SKK Migas: Masih Ada 74 Cekungan belum Dieksplorasi


Penulis: Erandhi Hutomo Saputra - 16 April 2018, 17:30 WIB
Ist
Ist

RENDAHNYA produksi minyak dan gas bumi  (migas) di Indonesia tidak lepas dari banyaknya lapangan migas yang belum dieksplorasi. Sekretaris  Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu (SKK) Migas Arief Setiawan Handoko menyebut, dari total 128 cekungan yang berpotensi terdapat migas di wilayah Indonesia, baru 18 cekungan yang berproduksi.

"Cekungan yang sudah dibor tapi belum dikembangkan ada 12, lalu ada 24 cekungan yang sudah dibor tapi tidak dikembangkan, dan masih ada 74 cekungan yang belum dieksplorasi," ujar Arief dalam acara Bincang Emiten Migas, di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (16/4).

Menurut Arief dengan masih adanya 74 cekungan tersebut industri hulu migas berpeluang besar untuk melakukan eksplorasi yang lebih masif.
SKK Migas pun mengajak investor untuk melakukan investasi dalam hal eksplorasi yang berpotensi menambah produksi minyak hingga 400 ribu barrel per hari.

"Kita berikan peluang bagi investor agar kegiatan eksplorasi dimasifkan untuk menemukan cadangan baru karena konsumsi kita sekitar 1,6 juta barrel per hari," lanjutnya.

Dorongan investasi untuk kegiatan eksplorasi, lanjut Arief, perlu dilakukan. Pasalnya selama beberapa tahun terakhir nilai investasi untuk eksplorasi terus menurun.

Investor lebih tertarik berinvestasi untuk eksploitasi. Jika pada 2013 lalu investasi untuk eksplorasi mencapai US$2,1 miliar, pada tahun 2017 jumlahnya hanya US$180 juta.

"Kita perlu investasi kegiatan eksplorasi yang masif karena dari tahun 90-an penemuan lapangan minyak seperti Banyu Urip, jika dibandingakan Minas dan Duri (tahun 1942) jauh sekali. Lapangan minyak Abadi punya Masela juga tidak lebih banyak," tukasnya.

Untuk itu dalam rangka menggaet investor untuk eksplorasi pemerintah melakukan perubahan rezim kontrak migas dari cost recovery ke rezim gross split. Di samping itu pemerintah juga melakukan deregulasi dan pemangkasan izin-izin yang menghambat.

"Di sektor migas dari (Kementerian) ESDM ada 18 regulasi dan 23 perizinan yang dicabut, SKK Migas ada 13, BPH migas ada 3 perizinan," sebutnya.

Dengan upaya tersebut diharapkan sepanjang tahun ini investasi atas eksplorasi migas ditarget meningkat sebesar US$810 juta.

Prediksi dua tahun mendatang juga meningkat. Dengan asumsi Indonesia Crude Price (ICP) sebesar US$58 per barel, investasi eksplorasi 2019 diperkirakan sebesar US$975 juta. Adapun investasi eksploitasi iproyeksikan mencapai US414,34 miliar.

Adapun pada 2020, dengan asumsi ICP yang sama, investasi eksplorasi diperkirakan menjadi US$1 miliar dan eksploitasi sebesar US$14,19 miliar. (A-2)

BERITA TERKAIT