Pangsa Pasar Ekspor Utama belum Berubah


Penulis: Tesa Oktiana Surbakti - 16 April 2018, 17:20 WIB
img
MI/MOHAMAD IRFAN

STRUKTUR pangsa pasar ekspor non migas belum mengalami perubahan signifikan. Dalam neraca perdagangan periode Januari-Maret 2018, negara tujuan ekspor nonmigas masih didominasi Tiongkok dengan kontribusi 15,77% senilai US$6,43 miliar.

Amerika Serikat memiliiki andil 11% atau senilai US$4,42 miliar dan Jepang berkontribusi 10,15% dengan nilai US$4,08 miliar. Pangsa pasar tiga negara tujuan ekspor yang mencakup Tiongkok, Amerika Serikat dan Jepang mendominasi dengan porsi dalam struktur ekspor sebesar 36,92%.

Adapun pangsa pasar negara-negara di kawasan ASEAN berkontribusi hingga 21,34% dengan nilai US$8,58 miliar dan negara-negara Uni Eropa memiliki kontribusi 10,66% atau senilai US$ 4,29 miliar.

“Ekspor ke Tiongkok komoditas terbesarnya yaitu bahan bakar mineral, besi dan baja, serta lemak dan minyak hewan nabati. Ekspor ke Tiongkok selama tiga bulan pertama 2018 meningkat signifikan dari US$4,7 miliar menjadi US$6,43 miliar,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (16/4).

Ekspor ke Jepang sepanjang Januari-Maret 2018 sebesar US$4,08 miliar, naik jika dibandingkan dengan Januari-Maret 2017 yang sebesar US$3,37 miliar.

Kinerja ekspor ke Amerika Serikat periode Januari-Maret 2018 mengalami kenaikan tipis dari periode sebelumnya US$4,29 miliar menjadi US$4,42 miliar. Komoditas yang paling banyak diekspor ke Amerika Serikat ialah alas kaki, barang rajutan, berikut ekspor dan baja.

Kecuk, sapaan akrab Suhariyanto, menuturkan perang dagang Tiongkok-Amerika Serikat belum terlalu berdampak pada kinerja ekspor nasional ke Negeri Paman Sam.

“Amerika Serikat menetapkan bea masuk untuk besi dan baja kepada Tiongkok, tetapi di Maret justru ekspor besi dan baja dari Indonesia signifikan meningkat dari US$2,13 juta menjadi US$35 juta,” imbuhnya.

Komoditas yang perlu mendapat atensi ialah minyak kelapa sawit (CPO) karena terdapat kebijakan dari berbagai negara tujuan ekspor yang menghambat. Ekspor CPO ke India mengalami penurunan setelah negara tersebut menerapkan kebijakan bea masuk.

Begitu juga ekspor ke Bangladesh dan Pakistan. “Kita berharap (hambatan ekspor CPO) tidak terjadi panjang lebar. Kalau untuk CPO memang perlu banyak upaya karena porsi ekspor kita besar,” jelas Kecuk.

Dia pun berharap komoditas ekspor semakin bervariasi agar tidak terlalu bergantung pada komoditas. Demikian pula dengan porsi negara pasar nontradisional yang diharapkan kian bertambah jika dibandingkan dengan negara pasar tradisional atau yang sudah biasa menjadi tujuan ekspor Indonesia. (A-2)

BERITA TERKAIT