Kearifan Suku Batek


Penulis: . (Agung Wibowo/M-1) - 14 April 2018, 23:00 WIB
MI AGUNG WIBOWO
MI AGUNG WIBOWO

DI hari ketiga petualangan bersama Mercedez–Benz, kami dijadwalkan mengunjungi permukiman Suku Batek di Taman Negara. Untuk sampai ke lokasi kami harus kembali menaiki perahu menyusuri Sungai Tembeling. Jalur yang kami tempuh kali ini agak berbeda dengan jalur sebelumnya. Perahu kami terombang-ambing oleh derasnya arus.

Baju basah tak terelakkan, guyuran air sungai deras menyambar seakan mengajak bermain. Derasnya arus sungai ditambah ulah pemandu dan tukang perahu yang menggoyang-goyangkan perahu menambah seru perjalanan. Mulut pun tanpa sadar berteriak saat badan perahu oleng kekanan dan kekiri seakan mau terbalik. Air masuk ke perahu sehingga seluruh badan kuyup.

Tiba di lokasi, warga menunjukkan bagaimana cara mereka bertahan hidup, diantaranya cara membuat api dari kayu yang digesek dengan batang rotan. Ada pula pertunjukan penggunaan sumpit untuk berburu binatang. Untuk bertahan hidup mereka mencari makan dengan berburu dan mengandalkan apa yang ada di hutan. Ada 106 orang dari 14 keluarga yang mendiami kampung ini. Mereka tinggal dirumah sederhana beratapkan daun. Mereka ialah orangorang sederhana dalam menjalani hidup. Mengalir bagai air sungai yang tenang. Tanpa ambisi dan manipulasi. (Agung Wibowo/M-1)

BERITA TERKAIT