Jelajah Darat Negeri Jiran


Penulis: AGUNG WIBOWO - 15 April 2018, 03:55 WIB
img
MI AGUNG WIBOWO

RAUNGAN mesin 2.996 cc berkonvigurasi V6 Mercy SUV GLS 400 AMG Line membangkitkan gairah petualangan kami. Tapat pukul 10.00 peserta Mercedes-Benz Hungry Adventure dilepas VP Sales & Marketing Passenger Cars Mark Raine dari Art Printing Work, sebuah pabrik percetakan bersejarah yang mulai beroperasi sejak 1965. Kini bangunan itu difungsikan sebagai coffe, studio untuk shooting video, dan tempat nongkrong bergaya vintage.

Peserta dari Indonesia, Singapura, dan tuan rumah Malaysia meluncur mengendarai mobil type SUV keluaran Mercedez-Benz mulai type GLC, GLE, dan GLS menuju Paya Gunung. Berbekal GPS kami menyusuri jalan Kota Kuala Lumpur yang terus menggeliat. Di beberapa sudut terlihat beberapa steger dan crane menjulang, dengan pekerja berpeluh keringat.

Lalu lintas di ibu kota negeri jiran tidak begitu padat sehingga kami bisa memacu dan merasakan keandalan performa mesin 2.996 cc yang memiliki torsi 480 Nm dengan 333 Hp dari GLS 400. Kendaran bongsor berkapasitas 7 penumpang tersebut mampu melesat 100 km/jam hanya dalam waktu 6,6 detik. Perjalanan menuju Paya gunung yang berjarak lebih kurang 178 km kami tempuh dalam waktu 2, 5 jam.

Waktu tersebut termasuk nyasar dan berhenti beberapa kali untuk mengambil gambar dan video. Jalur menuju Paya Gunung melewati perkotaan dan sebagian besar merupakan tol yang membelah hutan berbukit. Kami sempat nyasar ke kebun karet dengan lebar jalan yang hanya muat satu mobil. Sesampainya dilokasi tujuan kami langsung bersiap untuk mengikuti petualangan menyusuri gua kelelawar dan mendaki tebing terjal berbatu.

Beruntung mobil Mercy yang kami kendarai sangat nyaman. Sistem airmatic suspensi mampu meredam guncangan dengan lembut. Jok dengan busa tebal berbalut kulit berkualitas tinggi dan posisi duduk dikabin yang nyaman berhasil menjaga kebugaran kami tetap prima. Meskipun melewati jalan berkelak kelok, dan naik turun bukit selama 2,5 jam lebih tidak membuat kami lelah. Dari dua puluhan peserta belasan memilih menyusuri gua kelalawar dan sebagian lagi memilih jalan mendaki menaklukkan tebing Paya Gunung via Ferrata.

Berpeluh di gua kelelawar
Wisata menyusuri gua kelelawar dibuka untuk pelancong sejak 2016. Untuk menuju gua kami harus melewati jalan setapak yang dikanan kirinya terdapat batu besar. Tangga kayu dengan panjang dua meteran disediakan untuk membantu wisatawan menaiki bibir mulut gua yang tidak begitu besar. Kondisi di dalam gua gelap gulita tidak ada cahaya terobosan dari sinar matahari.

Penerangan hanya dari lampu senter. Kami merasakan kesejukan dari kelembapan perut bumi. Beberapa batu terlihat mengkilat seperti kristal saat terkena lampu senter di kepala. Pemandu dengan cekatan menyampaikan informasi terkait dengan gua dan tidak lupa mengingatkan kami agar tidak menggunakan lampu kilat saat mengambil gambar, karena dikhawatirkan akan mengehentikan pertumbuhan batu stalakmit dan stalaktit.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 100 meteran kami harus melalui lubang yang sangat kecil sekitar 40 cm, yang hanya bisa dimasuki dalam posisi rebahan. Setelah berhasil masuk, kami dipaksa merangkak atau beringsut. Jalan berbatu kapur tanah sepanjang 50 meteran ini memang hanya memiliki tinggi langit-langit sekitar 1 meter.

