Njayeng Bawana


Penulis: Ono Sarwono - 15 April 2018, 06:50 WIB

PRABU Duryudana terkekeh-kekeh di atas singgasana menyemburkan bau alkohol menyengat. Tuak yang tinggal sepertiga dalam gelas besar yang digenggamnya terguncang-guncang karenanya. Saking riangnya, Raja Astina ini berulang kali tersedak kerena terbahak-bahak ketika tuak masih menggenangi ujung tenggorokannya.

Pada saat bersamaan, Patih Sengkuni terkulai lemas di atas lantai sambil meraba-raba pelan perutnya akibat kembung tuak. Dursasana, Durmagati, dan saudara lainnya keluarga Kurawa terkapar. Mereka berserakan, sebagian di antara mereka mendengkur. Pun tidak berbeda dengan para nayaka praja. Hanya Karna yang tidak ikut-ikutan mabuk.

Pesta minum itu terjadi setelah Kurawa menang main dadu atas Pandawa. Dengan kekalahan itu, Pandawa (Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa) harus meninggalkan Amarta dan menjalani hukuman pembuangan di Hutan Kamyaka selama 12 tahun dan hidup menyamar satu tahun. Sengkuni memastikan Pandawa mati konyol. Kemudian, Negara Amarta bubar dan semua kekuasaannya jatuh ke tangan Duryudana. Namun, benarkah demikian yang terjadi?

Kalah main dadu

Alkisah, Duryudana terpikat terhadap istana Amarta ketika melihat langsung keindahan dan kemegahannya. Itu ketika ia menghadiri inauguration istana tersebut pada suatu hari. Sebelumnya, wilayah tempat berdirinya istana Amarta merupakan hutan belantara Wanamarta yang sangat angker.

Paham maksud hati sang raja, Sengkuni lalu menyusun strategi. Ia mengusulkan kepada Duryudana untuk mengundang raja Amarta, Puntadewa, yang juga sulung Pandawa, bermain dadu. Ketika masih kecil, Puntadewa memang sangat suka bermain dadu.

Gayung bersambut. Puntadewa bersedia memenuhi undangan Duryudana. Namun, kesanggupannya itu sesungguhnya bukan karena ia masih suka bermain dadu--kegemaran yang sudah ia tinggalkan lama, melainkan karena semata-mata untuk menghormati Duryudana yang ia tuakan. Pandawa adalah putra Pandu yang adalah adik kandung Drestarastra, ayah Kurawa.

Permainan dadu yang digelar di ruangan sisi kiri Istana Astina berlangsung gayeng. Awalnya, hanya dengan taruhan kecil-kecilan tetapi lama-kelamaan menjadi besar. Werkudara sempat menyarankan Puntadewa agar menghentikan permainan dadu karena tidak fair.

Werkudara tahu bahwa sang kakak diakali oleh Kurawa yang dibekingi Sengkuni. Namun, Puntadewa tidak menggubris dan berlanjut hingga pada akhirnya ia kehilangan negara Amarta. Bahkan, istrinya, Dewi Drupadi, dipertaruhkian dan menjadi jarahan Kurawa karena Puntadewa kalah.

Berdasarkan kesepakatan, yang kalah harus meninggalkan negaranya dan menjalani hidup tanpa bekal apa pun di Hutan Kamiyaka selama 12 tahun. Bila mampu melewati masa pembuangan itu, Pandawa harus melakoni laku sesingitan (penyamaran) selama satu tahu. Bila tahap terakhir itu ketahuan, Pandawa mesti mengulangi hukuman dari awal.

Kurawa memperkirakan Pandawa bakal lenyap dari permukaan bumi. Menurut perhitungannya, Pandawa tidak akan bertahan hidup dalam hutan tanpa bekal makanan. Bahkan, dikalkulasikan tidak sampai separuh masa hukuman, Pandawa bakal menemui ajal karena kelaparan.

