Menonton dan Belajar dari Film


Penulis: Fathurrozak Jek/M-1 - 22 April 2018, 04:30 WIB
img
MI/Duta

Sekitar pukul 18.30 WIB beberapa orang sudah menggerombol di lobi Kineforum. Ada yang duduk berkelompok, tidak jarang pula ada yang berdiri. Mereka ialah para penonton yang ingin segera menikmati film Ziarah, garapan BW Purbanegara.

Film itu memang sudah beredar di bioskop komersial pada medio Mei tahun lalu. Namun, April ini lewat layar Kineforum, film yang sudah lama turun dari bioskop itu bisa disaksikan kembali, dalam program Rumput Tetangga.

Kineforum merupakan ruang pemutaran alternatif pertama di Jakarta, yang sudah ada sejak 2006. Dalam perkembangannya, Kineforum menawarkan program-program tayangan film tiap bulannya. Seperti pada April ini, melalui tema Rumput tetangga, Kineforum ingin mengajak kita membahas wacana budaya dan kehidupan masyarakat negara tetangga kawasan Asia Tenggara, lewat film.

Cerita dari pembuat

Selain menayangkan film-film dari negara kawasan ASEAN pada bulan ini, sesi diskusi sebagai pendamping film juga menghadirkan narasumber yang berlatar belakang di luar dunia sinema. Itu upaya untuk memenuhi makna bagaimana Kineforum mengartikan nama mereka, kine berasal dari cinema yang identik dengan 'gambar bergerak' dan forum yang berarti ruang pertemuan gagasan sehingga film-film yang ditayangkan menjadi pemantik terbukanya ruang diskusi dengan bahasan yang lebih luas daripada sekadar dunia film.

Sebagai forum yang berada di bawah naungan komite film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Kineforum mendapatkan sokongan dana dari DKJ meski para programer, sebutan untuk para pengelola dan penyusun program, juga mengupayakan lewat donasi penonton.

"Sepanjang saya mengelola Kineforum (2017-April 2018), pendanaan Kineforum sebagian besar didapat dari DKJ (setahu saya hibah dari DKI); sebagian lagi dari pengumpulan setengah dari donasi penonton Kineforum (karena setengahnya kami berikan kepada pemilik film) dan penyewaan ruang studio Kineforum," buka Suryani Liauw, manajer Kineforum yang baru menjabat sejak 2017.

Kehadiran ruang putar alternatif seperti itu tentunya membuka peluang bagi para sineas dan pemilik lisensi film, baik produser maupun distributor, memperpanjang napas film mereka untuk bertemu dengan para penonton.

"Setengah dari donasi yang didapatkan dari penonton kami berikan kepada para pemilik film (yang tidak selalu sineas)," lanjut perempuan yang juga berkutat sebagai produser itu.

Lahirnya ruang pemutaran alternatif juga muncul akibat keprihatinan film-film bagus yang cepat turun layar di bioskop komersial. Sinema Rabu, bentukan Panji Mukadis, ialah salah satunya. Ia mengajukan program pemutaran alternatif di Paviliun 28, sebuah kedai yang memiliki minibioskop, terletak di Petogogan, Jakarta Selatan.

"Soal pembentukan Sinema Rabu. Jadi, gue tahu Paviliun 28 dari awal mau dibangun. Sebelumnya udah ngajuin program, tapi belum nemu format yang pas. Kemudian akhirnya 2015 awal gue ada keprihatinan juga soal film-film yang bagus di Indonesia yang cepat turun dari bioskop. Ya akhirnya ngajuin program ke Paviliun 28. Formatnya seperti sekarang," terang Panji.

Sinema Rabu

Sesuai dengan namanya, Sinema Rabu, pemutaran dilakukan tiap Rabu. Melalui kerja sama dengan Paviliun 28, Panji dengan Sinema Rabu-nya mendapat slot khusus, dengan bagi hasil 20% bagi Pavilun 28. Sementara itu, untuk kontribusi ekonominya, programer dan pemilik lisensi film sama-sama mendapatkan 40% dari jumlah harga tiket saat penayangan.

Untuk program yang ditawarkan, Panji mengaku melihat film yang tergolong penting, atau unik, sebagai pertimbangan program penayangan. Namun, karena Sinema Rabu memiliki tanggung jawab moril terhadap lokasi yang digunakan, ia juga harus mempertimbangkan film yang mampu mendatangkan banyak massa. Seperti terlihat pada medio Januari lalu, Sinema Rabu menampilkan film A Copy of My Mind garapan Joko Anwar, yang menurut pengamatan Muda mendatangkan banyak penonton pada malam Rabu tersebut.

