Sewa Ruangan semakin Praktis


Penulis: Rizky Noor Alam - 19 April 2018, 11:19 WIB
MI/Ramdani
MI/Ramdani

Pengantar:

Mereka adalah  pelopor-pelopor ekonomi baru Indonesia, yang memadukan teknologi digital, semangat pemberdayaan, dan optimisme bahwa Indonesia bisa eksis di tingkat global. Dalam memperingati 48 tahun Media Indonesia, kami menampilkan 49 pembaru ini setiap pekannya, inilah sosok ke-11.

----------------------------------

BISNIS sewa-menyewa ruangan untuk keperluan pesta pernikahan, ulang tahun, atau acara gathering lainnya, sudah tidak asing lagi. Sudah banyak pula orang yang berwirausaha di bidang penyedia jasa tersebut. Biasanya ruangan tersebut ramai disewa di akhir pekan.

Namun, kini ada bisnis penyewaan ruangan untuk keperluan bisnis bagi perusahaan-perusahaan besar, menengah, maupun kecil. Cara memasarkannya pun lewat daring (online). Itulah yang dilakukan Xwork, yakni sebuah online marketplace (pemasar­an ruang secara daring).

Perusahaan start up (rintisan) yang sudah berdiri lebih dari 2 tahun itu menawarkan jasa sewa ruangan untuk keperluan di hari kerja. Ruangan yang disewakan pun bervariasi, baik dari segi luas maupun kelengkapan fasilitas di dalam ruangan.

“Awalnya, kita memulai Xwork dari masalah pribadi. Kebetulan kami sudah mengelola ruangan sebelumnya, kita ada beberapa venue di gedung yang biasanya disewa untuk pernikah­an dan rapat-rapat,” ujar CEO Xwork, William Budihardjo, 26, di kantornya di kawasan Slipi Jakarta Barat, Kamis (12/4).

Dari ruangan-ruangan tersebut, lanjutnya, William dan timnya memasukkan ke Bridestory dan Weddingku setiap Sabtu atau akhir pekan.

“Selalu full booked setiap Sabtu dan minggu, tetapi Senin-Jumat malah kosong. Sangat disayangkan padahal ruangan-ruangan itu punya fasilitas memadai dan pernah disewa oleh perusahan-perusahaan besar,” tambah William.

Saat itu William dan tim melihat untuk hari kerja belum ada platform yang membantu menyewakan ruang­an. Dari sanalah ide tercetus membuat suatu platform online website.

“Platform tersebut bisa membantu memasarkan ruangan milik kita dan  venue-venue lain. Pasti akan banyak sekali orang-orang yang memiliki venue kosong yang membutuhkan hal serupa,” jelasnya lagi.

Mudah
Lebih lanjut, William mengatakan, saat ini sudah ada 1.200 ruangan yang dapat di sewa melalui Xwork. Ruangan itu tersebar di Jabodetabek, Bandung, Medan, Surabaya, dan Bali, sedangkan pelanggan yang menyewa sudah 1.000 perusahaan.

Cara menyewanya pun mudah, pelanggan cukup membuka website (laman) Xwork dan akan langsung disuguhkan beragam pilihan ruangan beserta rincian harganya. Tarif yang dipasang sendiri tergolong terjangkau, yakni termurah Rp60 ribu per jam dan yang termahal hingga jutaan rupiah. Untuk pembayarannya sendiri, bisa melalui transfer maupun kartu kredit.

Pilihan jangka waktu sewanya juga bervariasi mulai dari per jam, per 4 jam, per 8 jam, 1 hari penuh, atau 1 bulan.

“Kita juga menyediakan layanan fasilitas kredit untuk perusahaan besar, yaitu lebih seperti billing. Misalnya, dalam 1 bulan bisa pakai ruangan dulu dan nanti baru akhir bulan bayarnya, karena kalau perusahaan besar butuh approval finance yang berlapis-lapis dan kita mengerti itu dan bisa dibantu mengakomodasi­nya,” imbuhnya.

Meskipun begitu, William enggan menjelaskan berapa hitung-hitungan bagi hasil yang diperoleh Xwork dengan pemilik ruangan. Sebabnya, tarifnya ditentukan oleh para pemilik ruangan. Menurutnya, tidak ada kriteria khusus untuk ruangan yang akan dipasarkan. Syaratnya cuma satu, yakni lolos proses verifikasi dari timnya.

“Verifikasi pertama, apakah ruang­annya layak atau tidak untuk dipasarkan. Kelayakan dilihat apakah mudah diakses. Kedua, faktor kebersihan ruangan. Ketiga, fasilitas-fasilitas yang memadai dan keempat kita memiliki standar minimal ada free wi-fi dan free mineral water,” paparnya.

William mengatakan, setidaknya ada tiga target pasar Xwork, pertama,  perusahaan besar yang sering melakukan pelatihan maupun gathering untuk para karyawannya. Target kedua, perusahaan kecil dan menengah yang punya 100 karyawan, dan ketiga, perusahaan-perusahaan start up.

Namun demikian, ia mengaku, untuk saat ini pihaknya belum dapat mengakomodasi para pekerja perorangan (freelancer) yang ingin menyewa ruangan di Xwork untuk bekerja.

Selain menyewakan ruangan, Xwork juga menawarkan jasa katering makanan. Pelanggan dapat memesan camilan atau menu makan siang untuk menunjang aktivitas mereka di ruangan yang disewa.

Ada beragam paket yang ditawarkan dan nantinya akan disatukan ke dalam satu in voice dengan penyewaan ruangan.

“Sehingga nanti company tidak perlu reimburs lagi karena sudah digabung dengan ruangan meeting, jadi mempermudah pembayaran,” tambahnya.

