Kehangatan Kain Cual


Penulis: RENDY FERDIANSYAH - 15 April 2018, 00:15 WIB

BENANG sutra emas berpadu celupan benang berwarna merah marun tersusun rapi di atas sebuah alat penenun tradisional. Di tangan sang penenun, benang-benang tersebut dijalin menjadi selembar kain tenun cual dengan beragam motif fl ora maupun fauna. Tidak mudah menjadikan benangbenang sutra tersebut hingga berupa kain tenun. Dibutuhkan tingkat kesabaran dan ketelatenan yang begitu tinggi. Tak mengherankan jika penenun kain seluruhnya masih didominasi kaum hawa yang berusia lanjut. Kain tenun cual di Bangka Belitung memadukan tenun cungkit dan ikat.

Kombinasi keduanya menghasilkan kain tenun khas dari provinsi itu. Selain pakaian kebesaran di acara adat maupun hari besar Islam, kain cual juga digunakan sebagai mahar dalam acara pernikahan. Pada tenun cual, motif fl ora digambarkan secara vulgar dan natural agar bisa mudah ditebak. Sebut saja motif bunga ketuyut atau kantong semar, bunga (kembang bahasa orang Bangka) gajah, bunga china, pucuk rebung, kecubung, dan kembangan pelawan. Sementara itu, motif faunanya berupa motif burung garuda, naga bertarung, burung hong, kucing tidur dan bebek. Berbeda dengan motif fl ora yang terlihat jelas pada kain, motif fauna justru disamarkan.

“Alasannya, kain-kain bermotif fauna kerap digunakan untuk upacara adat yang sifatnya sakral dan bernuansai Islami,” jelas Ahmad Alfi an, pemerhati Budaya Provinsi Bangka Belitung, belum lama ini. Setiap motif memiliki makna tersendiri. Salah satunya menentukan derajat kebangsawanan seseorang di mata masyarakat. Peruntukan kain laki-laki dan perempuan juga dibedakan. Laki-laki biasanya menggunakan kain cual bermotif naga bertarung dan garuda, sedangkan perempuan memakai motif burung hong atau kembang china.

“Memang motif bunga kebanyakan perempuan, tetapi tidak menutup kemungkinan ada motif hewan yang bisa digunakan perempuan seperti burung hong,” jelas Alfi an. Motif fl ora lain yang digemari ialah kecubung yang bermakna dalam mengarungi bahtera kehidupan ini seseorang haruslah menghargai sesuatu, tidak hanya melihat dari fi sik seseorang saja, tetapi harus dilihat secara keseluruhan. “Kecubung juga tampak indah tetapi memabukkan,” sebut Ahmad.

Sementara itu, motif kembang china memiliki makna bahwa seseorang yang mengenakannya harus ramah, bisa bergaul dengan baik dengan siapa pun. Tidak eksklusif dan punya sifat terbuka. Kemudian, motif lebah secara fi losofi s menggambarkan sifat yang bisa saling tolong bekerja sama dalam kehidupan. “Setiap tindakan bermakna bagi orang lain, tidak merusak alam dan lingkungan.” Selain itu, motif naga menjadi lambang keperkasaan dan  kekuatan.

 Pemakainya haruslah kuat tegas cerdas, tangguh, dan memiliki kepribadian yang kuat. “Status sosial tinggi ada pada motif naga bertarung dan garuda, sedangkan bagi perempuan, status sosial tertinggi diperlihatkan lewat motif burung hong atau kembang china,” ungkap Ahmad Alfi an. Motif kain cual tidak harus terpisahpisah, tapi bisa dikombinasikan. Semua bergantung pada gagasan dan hasil kontemplasi penenunnya. Misalnya, burung hong dipadukan dengan kembang china. Lalu, bunga seroja atau lotus dipadukan dengan naga bertarung.

Arti di balik warna
Filosofi yang terkandung pada kain cual bukan hanya dilihat dari motif saja, melainkan warna. Misalnya, warna merah marun yang menunjukkan kekuatan identitas dan jati diri masyarakat Bangka Belitung dalam mempertahankan adat istiadat serta berani dalam kebenaran. Sementara itu, warna kuning menunjukkan kesuburan dan kemakmuran masyarakat Bangka Belitung.

Penggunaan benang emas pun memiliki sebutan sendiri. Jika terdapat benang emas bertaburan di bagian muka dan pinggir kain cual, itu dinamakan Bekandang, sedangkan benang emas berada di tengah dinamakan motif Betabur. Dahulu, kehalusan dan kerumitan pembuatan tenun cual merupakan buah hasil perjalanan religius si penenun. Awalnya kain cual mulai ditenun para perempuan di Kota Muntok, Bangka Barat, terutama saat masa Inggris berkuasa di Bangka pada 1812.

Saat itu situasinya bisa dikatakan aman dan damai, jauh dari ingar bingar perang. Kaum perempuan pun mulai berkreasi melahirkan ide kreatif, melalui, pengalaman, rohani dan empiris, dengan kontemplasi, melahirkan ide-ide garapan, fl ora dan fauna, khas Babel sehingga melahirkan motif tenun cual. Sementara itu, untuk teknologi menenun, mereka mendapat warisan dari leluhur mereka dari Johor Siantan Malaysia. Dalam perjalanannya, sebut Ahmad, kain tenun cual itu sempat berkembang menjadi kain terbaik dunia dan dipasarkan hingga Eropa. Sayang, produksinya sempat terhenti pada 1914 ketika Perang Dunia I.

Kain cual mendekati kepunahan karena para penenun kesulitan mendapatkanpasokan benang sutera dan benang emas. Tidak ada yang menjualnya baik di Batavia, Muntok, maupun Singapura. Puluhan tahun kemudian, sekitar 1980- an, cual mulai diangkat lagi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pangkalpinang. “Hingga kini kain cual melekat sebagai pakaian aparatur sipil negara (ASN), pelajar, dan acara-acara keagamaan serta upacara-upacara adat yang

 

BERITA TERKAIT