Peluh dingin bercucuran, baju kotor tak terelakkan, badan pegal jangan ditanya, sungguh pengalaman tak terlupakan, tantangan untuk mengeksplorasi kegiatan wisata luar ruang. Setelah menyusuri gua selama kurang lebih 1 jam, kami menikmati santap siang sambil menunggu teman lain yang mendaki tebing Via Paretta Paya Gunung. Beberapa peserta perempuan mencoba memanjat tebing, sedangkan yang lain bersorak memberikan semangat.

Orkestra alam
di Mutiara Taman Negara Pukul 15.30 kami meninggalkan Paya Gunung menuju Mutiara Taman Negara di Kuala Tahan Jeranut yang berjarak lebih kurang 100 km dan kami tempuh 1 jam. Sepanjang perjalanan kami bertemu dengan truk Mercy legendaris Mercedez-Benz L series, dilengkapi dengan mesin diesel direct injection OM352, 5700 cc, dengan 6 silinder, yang bisa menghasilkan tenaga maksimal 130 hp hilir mudik, mengangkut kayu gelondongan.

Truk yang kita kenal dengan sebutan truk nonong/bagong buatan tahun 1970-an tersebut, meskipun uzur masih menunjukkan keperkasaannya. Sesampainya di Tahan Jetty untuk sampai ke Mutiara Taman Negara, kami menyeberangi sungai menggunakan perahu motor dengan biaya 1 ringgit per orang. Cottage tempat kami menginap memiliki dua tempat tidur, satu berukuran double dan satu single dengan gaya arsitektur rumah tradisional. Bambu dan kayu melapisi dinding. Dari rimbunnya hutan terdengar orkestra alam menemani sepanjang malam.

Jembatan di puncak pohon
Sinar matahari hangat menyapa. Jam menunjukkan pukul 10.00 waktu setempat. Hari kedua penjelajahan ini, kami akan menyusuri kawasan hutan menuju canopy walk. Jarak yang harus kami tempuh sekitar 1,7 km. Kami dipandu petugas melewati jalan setapak yang terbuat dari serat fiber berpagar aluminium warna merah marun. Sepanjang perjalanan beberapa kali pemandu kami berhenti untuk menyampaikan informasi, mengekplorasi kekayaan hutan.

Dia menunjukkan daun tapak harimau yang bisa berfungsi untuk obat demam. Sambil memeragakan cara mengolah daun melastoma atau senduduk, Basri, pemandu kami menceritakan khasiat tanaman tersebut, di antaranya untuk mengobati luka. “Tanaman ini bisa berfungsi sebagai antiseptik”, ujarnya.

Di hutan tersebut terdapat juga pohon kasah yang tinggi menjulang dan bisa berusia 120 tahun. Setelah menapaki jalan yang landai, tiba saatnya kaki melangkah mendaki 1.000 anak tangga. Kami beristirahat melemaskan otot kaki dan mengatur napas, sebagian beranjak ke tandas atau toilet yang tersedia di lokasi, sebelum menapaki tangga menuju ikon Taman Negara tersebut. Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang 40 menit, kami pun sampai di depan pintu masuk.

Di depan pintu masuk terdapat papan pengumuman dilarang merokok, dengan ancaman denda 5.000-10.000 ringgit Malaysia. Kaki melangkah pelan menapaki kanopi sepanjang 530 meter dengan ketinggian 40 meter diatas permukaan tanah. Hati berdesir saat jembatan gantung tiba-tiba bergerak miring. Tanpa komando kedua tangan bergerak cepat menyambar tali pengaman di sisi jembatan. Dari depan dan belakang terdengar jerit ketakutan. Sepanjang mata memandang di sekeliling terlihat panorama hutan tropis hijau menyejukkan ata. (M-1)

 

 

BERITA TERKAIT