Di awal berdirinya pada 2015, William menceritakan bahwa perusahaan rintisannya tersebut berdiri dengan dana investasi pribadi, baru pada Mei 2016 mulai ada beberapa investor yang masuk baik dari venture capital maupun angel investor.

Terkait dengan pengembangan yang sedang dilakukan, William mengaku, saat ini pihaknya masih fokus untuk peningkatan kualitas di internal perusahaannya. Dirinya pun menargetkan di tahun ini jumlah mitra Xwork dapat bertambah dua kali lipat.

“Untuk inovasi yang paling baru dan akan datang itu kita akan meluncurkan mobile app, khususnya yang Android, sekarang sedang dalam proses testing,” lanjutnya.

Bagi William, tantangan yang dirasakannya berkecimpung dalam bisnis ini adalah mengubah pola pikir. Bisnis sewa-menyewa ruangan itu pada awalnya dilakukan secara offline dan masih mengandalkan telepon serta e-mail.

“Untuk meng-online-kan sepenuhnya butuh waktu dan proses,” katanya lagi.

Xwork, kata William, bukanlah pemain tunggal dalam bisnis sewa-menyewa ruang tersebut. Sudah ada beberapa perusahaan asing yang menawarkan model bisnis serupa, tetapi yang menjadi keunggulan dari perusahaannya ialah karena perusahaan lokal maka akan lebih mengerti pasar dan kebutuhan pasarnya sendiri karena bermain di kampung halamannya sendiri sehingga fitur-fitur yang dihasilkan memang sesuai dengan apa yang dibutuhkan.  (X-7)

 

Jualan Buku Bekas Online
PADA awalnya, pendiri Xwork empat orang, tetapi adanya perbedaan pendapat di antara mereka terjadilah pecah kongsi. Akhirnya, hanya William dan beberapa rekan yang bergabung dari awal melanjutkan pengembangan Xwork.

“Sekarang bentuk tim baru, kalau di dunia start up istilahnya co founder break ups dan itu hal paling buruk di start up yang pernah saya alami,” ungkapnya.

Menurut pemuda lajang yang pernah mengenyam pendidikan di ‘Negeri Paman Sam’ itu mengaku, ia tidak hanya fokus berkuliah, tapi juga mencari penghasilan tambahan dengan menjual buku-buku pelajaran bekas secara daring.

Dari pengalaman berkuliah di luar negeri itulah William lebih mengetahui kekurangan dan kelebihannya.

“Dulu waktu kuliah saya juga bisnis sampingan, saya tinggal di asrama dan melihat banyak rekan-rekan saya yang setelah kuliah buku-buku text book milik mereka digeletakkan saja setelah lulus. Sayang banget setiap tahun bukunya dibuang setelah lulus. Di sana saya melihat peluang lalu saya kumpulkan dan dijual lagi di online,” paparnya.

Ternyata usaha sampingannya tersebut berhasil, ada musim-musim ketika  buku yang dijualnya habis terjual hanya dalam waktu 1 minggu.

“Saya pernah membeli 13 buku text book dari salah satu murid dengan total harga US$70, kemudian langsung saya jual lagi dan dalam 1 bulan modal US$70 itu menjadi US$700 itu kelipatan yang lumayan besar dan saya melihat internet itu sangat powerful. Kalau tidak ada internet enggak mungkin saya bisa jualan seperti itu, modal saya cuma kardus, kertas, dan printer serta jasa pengiriman barang dan hasilnya lumayan,” tuturnya.

Dari sana lah William mulai mengembangkan usaha sampingannya lebih besar dengan membuat halaman di Facebook khusus untuk jualannya, dirinya pun mulai me­ngum­pulkan buku-buku bekas yang dibelinya dengan harga murah kemudian dijual kembali.

“Tadinya saya mau buat bisnis seperti itu tetapi mentok di dosen saya. Menurut dia sudah ada yang berhasil melakukan bisnis seperti itu. Selain itu, hambatan lain adalah saya seorang imigran di Amerika Serikat, maka tidak boleh berbisnis, kecuali saya berbisnis dengan dasar pendidikan yang sesuai dengan yang dipelajari di sana,” jelasnya lagi.

Sekembalinya ke Tanah Air, William pun bertekad membangun bisnis di Indonesia dan awalnya ingin melanjutkan bisnis sampingannya menjual buku bekas. Namun, kondisi di Indonesia jauh berbeda dengan Amerika Serikat.

Di Amerika Serikat, lanjutnya, menjunjung tinggi sebuah hak cipta dan ada sanksi penjara yang menunggu jika ketahuan menggunakan buku yang tidak asli. Selain itu, sebuah buku di Amerika Serikat bisa dipakai dalam jangka waktu 4 tahun karena adanya konsistensi kurikulum.

“Kalau di Indonesia kan buku kuliahan bisa di fotokopi atau setahun bukunya ganti, jadi disitu letak perbedaan market-nya,” pungkas William. (Riz/X-7)

----------------------------------

Biodata
Nama: William Budihardjo
Tempat, tanggal lahir:  Jakarta, 5 Maret 1992
Pendidikan: S-1 Engineering di Valparaiso University, Indiana-Amerika Serikat (2014)

Karier:
1.  CEO di Xwork (Oktober 2015-sekarang)
2.  Assistant Superintendent                di The Hageman Group (2014-2015)
3.  Building Associate di Valparaiso University-Harre Union Meeting and Event Services (2013-2014)
4.  Field Engineer di Tatamulia Nusantara Indah (2013)
5.  Quality Control di Nusaraya Cipta (2012)

Penghargaan:
1.  Student of the Month Valparaiso University
2.  International Transfer Merit-Based Scholarship Valparaiso University

 

BERITA TERKAIT