Sekolah Alternatif MTs Pakis Cegah Nikah Dini


Penulis:  (Liliek Dharmawan/N-3) - 17 April 2018, 00:00 WIB
MI/LILIEK DHARMAWAN
MI/LILIEK DHARMAWAN

UNTUK menuju Dusun Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, warga harus melintasi jalan yang sebagian rusak. Kendaraan yang melintas di dusun itu harus berjalan pelan-pelan karena medan rusak. Kiri-kanan dusun dipenuhi hutan pinus milik Perhutani.

Di sudut dusun terpencil itu, ada bangunan dengan ukuran 7 x 17 meter serta 7 x 13 meter. Sebuah bangunan sekolah alternatif itu bernama Madrasah Tsanawiah (MTs) Pakis. Nama Pakis sesuai dengan nama salah satu sayuran khas pegunungan. Pakis juga kependekan dari piety atau kesalehan, achievement arau prestasi, knowledge ilmu pengetahuan, integrity atau integritas, dan sincerity atau keikhlasan.

Saat Media Indonesia mengunjungi MTs Pakis pada Kamis (12/4), ruangan kelas kosong. Para siswa sedang berkebun di sekitar kompleks sekolah. Kebetulan pada hari itu mereka sedang menanam pakis. "Hari ini kami menanam pakis yang banyak tumbuh di pegunungan. Pakis ini untuk memenuhi kebutuhan kami," kata Sukenti, 14 yang kini duduk di kelas 8 MTs Pakis.

Setelah menanam pakis, mereka bergerak di area lain untuk memetik cabai serta kangkung darat. "Kangkung sudah ada yang bisa dipetik, sekalian cabai. Lumayan menjadi bahan-bahan untuk dimasak hari ini," lanjutnya.

Sebagian besar siswa MTs Pakis tinggal di asrama MTs Pakis sehingga setiap hari mereka memasak, sedangkan para siswi kembali ke rumah masing-masing di Desa Sambirata dan Gununglurah.

Berdirinya MTs Pakis di Dusun Pesawahan berawal dari hasil survei yang dilakukan para relawan pendidikan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Banyumas Argowilis.

Di Desa Gununglurah angka putus sekolah cukup tinggi. Anak laki-laki tidak bekerja dan memilih bekerja, sedangkan anak perempuan menikah muda.

Bahkan, waktu survei ditemukan anak yang tidak bersekolah karena harus bekerja menghidupi adik-adiknya. "Dari sinilah para pegiat pendidikan sepakat mendirikan sekolah alternatif di desa itu. Anak yang dulunya bekerja untuk menghidupi adik-adiknya bernama Taspirin kini menjadi salah satu murid di sekolah kami," kata Kepala MTs Pakis, Isrodin.

Mengubah pola pikir masyarakat dilakukan untuk mencegah anak-anak putus sekolah dan nikah dini, dengan menguatkan perekonomian warga. Hasilnya memang menggembirakan. Dua pendiri MTs Pakis berlatar belakang dari keluarga tidak mampu.

Roif, relawan pendidik MTs Pakis yang kini kuliah di Fakultas Dakwah, IAIN Purwokerto dengan beasiswa UKT Rp0, dulu ialah siswa nyaris putus sekolah. Setelah lulus sekolah alternatif dan mengikuti Kejar Paket C di Baturraden, kini dia menjadi mahasiswa IAIN. Kemudian Yuliatun, salah satu pendiri MTs Pakis lulusan Fakultas Peternakan Unsoed dengan predikat cum laude. Sebelumnya Yuliatun sempat bekerja sebagai babysitter selama setahun di Jakarta.

BERITA TERKAIT