Anak Petani Mengungkit Nasib Petani


Penulis: Iis Zatnika / (M-1) - 29 April 2018, 04:00 WIB
DOK PRIBADI
DOK PRIBADI

JARAK yang terbentang antara lahan yang disewa buat menanam buncis dan ketimun itu cuma beberapa kilometer dari pasar, tapi harga yang terpaut bisa sangat jauh jika diukur dari peluh dan waktu yang dikorbankan para petani buat menanamnya.

"Kalau dari petani, hasil panen buncis itu hanya dihargai Rp12 ribu per kg, padahal harga jualnya di pasar bisa sampai Rp20 ribu, jadi yang paling adil Rp15 ribu. Untuk ketimun, harganya lebih murah lagi, Rp3.000 per kg, dijual ke konsumen Rp8.000. Kalau yang paling ideal dan adil buat petani seharusnya Rp6.000," kata Izul Mabruroh, mahasiswa Teknologi Pertanian, Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatra Selatan, tentang kabar terakhir yang diperolehnya dari orangtuanya di Desa Bangun Harja, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah.

Harga jual hasil panen hortikultura, yang digeluti mayoritas warga desanya, kata Izul, memang sangat jarang bergerak di atas biaya modal. Kendati begitu, hasil panen yang bisa dibawa dari kebun ke rumah tak lantas menghentikan keseharian mereka berikhtiar dengan cangkul, tanah, bibit, pupuk, juga hama.

"Karena itu satu-satunya pilihan penghidupan di sana. Walau ada juga petani dengan lahan luas yang hidupnya lebih baik, yang lebih banyak penggarap lahan seperti orangtua saya yang menyewa atau dipinjamkan tanah oleh warga lokal. Mereka harus berjuang keras dengan kondisi lahan, hasil panen dan serangan hama."

Terlebih, kata Izul, hama di lahan pertanian desanya bukan cuma beraneka rupa, melainkan juga rajin menyerang. "Kondisi itulah yang membuat saya terpacu untuk lebih serius lagi belajar karena sebenarnya ada banyak solusi yang bisa mengangkat nasib petani. Soal keasaman tanah, pengelolaan tanah yang baru pertamakali dibudi daya hingga teknik pemasaran, itu bisa dibenahi," kata peraih beasiswa Anak Petani Jadi Sarjana PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) itu. Program ini dikhususkan bagi mahasiswa fakultas pertanian yang punya orangtua petani.

Merintis jalannya untuk menjadi penyuluh, karier yang akan dipilihnya seusai lulus nanti, Izul berkomitmen akan meneruskan siklus kontribusi itu kepada para petani di desanya.

"Penyuluh yang ideal itu bisa memberdayakan dalam semua aspek supaya petani bisa kuat mulai teknik penanaman hingga pascapanennya," ujar Izul.

Inovasi bawang merah

Dari beasiswa, beroleh semangat dan bantuan dana untuk memberdayakan orangtua dan para petani negeri ini juga disuarakan mahasiswa Fakultas Pertanian Unsri, Riohasiholan Sijabat, dari jurusan agribisnis.

Lahir dan besar di Pulau Samosir, salah satu destinasi wisata kebanggaan negeri ini, Rio dibesarkan orangtuanya dari hasil panen hortikultura, yang kini berwujud jagung dan bawang merah.

"Inovasi sebenarnya sudah berupaya dilakukan orangtua dengan menanam bawang merah yang sebenarnya terbilang tanaman baru karena melihat harganya yang bagus," ujar Rio yang bertekad menggeluti bidang riset pertanian seusai lulus nanti.

Sayangnya, kata Rio, ikhtiar yang dilakukan orangtuanya, pun petani-petani lain di sekitarnya, terkendala pemahaman tentang teknik dan porsi pemupukan yang tepat.

"Padahal, pupuk menjadi salah satu penentu kesuksesan mereka untuk meningkatkan unsur hara tanah, selain bibit," kata Rio yang selain mendapat pemahaman tentang pupuk dari bangku kuliah, sempat mengeksplorasi industri pupuk dalam proses seleksi beasiswa Anak Petani Jadi Sarjana.

Karet minim pupuk

Menjadi sarjana pertanian untuk mengungkit penghidupan orangtuanya, pun pera petani lainnya, juga tengah dirintis Siti Angrum Sari, juga mahasiswa Unsri, dari jurusan ekoteknologi.

Dibesarkan di desa yang hidup dari kebun karet dan sawit, Angrum menemukan fakta komoditas itu cenderung dianggap sebagai warisan yang dikelola apa adanya, minim sentuhan inovasi, bahkan perawatan.

"Yang seharusnya pemupukan dilakukan setahun sekali minimal, kerap tidak dilakukan, belum lagi bicara soal peremajaan," ujar Angrum yang meyakini, dengan teknik pengelolaan yang optimal, kebun karet dan sawit dapat mengangkat kondisi perekonomian petani di desanya.

"Saat ini seperti halnya petani-petani lainnya, hasil panen itu dipas-paskan dengan kebutuhan hidup, padahal dengan luas lahan rata-rata 1 hingga 2 hektare, hasil yang diperoleh bisa lebih maksimal," kata Angrum yang terpapar pengetahuan tentang teknik pemupukan, selain dari kampus, berkat interaksinya dengan Pusri.

Anak-anak petani itu, yang membutuhkan bantuan dana, terus diberdayakan untuk kemudian memberdayakan. Sebelum menghadapi tantangan di kebun, kata Ning, superintendent CSR Pusri, mereka kini berhadapan dengan keharusan mempertahankan IPK 3,00 untuk terus mendapatkan beasiswa. Kabar baiknya, setelah dibuka pertama kali di Unsri, mulai 2018 Anak Petani Jadi Sarjana juga ditawarkan buat mahasiswa pertanian Universitas Lampung dan Bengkulu. Unggul di kampus agar andal ke kebun! (M-1)

Muhammad Husni, Jurusan Agribisnis Universitas Sriwijaya (Unsri)

Karena dipacu secara akademik untuk mendapatkan beasiswa ini, saya makin semangat belajar. Harus diakui, petani kita harus berjuang terus agar dapat bertahan. Lulus nanti, sebagai bentuk kontribusi, saya akan memilih karier sebagai penyuluh agar dampak yang bisa saya berikan lebih bermakna.

Izul Mabruroh, Jurusan Teknologi Pertanian Unsri

Program studi yang saya ambil ini berlatar pada motivasi saya melihat keseharian orangtua sebagai petani. Ilmu ini tentu berbeda dengan jurusan pertanian biasanya karena keteknikan dikombinasikan dengan pertanian, yang jadi solusi buat masa depan.

BERITA TERKAIT