Berdaulat penuh

Karena Pandawa menjalani hukuman pembuangan, otomatis Amarta mengalami kekosongan kepemimpinan. Inilah yang dipastikan Kurawa bahwa Negara Amarta akan bubar, habis riwayatnya. Selanjutnya, Kurawa dengan gampang menguasai Amarta dengan seluruh kekayaannya.

Inilah yang diimpikan Duryudana (Kurawa). Menguasai Astina sekaligus Amarta tanpa melewati perang Bharatayuda. Duryudana menepuk dada bahwa skenario dewa tentang perang habis-habisan di tegal kurusetra itu tidak akan terjadi. Sebelumnya, sudah menjadi perbincangan luas di seluruh pelosok marcapada bahwa bakal terjadi perang besar antarketurunan Abiyasa demi menguasai Astina dan Amarta.

Itulah yang kemudian dirayakan Duryudana dengan menggelar pesta. Ia mempersilakan semua anggota keluarga besarnya serta para nayaka praja menikmati pesta sepuas-puasnya dan sebebas-bebasnya.

Namun, perhitungan Kurawa ternyata keliru. Meskipun ditinggal para pemimpinnya, negara Amarta tetap berdaulat penuh. Secara de jure, Amarta memang dalam kekuasaan Duryudana sebagai konsekuensi pemenang main dadu. Tetapi secara de facto, Amarta masih dalam kendali penuh oleh para putra Pandawa. Amarta tetap tegak dan njayeng bawana, berjaya dan terkenal di dunia.

Putra Amarta yang meneruskan kemepemimpinan Amarta, antara lain Pancawala, Antareja, Gathotkaca, Antasena, Wisanggeni, Abimanyu, Bambang Priyambada, dan lain-lainnya. Waris karib yang ikut mendampingi mereka adalah Setyaki dan tentunya juga Raja Dwarawati Prabu Kresna.

Gathotkaca bersama para saudaranya menjaga Amarta dengan prinsip kolektif kolegial. Mereka juga menanamkan santiaji tijitibeh, yakni mati siji mati kabeh (mati satu mati semua) atau juga dimaknai mukti siji mukti kabeh (mulia satu mulia semua).

Wilayah udara menjadi tanggung jawab Gathotkaca. Keamanan matra laut di bawah kepemimpinan Anatasena, perut bumi dijaga Antareja, sedangkan Abimanyu mengamankan wilayah darat.

Inilah yang membuat Duryudana dan Kurawa tidak pernah sekalipun bisa menyentuh istana Amarta selama Pandawa dalam pengasingan. Jangankan menguasai, untuk memasuki wilayah Amarta saja mereka tidak mampu.

Generasi penerus

Pada bagian lain, Pandawa malah seperti menemukan habitatnya dalam masa pembuangan. Mereka menjalani hukuman itu dengan laku prihatin. Hidup dalam kondisi yang serba terbatas tersebut jusru mereka jadikan sebagai arena penggemblengan diri untuk menjadi para kesatria ulung.

Sikap ini tidak terlepas dari didikan sang ibu, Kunti. Sejak mereka ditinggal mati sang ayah, Pandudewanata, praktis Kunti-lah yang nggulawentah (mendidik dan membesarkan) kelima anaknya. Garis ajarannya adalah menjadikan putra-putra sebagai kesatria berjiwa mulia.

Maka, setelah selesai menjalani pembuangan di hutan dan dilanjutkan hidup menyamar di Negara Wiratha, Pandawa muncul sebagai kesatria-kesatria hebat. Inilah juga yang mengantarkan mereka kemudian berhasil merebut kembali hak kedaulatannya atas Astina lewat perang Bharatayuda. Sebaliknya, rezim Duryudana tumpas di Kurusetra.

Hikmah kisah ini ialah kesigapan para putra Pandawa menjaga Amarta ketika terjadi krisis kepemimpinan. Dalam konteks kebangsaan, moralnya adalah bahwa generasi penerus bertanggung jawab penuh terhadap eksistensi bangsa dan negaranya.

BERITA TERKAIT