Alunan Orkestra nan Optimistis dari Cibinong


Penulis: IIS ZATNIKA - 15 April 2018, 00:40 WIB
img
MI/IIS ZATNIKA

DENTINGAN piano, gema contra bass, liukan nada fl ute, hingga bunyi kantil, salah satu komponen gamelan Bali, terdengar susul-menyusul dari ruang-ruang SMKN 2 Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bukan cuma dari ruang orkestra yang berisikan 20 anak dengan alat-alat musik klasiknya masing-masing, melainkan juga di kelas, kamar yang khusus ditempati baby grand piano, praktik karawitan, hingga teras.

“Ya, di sekolah kami memang bisa main musik di mana pun, terutama kalau lagi latihan mandiri, di teras bisa, di bawah pohon juga bisa,” kata Siti Pujawati Nurmalasari di sela kesibukannya menjadi konduktor di Ruang Orkestra, bergantian dengan Kintan Melati Rahmanissa kepada Muda, Kamis (12/4). Keduanya siswa kelas 12 kompetensi keahlian seni musik klasik. Selesai menghadapi Ujian Nasional Berbasis Komputer, bukan berarti kesibukan SMK dengan  jurusan musik klasik satu-satunya di JawaBarat itu reda. Ada aneka pentas dan agenda yang harus mereka persiapkan, yang terdekat farewell party atau pesta perpisahan yang akan dihadiri orangtua.

Pembuktian
Kesempatan buat menampilkan keterampilan itu bukan cuma soal memainkan alat musik. Mereka juga memperlihatkan hasil kerja keras meriset komposisi yang dimainkan, termasuk lewat Youtube hingga begadang membuat aransemen. Kintan dan Puja, sang concert master juga harus menjalin komunikasi dan rasa dengan anggota orkestra lainnya. Komitmen dan disiplin itulah yang mereka tampilkan di depan para orangtua.

Target utamanya, meyakinkan pilihan belajar musik secara formal, sukses menjadikan mereka terus bertumbuh.  mereka juga belajar tentang tanggung jawab untuk mempersiapkan masa depannya. Pesta pada Mei mendatang itu menjadi penanda tiga tahun perjalanan bermusik mereka, yang hampir 80%-nya tak punya pengalaman berinteraksi dengan nadanada sebelumnya.

Keterampilan akademik mereka memang ditandai tampilan apik orkestra bertema Beauty and The Beast, di antaranya lagu When You Wish Upon The Star dan Be Our Guest yang diaransemen ulang. Akan ada betotan jari Difa Putra Karindra pada contra bass-nya pun arahan tangan Kintan Melati. Sang konduktor itu bahkan telah membuka jalan menjadi guru les sejak masih SMA. Kawan-kawannya yang lain, tengah bersiap meraih tiket untuk bergabung dengan korps musik militer, hingga bergabung dalam orkestra atau berkarir di band..

Kolaborasi seni tradisi
Tak kalah istimewanya, di ruang karawitan, keterampilan berkolaborasi itu berpadu dengan komitmen pada seni tradisi. Aransemen Melidiam Amoris in Archipelago mereka mainkan dengan perpaduan gamelan Sunda, bali, violin, french horn, flute, hingga contra bass. Gendang sunda nan dinamis, pemade dan kantil, dua komponen gamelan Bali  bersahutan padu dengan alat musik orkestra yang anggun.

Sang konduktornya, Benekdiktus Gading Tirta, siswa kelas 11,juga menjadi arranger. Perbedaan itu sesungguhnya nyata. Jika Raihan yang memainkan french horn harus melihat partitur, belasan pemain gamelan cukup awas pada gerakan tangan dan tubuh Gading sebagai penanda. Namun, dengan rasa musik yang mereka bangun selama tiga tahun, pun komunikasi  yang baik, karya yang keren sukses dimainkan. Pembelajaran karawitan yang menjadi pelajaran muatan lokal melengkapi musikalitas, pun  meng hubungkan siswa dengan seni tradisi yang kaya nilai.

“Bermain gamelan kan memang harus pakai rasa sehingga peran sang pemimpin jadi sangat penting, juga harmoni dengan pemain lain. Dari gamelan yang nadanya pentatonis pun, kami dapat tantangan, ketika harus memadukannya  dengan diatonis,” ujarGading yang bersama temantemannya menamakan kelompok musik  kolaborasi itu, Kyai Gending Wiwitan.

Musik mengungkit
kehidupan Berawal dari 30 siswa pada 2014, tahun pertama sekolah ini dibuka, siswa terus bertambah hingga menjadi 72 pada angkatan terakhir. “Kami rutin melakukan roadshow ke SMP-SMP untuk memperkenalkan diri, para siswa bermain di sana,” ujar Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMKN 2 Cibinong, Citra Sekarpramanik. Upaya buat eksis juga dilakukan dengan berbagai konser yang digelar sendiri, yaitu praktik kerja industri (prakerin) di Gedung Tegar Beriman dengan tema Unity in harmony hingga kolaborasi dengan musikus Addie MS di Balai Sarbini.

Saat itu, para siswa SMKN 2 Cibinong menjadi bagian dari Indonesia Youth Concert Orchestra. Pencapaian lainnya, menjadi bagian dari Gita Bahana Nusantara yang bermain di Istana Negara. Bermain di muka publik dan membawakan musik klasik yang dicitrakan identik dengan kalangan atas, menantang rasa percaya diri para siswa, yang menurut Citra sebagian besar berlatar ekonomi menengah juga bawah. Biola, flute, saksofon, yang biasanya lekat dengan anak-anak kaum urban, yang mengikuti les dengan ongkos mahal, disertai keharusan membeli sendiri alatnya yang berharga premium, di SMKN 2 Cibinong, bisa diakses semua siswa.

Termasuk, mereka yang harus bergelut turun naik angkutan kota hingga kereta, dari rumahnya di Karawang hingga kawasan Bogor kota. “Fasilitas kami cukup lengkap, ada viola dan violin masing-masing 10, trombone 4, klarinet 4, hingga 6 piano, termasuk baby grand piano sehingga total sedikitnya ada 15 jenis alat musik orkestra yang kami punya. Prinsipnya, satu anak, satu alat dan satu guru dan mereka harus fokus pada satu alat itu selama tiga tahun.

Jika ingin belajar yang lain, bisa di waktu senggang dari temannya, dan itu biasa terjadi,” ujar Citra yang mendatangkan tak kurang 30 musikus untuk mengajar. Interaksi dengan para praktisi, pun kolaborasi dengan berbagai pihak juga semakin sukses meyakinkan siswa SMKN 2 untuk berfokus pada kerja seni yang menghibur dan menjadi salah satu penanda identitas bangsa. Keterampilan mereka diasah setiap hari dalam kegiatan praktik dan teori, komposisinya 70% dan 30%. Mereka diuji pada sedikitnya lima konser yang wajib diikuti, belum terhitung kolaborasi dengan banyak pihak. Pantau Instagram @smkn-2-cibinong buat jadwal konser mereka ya!(M-1)

BERITA TERKAIT