Lebih Dari 24% Orang Indonesia Berperilaku Sedentari


Penulis: Agus Utantoro - 08 April 2018, 10:45 WIB
MI/ROMMY PUJIANTO
MI/ROMMY PUJIANTO

HASIL Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 yang dilakukan Kementerian Kesehatan menunjukkan lebih dari 24% penduduk Indonesia menjalani perilaku hidup sedentari selama lebih dari 6 jam per hari. Perilaku itu banyak menjadi penyebab munculnya penyakit-penyakit tidak menular.

"Perilaku sedentari adalah pola hidup atau kebiasaan-kebiasaan sehari-hari yang tidak banyak bergerak. Atau bahasa gampangnya, kurang banyak aktivitas gerak," kata Senior Nutrition Manager PT Fonterra Brands Indonesia Ines Yumahana Gulardi, Minggu (8/4) di  Yogyakarta.

Di sela-sela peluncuran Gerakan dari Yogyakarta Menuju Jakarta untuk Membuktikan Indonesia Bisa Bergerak Lebih Aktif di halaman Stadion Mandala Krida Yogyakarta, Ines lebih lanjut mengatakan, gaya hidup sedentari ini menjadi isu penting di Indonesia dan bahkan dunia.

"Gaya hidup sedentari ini telah terbukti meningkatkan jumlah penderita  penyakit tidak menular dan mencegah masyarakat memiliki kehidupan kesehatan yang lebih baik," katanya.

Menurut dia, gerakan yang dimulai dari Yogyakarta ini termasuk di dalamnya adalah estafet dari Yogyakarta menuju Jakarta yang diikuti 250 pelari dan pesepeda, melintasi beberapa kota, di antaranya Kebumen, Purwokerto, Ciamis, Bandung, dan Bogor.

Ia mengatakan, masyarakat dianjurkan bergerak aktif minimal 30 menit per hari dan dilakukan sekurangnya 3-5 kali per minggu atau minimum 2,5 jam per minggu untuk melawan gaya hidup sedentari tersebut.

Pemilihan awal dari Kota Yogyakarta, tambah Technical Marketing Advisor, PT Fonterra Brands Indonesia, Rohini Behl, karena Yogyakarta menempati posisi ketiga tertinggi jumlah penderika penyakit-penyakit tidak menular. Artinya, tambahnya, diduga orang Yogyakarta juga banyak yang berperilaku sedentari.

"Kurangnya aktivitas fisik memicu tingginya prevalensi penyakit tidak menular (PTM) dan menjadi penyebab kematian terbesar di Indonesia, seperti hipertensi, obesitas, stroke, diabetes mellitus, peyakit jantung koroner, dan gagal ginjal kronis," tambahnya.

Menurut dia, pemerintah Indonesia menanggapi permasalahan kesehatan ini dengan mencanangkan program GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) yang bertujuan mendorong masyarakat Indonesia untuk melakukan olahraga teratur, diet seimbang, dan deteksi dini PTM.

Merespon permasalahan sedentari di Indonesia serta mendukung GERMAS, Fonterra Brands Indonesia, melalui Anlene, merk susu dewasa yang peduli terhadap kesehatan tulang, sendi, dantot, mengajak masyarakat Indonesia untuk bergerak lebih aktif dan melawan sedentari melalui Kampanye Anlene.

Ia menambahkan, secara global, kurangnya aktivitas fisik ini telah menimbulkan biaya pelayanan kesehatan sebesar US$54 miliar yang 57%-nya ditanggung sektor publik dan tambahan US$14 miliar karena hilangnya produktivitas.(OL-3)

BERITA TERKAIT