Enam Srikandi Bangga Operasikan MRT


Penulis: Yanurisa Ananta - 19 April 2018, 09:44 WIB
MI/Yanurisa Ananta
MI/Yanurisa Ananta

“JANGAN panik, jangan panik,” ucap seorang masinis pemandu rolling stock light rapid transit (LRT) Ampang Line, Malaysia, kepada Indri Yulia, 23, perempuan asal Lampung.

Kepanikan melanda Indri lantaran kereta berpenumpang yang ia kendarai berhenti akibat hilang sinyal. “Apa yang pertama harus dilakukan pada kondisi seperti ini?” tanya sang masinis senior waktu itu.

Indri langsung menghubungi bagian operation control center (OCC). Tak lama OCC memberi arahan dan kereta kembali jalan. Indri merupakan salah satu perempuan yang lolos seleksi sebagai masinis di moda transportasi masal mass rapid transit (MRT) Jakarta. Bersamanya ada lima masinis perempuan lain yang lolos.

Sekitar awal 2017 Indri mengikuti beragam seleksi sampai akhirnya mahasiswa lulusan Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) Bekasi itu dinyatakan lolos seleksi masinis.

“Memang kebanyakan laki-laki, tapi kita tidak terbebani. Sejak sekolah sudah terbiasa kebanyakan laki-laki. Satu kelas paling cuma ada enam perempuan. Saya justru banyak terbantu,” jelasnya, kemarin.

Indri mengaku sempat grogi saat pertama kali menjajal handle LRT dalam pelatihan di Malaysia beberapa bulan lalu. Pasalnya, tampilan ruang masinis berbeda dengan kereta yang sudah ada di Indonesia. MRT sendiri menggunakan teknologi berbeda dengan commuter line ataupun kereta api jarak jauh lainnya.

Kendati demikian, ia tetap bersemangat dan bangga dipercaya mengoperasikan MRT Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia yang direncanakan beroperasi pada Maret 2019.

Salah satu yang ia terus pelajari ialah bagaimana menata mental agar tidak mudah panik. “Kalau mengalami failure, ilmu jadi tidak ada, makanya jangan panik,” imbuhnya.

Sebagai perempuan pun Indri mengaku ada saat-saat dirinya sedang tidak dalam kondisi fit, misalnya saat sedang menstruasi. Di Malaysia ia digempur untuk tidak takluk pada rasa sakit.

Hal serupa dirasakan Nidya Laras, 22. Lulusan STTD Bekasi angkatan 2012 itu mengaku sangat gembira begitu tahu dirinya diterima sebagai masinis MRT. Cita-citanya sebagai masinis terwujud kendati secara praktik dirinya sempat mengalami kendala.

Di Indonesia tidak banyak masinis perempuan. Di commuter line perempuan tidak diberi tugas sebagai masinis, tapi petugas pelayan kereta. Di kereta jarak jauh pun jarang sekali ada perempuan masinis. “Sebuah kebanggaan bagi kami bisa menjadi masinis MRT. Sebuah transportasi teknologi baru,” imbuh Nidya. (J-1)

BERITA TERKAIT