Menikmati Karya Seni para Bipolar


Penulis: Zuq/M-4 - 22 April 2018, 07:00 WIB
img
MI/ADAM DWI

JEJERAN 78 lukisan kanvas itu begitu menarik. Tidak hanya satu macam gaya saja yang ditampilkan, setiap karya punya gaya berbeda. Tiap-tiap lukisan pun punya pesan dan kesannya sendiri.

Setiap mereka punya keunggulannya sendiri. Jika satu dengan garis, yang lain dengan warna. Jika yang satu dengan komposisi gelap pekat, yang lain tampil dengan paduan warna cerah.

Namun, itulah yang menjadikan pameran Ekspresi Ragam Jiwa karya 23 seniman di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, April 2018, menjadi menarik.

Sebutlah karya Olivia Febrianne berjudul Control. Warna hitam saling bertelikung membentuk pola lingkaran bertumpuk. Cipratan warna putih timbul di antara warna hitam, sedangkan warna merah berusaha untuk bisa berpadu utuh dengan warna lain.

Karya itu bercerita sebuah kondisi ketika manusia tidak bisa mengontrol semuanya. Ada momen tertentu terjadi di luar kontrol. Sering kali itu ialah momen kelam, tetapi kadang pula momen yang menakjubkan.

Karya lain berjudul Sedih Sendiri oleh Vindy Ariella. Figur-figur kecil yang hanya tampak muka, tampak tersenyum lebar dengan ikon emosi tertawa, sedangkan satu wajah terlihat menekuk mulut.

Lukisan yang dibuat dengan medium spidol di atas kertas itu menceritakan kesedihan mendalam yang dirasakan seseorang saat orang lain sedang tertawa bahagia.

Berbeda dengan karya Amsayna Lubis berjudul Fear Life. Karya bermedium pensil warna di atas kertas itu tengah bercerita seorang anak yang terjebak dalam kecemasan dan ketakutan.

Ketua acara Agus Hidayat mengatakan, pameran tersebut diadakan dalam rangka Hari Bipolar Sedunia 2018, bagian dari perayaan tahunan dari Bipolar Care Indonesia (BCI). BCI merupakan komunitas yang bergerak di bidang kesehatan jiwa khususnya gangguan bipolar.

"Ini salah satu kampanye kita melawan stigma. Melalui kegiatan seperti pameran ini masyarakat lebih peduli dengan kesehatan jiwa, serta tidak lagi menstigma orang dengan masalah kejiwaan," terang Agus.

Saat menikmati karya-karya itu, memang tidak muncul praduga sedikit pun bahwa seni visual itu dihasilkan para pelaku seni dengan gangguan kejiwaan, seperti bipolar, depresi, dan kepribadian ganda.

Selain itu, pameran itu juga menjadi bukti bahwa penyandang bipolar bisa tetap berkarya. Salah satunya melalui dunia seni. "Seni adalah media kampanye juga sekaligus sebagai media terapi bagi penyandang bipolar," lanjut kurator pameran Joko Kisworo yang juga salah satu pegiat BCI.

Meski pameran diikuti peserta dengan gangguan kejiwaan, helatan itu tidak pernah dimaksudkan untuk membuat kotak atau sekat yang terpisah dari para pelaku seni lainnya. Sebaliknya, pameran itu ditujukan untuk para penyandang gangguan kejiwaan bisa dan berani untuk menunjukkan diri mereka.

Ketika mereka mampu berekspresi maka mereka bisa melepaskan isi jiwa mereka dengan bebas atau yang sering disebut katarsis. Tidak ada yang salah dalam membuat sebuah karya seni sebagai ungkapan jiwa.

"Katarsis adalah tujuan utamanya dan kebebasan adalah salah satu kuncinya," tegas Joko.

Menurut Joko, jika penyandang bipolar tidak berani bersuara, tidak akan ada perubahan dalam melawan stigma yang selama ini sering dialamatkan pada para ODMK. "Diharapkan hasil karya luar biasa ini dapat merubah stigma negatif yang tadinya dipandang sebelah mata akan menjadi sangat luar biasa menginspirasi ide peradaban bangsa," pungkas Joko.

BERITA TERKAIT