMP Swasta Merdeka terus berkembang dan mengakomodasi kebutuhan pelajar.

SMP Swasta Merdeka kini memiliki tiga RKB, dua sarana sanitasi atau MCK, asrama guru, dan perpustakaan. Dengan demikian, anak-anak kelas 1, 2, dan 3 SMP Swasta Merdeka masing-masing memiliki ruang kelas.

Permasalahan tak berhenti dengan berdirinya SMP Swasta Merdeka. Tanpa jenjang yang lebih tinggi setelah SMP atau sekolah menengah atas, anak-anak Desa Tampur Paloh kembali kesulitan melanjutkan kegiatan belajar. Dampaknya, angka pernikahan dini meningkat karena banyak keluarga yang menikahkan anak usai lulus SMP, terutama perempuan yang mereka anggap sudah jalan takdir mengabdi di rumah.

Keprihatinan kembali muncul dalam diri Ali dan Pertamina EP Asset-1 Field Rantau. Upaya keduanya untuk mengentaskan masalah tersebut mewujud pada madrasah aliyah yang berdiri pada 2016. Lewat madrasah tersebut, lulusan SMP Swasta Merdeka akhirnya meneruskan studi dan angka pernikahan dini dapat ditekan.

Selain membangun sekolah, Ali berupaya memupuk kepedulian anak-anak Desa Tampur Paloh pada alam agar pembalakan liar semakin berkurang. Ia memberikan pendidikan cinta lingkungan kepada anak didiknya, seperti melakukan penanaman pohon dan mengajarkan praktik pertanian organik yang hasilnya dimanfaatkan untuk konsumsi sehari-hari.

Hingga hari ini, Sieukula Anak Nangroe terus bergiat merajut masa depan Desa Tampur Paloh melalui pendidikan anak-anak. Siekula Anak Nangroe adalah satu dari antara sekian banyak sekolah maupun institusi pendidikan lainnya yang termasuk dalam program CSR Energi Edukasi Pertamina. (Gnr/S4-25)

BERITA TERKAIT