Dunia Cemas


Penulis: Denny Parsaulian Sinaga - 15 April 2018, 10:59 WIB
AFP/LOUAI BESHARA/MOD/KALLYSTA CASTILLO
AFP/LOUAI BESHARA/MOD/KALLYSTA CASTILLO

KONFLIK Suriah memasuki babak baru yang mencemaskan setelah Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis menembakkan lebih dari 100 rudal ke Kota Damaskus dan Homs. Rusia sebagai sekutu Suriah langsung mengecam keras serangan tersebut.

Tindakan AS dan sekutunya, Jumat (13/4) malam (kemarin WIB), itu dikatakan sebagai balasan atas serangan gas beracun oleh Suriah yang menewaskan puluhan orang di Kota Douma pada pekan lalu. Tindakan ini juga merupakan intervensi terbesar Barat terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad.

"Tujuan dari serangan itu ialah mencegah produksi, penyebaran, dan penggunaan senjata kimia," kata Presiden Donald Trump dalam pidato yang disiarkan televisi AS.

Juru bicara Pentagon Dana White menyatakan seluruh rudal berhasil mencapai sasaran. Ini membantah klaim Rusia bahwa Suriah mampu menghadang beberapa serangan.

Letnan Jenderal Kenneth McKenzie dari militer AS menambahkan bahwa target serangan ialah tiga lokasi penting yang menjadi pusat pembuatan senjata kimia Suriah. "Serangan kami sukses menghancurkan tempat-tempat itu," ujarnya.

Seorang wartawan AFP di ibu kota Suriah, Damaskus, mendengar beberapa ledakan keras yang membuat warga keluar rumah. Selama 45 menit, Damaskus dipenuhi gelegar ledakan dan suara pesawat militer. Di pagi hari, asap tebal mengepul dari bagian timur dan utara. Suriah sendiri menyebut tiga warga sipil terluka oleh serangan Barat.

Kemarin, Rusia meminta Dewan Keamanan PBB untuk menggelar rapat darurat. Moskow juga mengaku tengah mempertimbangkan pilihan untuk mengirim sistem pertahanan rudal S-300 ke Suriah.

"Aksi Amerika Serikat di Suriah semakin memperburuk kondisi kemanusiaan di negara itu dan sangat merugikan warga sipil. Aksi ini juga akan merusak seluruh sistem hubungan internasional," kata Presiden Vladimir Putin.

Sekjen PBB Antonio Guterres lalu menyatakan semua negara harus menahan diri dalam situasi berbahaya seperti sekarang dan menghindari tindakan yang memperburuk situasi dan membuat warga Suriah lebih menderita.

Lindungi WNI

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi meminta semua pihak di Suriah menahan diri dan menghormati Piagam PBB yang mengedepankan keamanan dan perdamaian dunia.

Terkait 1.500 WNI yang ada di Suriah, Menlu mengatakan telah mengontak para duta besar di Suriah dan negara Timur Tengah lainnya. "Kita pantau terus situasinya seperti apa. WNI merupakan prioritas bagi kita saat ini. Kita tidak mau ada korban WNI dari situasi ini. Rencana darurat sudah kita buat dan setiap dubes sudah alert akan situasi," tegasnya di Jakarta, kemarin.

Sementara itu, pengamat Timur Tengah, Hasibullah Satrawi, mengatakan, terlihat AS masih setengah-setengah melakukan serangan. Salah satu penyebabnya kemungkinan karena Trump tidak ingin keterlibatan Rusia dalam pemilihan presiden AS terungkap.

Menurut Hasibullah, situasi di Damaskus saat ini masih aman. "Kalau terjadi serangan lagi, mungkin kita harus segera mengambil keputusan opsi berkaitan dengan pemulangan WNI," sarannya.

Babak baru konflik Suriah juga bisa berdampak kepada perekonomian Indonesia.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan harga minyak mentah berpotensi naik hingga melebihi US$80 per barel dalam waktu dekat.

Hal itu akan memengaruhi subsidi bahan bakar minyak dan listrik di dalam negeri karena saat ini asumsi harga minyak mentah Indonesia hanya ditetapkan oleh pemerintah sebesar US$48 per barel.

"Konsekuensinya pemerintah harus menambah subsidi BBM dan defisit anggaran terancam melebihi target yang ditetapkan, yakni 2,19%," ujar Bhima. (Pra/AFP/Ant/X-11)

BERITA TERKAIT