Militansi para programer

Ketika Sinema Rabu hadir dengan program tiap malam Rabu mereka, Kineforum berbeda dengan mengusung tema-tema tertentu tiap bulannya. Untuk menyiapkan program pemutaran, tentu materi harus tersusun dan dipersiapkan sejak jauh hari. Bila salah perhitungan, bisa-bisa film yang sudah direncanakan gagal tayang.

Dalam beberapa ruang pemutaran, perspektif mengenai suatu gagasan tema menjadi bangunan utama sebelum akhirnya pemilihan film-film yang ditayangkan mengemuka. Di Kineforum, Suryani Liauw dibantu Ifan A Ismail, sebagai koordinator program, memilih tema dan film yang akan mendukung program.

"Idealnya judul film sudah harus di-lock satu bulan sebelumnya, paling lambat banget ya tiga minggu sebelum program mulai, agar kemudian bisa menyusun jadwal pemutaran dan mulai dan mulai proses pembuatan materi publikasi," terang Suryani.

Begitu pula yang dilakukan Alexander Mattius, programer Kinosaurus, ruang pemutaran alternatif di Kemang, Jakarta Selatan. Ia memilih tema yang akan menjadi pembahasan kemudian memilih film yang cocok dan sesuai dengan tema.

Lelaki yang juga mengurus Cinema Poetica, salah satu kanal daring khusus kajian film, menganggap kemunculan beberapa ruang pemutaran alternatif ialah penanda keinginan masyarakat untuk terlibat aktif dalam dunia sinema.

"Menurut saya, ada keinginan untuk bisa belajar lebih banyak lagi, berbagi pengetahuan, bisa bertemu dengan film-film yang lebih banyak lagi. Menandakan sebagai fenomena bahwa masyarakat ingin terlibat aktif."

Permasalahan utama yang dihadapi, sekaligus menjadi tantangan para penggiat ruang pemutaran alternatif, ialah akses terhadap film dan operasional ruang pemutarannya sendiri.

Alexander Mattius, yang akrab disapa Mamat, menganggap mendapatkan materi film, karena keterbatasan medium, menjadi tantangan bagaimana tiap ruang pemutaran alternatif harus mampu meyakinkan film mereka aman.

Selain itu, terkait dengan keberlanjutan ruang alternatif, faktor pendanaan menjadi fokus tersendiri meski tidak dominan. Pendapatan dari bagi hasil biasanya akan digunakan sebagai biaya operasional ruang pemutaran alternatif. "Membayar infrastruktur, bisa membayar honorarium tiap pekerja, mengganti uang transpor, dan pertimbangan lain yang membutuhkan uang. Intinya untuk sustainability ruang putar."

Bila bukan karena cinta dan gairah pada dunia film, tentu mungkin para programer ini sudah kabur. Namun, tekad untuk mendistribusikan pengetahuan lewat medium film menjadi semangat militansi mereka.

"Saya pengin orang lain mendapatkan akses ke film yang saya anggap penting," ungkap Ifan A Ismail, koordinator program Kineforum.

Meski jauh dari ideal, apa yang dilakukan para programer ruang pemutaran alternatif ini patut mendapat apresiasi, sebagai upaya menghadirkan variasi sinema pada publik, dan menjadi ruang pertukaran gagasan.

"Memahami situasi yang ada, kami yakin kami semua, yang mengelola ruang putar alternatif baik itu berbasis nonprofit, komersial, maupun komunitas, sudah melakukan apa yang bisa dilakukan semampu kami masing-masing," tutup Suryani. (M-1)

Opini Muda

Ester Setiawan, Staf Publikasi Kineforum

Aku ikut bergabung dalam tim pendukung Kineforum karena untuk memenuhi mata kuliah magang sebagai syarat kelulusan. Kemudian karena tidak menolak tawaran dari Lulu Ratna, salah satu anggota Komite Film DKJ. Aku juga berharap ke depannya adanya ruang pemutaran alternatif ini bisa semakin mendidik penonton Indonesia lewat forum diskusi di antara sesama penonton dan pembuat film.

Poetra Rizky Harindra, Koordinator Operasional Kineforum

Dengan bergabung di Kineforum, tentu saya ingin membantu menyajikan program untuk penonton. Dari situ saya bisa mendapatkan pelajaran tentang kedisiplinan. Ke depannya, saya pun berharap akan makin banyak ruang putar alternatif, dan bermutu.

BERITA TERKAIT