Krisis Suriah Kurangi Dampak Moody’s


Penulis: Tesa Surbakti - 15 April 2018, 21:48 WIB
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Bursa Efek Indonesia (BEI) akan berada dalam tekanan negatif seiring dengan berlanjutnya krisis Suriah. Dampak positif kenaikan rating yang biasanya membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) melambung akan tereliminasi dari konflik Suriah yang bisa meluas ke berbagai aspek.

“Isu Suriah  memengaruhi sentimen pasar dan membatasi penguatan lebih lanjut di pasar keuangan setelah rating upgrade dari Moody’s. Meningkatnya ketegangan di Suriah pascaserangan Amerika Serikat dan sekutunya itu mendorong penguatan harga minyak dunia yang dalam sepekan sudah naik sekitar 9%,” ujar Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, kepada Media Indonesia, Minggu (15/4)

Tanda-tanda memudarnya dampak positif kenaikan rating terlihat dari penutupan indeks di BEI pada pekan lalu. Setelah sempat menguat, indeks akhirnya ditutup melemah 0,64% dari penutupan hari sebelumnya menjadi 6.270. Indeks sempat mengalami penguatan seiring dengan isu perang dagang Tiongkok-AS yang  mulai mereda seiring mencuatnya kembali wacana Trans-Pacific Partnership (TPP).

Pada pekan mendatang, pelaku pasar disebutnya akan mencermati beberapa data ekonomi AS, mulai penjualan ritel, aktivitas produksi industri, hingga perkembangan geopolitik di Suriah. Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kenaikan peringkat utang Indonesia oleh Moody’s dari Baa3 dengan outlook positif menjadi Baa2 dengan outlook stabil akan berdampak positif mendorong pertumbuhan industri jasa keuangan dan stabilitas perekonomian Indonesia.

“Peningkatan rating Moody’s akan meningkatkan kepercayaan investor untuk berinvestasi di Indonesia termasuk di industri jasa keuangan khususnya di pasar modal,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso

Rupiah menguat
Dalam perdagangan, Jumat (16/3), rupiah ditutup menguat 0,12% pada level Rp 13.753. Meski mengalami penguatan, daya tahan rupiah akan mendapatkan ujian pada pekan ini. “Rupiah yang kembali mampu terapresiasi di pekan kemarin kembali harus diuji ketahanannya untuk kembali melanjutkan penguatannya. Meski dari dalam negeri minim sentimen negatif, tetapi kembali terapresiasinya sejumlah mata uang dunia terutama Dolar AS mampu menahan potensi kenaikan rupiah,” tutur Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada.

Pihaknya berharap sentimen dari dalam negeri dapat mendorong penguatan nilai tukar rupiah agar bertahan di zona hijau. Rilis dari Badan Pusat Statistik (BPS) tentang angka ekspor dan impor Indonesia diharapkan menjadi sentimen positif bagi nilai tukar rupiah.
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2018 akan berbalik menjadi surplus hingga US$1,1 miliar dari posisi yang terus defisit selama tiga bulan terakhir.

Adapun pada Januari 2018, neraca perdagangan defisit US$680 juta, kemudian defisit menurun pada Februari 2018 sebesar US$120 juta. “Di Maret ini akan ada surplus kira-kira US$1,1 miliar. Jadi, neraca perdagangan kita di kuartal I 2018 akan positif,” ujar Agus di Batam, pekan lalu. (Ant/E-1)

 

BERITA TERKAIT