Neraca Perdagangan Maret 2018 Berbalik Surplus


Penulis: Tesa Oktiana Surbakti - 16 April 2018, 17:50 WIB
img
MI/MOHAMAD IRFAN

NERACA perdagangan Indonesia Maret 2018 mengalami surplus US$1,09 miliar, setelah dua bulan sebelumnya mencatatkan defisit. Pada  Januari 2018 defisit perdagangan sebesar US$0,76 miliar dan Februari 2018 defisit US$0,05 miliar.

Adapun total kumulatif neraca perdagangan periode Januari-Maret 2018 turut mengalami surplus US$0,28 miliar.

“Alhamdulilah terjadi surplus US$ 1,09 miliar pada neraca perdagangan Maret 2018. Tentu ini menggembirakan bahwa surplus terjadi karena dua bulan sebelumnya terjadi defisit. Begitu juga secara kumulatif Januari-Maret 2018, neraca perdagangan surplus US$0,28 miliar,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (16/4).

Kinerja ekspor periode Maret 2018 mencapai US$15,58 miliar atau naik 10,24% jika dibandingkan dengan Februari 2018 US$14,13 miliar. Bila dibandingkan dengan ekspor Maret 2017 yang sebesar US$14,68 miliar, kinerja ekspor Maret 2018 naik 6,14%.

Dari struktur ekspor nasional Maret 2018, ekspor nonminyak dan gas bumi (migas) berkontribusi hingga 91,41% dengan nilai US$14,24 miliar. Sementara itu, kinerja ekspor dari berbagai sektor menunjukan pertumbuhan positif, kecuali ekspor migas sebesar US$1,34 miliar atau turun 3,81% ketimbang Februari 2018.

Ekspor migas memiliki andil dalam struktur ekspor nasional sekitar 8,59%. Penurunan ekspor migas dipengaruhi turunnya ekspor gas 9,67% menjadi US$756,7 juta, sedangkan ekspor minyak mentah naik 3,42% menjadi US$461,3 juta.

Ekspor hasil minyak tercatat naik 11,92% menjadi US$119,9 juta. Secara kumulatif nilai ekspor periode Januari-Maret 2018 mencapai US$44,27 miliar atau naik 8,78% jika dibandingkan dengan periode serupa 2017.

“Dilihat lebih dalam, penurunan ekspor migas pada Maret ini disebabkan adanya penurunan ekspor gas, walaupun ekspor minyak mentah dan hasil minyak mentah naik. Sementara ekspor non migas naiknya lebih tinggi menunjukkan perkembangan ekspor Maret dipengaruhi ekspor non migas,” imbuh Kecuk, sapaan akrab Suhariyanto.

Kinerja ekspor sektor pertanian tercatat US$0,28 miliar atau naik signifikan hingga 20,01%. Hanya saja, kontribusi sektor pertanian terhadap struktur ekspor nasional relatif kecil sekitar 1,81%.
Kenaikan ekspor pertanian disebabkan meningkatnya ekspor sejumlah komoditas, seperti tanaman obat, jagung dan sarang burung walet.

Dari ekspor sektor pertambangan dan lainnya tercatat kontribusi US$2,78 miliar atau naik 22,66% dengan andil pada ekspor nasional 17,85%. Komoditas yang mengalami kenaikan ekspor ialah batubara dan bijih tembaga.

Di satu sisi, ekspor industri pengolahan yang berkontribusi hingga 71,75% dalam struktur ekspor nasional, mengalami pertumbuhan 9,17% menjadi US$11,18 miliar. Beberapa komoditas yang mendorong kinerja ekspor industri pengolahan, yaitu besi dan baja, tekstil dan konveksi.

“Dari HS 2 digit, beberapa komoditas yang mendorong ekspor nonmigas karena terjadi peningkatan meliputi bahan bakar mineral, besi dan baja, bijih kerak dan abu logam, berikut alas kaki. Sedangkan komoditas yang ekspornya turun timah, kapal laut, lemak dan minyak hewan nabati dan nikel,” papar Kecuk.

Di sisi lain, nilai impor Maret 2018 naik 2,13% jika dibandingkan Februari 2018 menjadi US$14,49 miliar. Total impor kumulatif dari Januari sampai Maret 2018 tercatat US$43,98 miliar atau meningkat 20,12% jika dibandingkan periode serupa tahun 2017.

Kenaikan impor Maret 2018 dipengaruhi naiknya impor migas sebesar 2,30% dan impor nonmigas naik 1,24%. Kenaikan impor mayoritas dipengaruhi impor golongan bahan baku atau penolong dengan kontribusi 74,76%.

Nilai impor bahan baku atau penolong Maret 2018 tercatat US$10,83 miliar atau naik 2,62% dari Februari 2018. Adapun impor golongan konsumsi dengan kontribusi 8,30% terhadap total ekspor Maret 2018, turun 12,80% ketimbang Februari 2018 menjadi US$1,2 miliar. Sementara itu, impor barang modal tercatat US$2,45 miliar atau naik 8,99% dari bulan lalu.

“Dengan impor bahan baku atau penolong bergerak tinggi ini akan menggerakkan perekonomian dalam negeri. Komoditas yang meningkat itu raw sugar dan karet. Sedangkan dari barang modal yang impornya meningkat itu mesin untuk pembuat tisu hingga kompresor. Kalau barang konsumsi yang impornya turun cukup tajam ialah beras karena ada pembatasan,” pungkas Kecuk. (A-2)

Berita terkait : Pangsa Pasar Ekspor Utama belum Berubah

BERITA TERKAIT