Kejutan dari Para Kampiun Komik Nusantara


Penulis: Zuq/M-4 - 08 April 2018, 11:00 WIB
img
ANTARA/DODO KARUNDENG

KASUR itu menjadi medium penting bagi penyampaian gagasan. Ia tidak lagi hanya menjadi alas tidur. Jauh dari fungsi sebelumnya, kasur itu menjadi layaknya kertas yang bisa dimuatkan tulisan.

Ia bisa difungsikan sebagai pembawa cerita. Luasan kasur bisa dibuat sekat-sekat layaknya garis pada sebidang kertas. Sekat garis pada kertas diganti bantal. Lalu, setiap bantal menjadi bidang yang memungkinkan untuk dimuati pesan tulisan.

Mungkin semula karya itu dikira sebagai karya seni kontemporer. Namun jangan salah, sebab karya itu justru hadir dalam Pameran Dunia Komik di Galeri Nasional Indonesia (GNI), Jakarta. Pameran itu bagian dari Gudang Garam Indonesia Art Awards 2018 (GGIAA) yang diselenggarakan Yayasan Seni Rupa Indonesia dan PT Gudang Garam Tbk.

Terdapat 129 karya dari 129 perupa yang diseleksi terlebih dahulu oleh dewan kurator yang terdiri dari kurator Jim Supangkat, Hikmat Darmawan, dan Iwan Gunawan. Tiga lukisan terbaik telah dipilih sebagai juara dalam ajang bergengsi tersebut.

Pemenang juara pertamanya ialah komikus Evelyn Ghozali dengan karyanya yang berjudul The Chair (media campuran di atas kertas, 2012). Karya ini merupakan komik yang menceritakan tentang perjalanan sebuah kursi yang melewati berbagai zaman. Karya para pemenang lainnya bisa disaksikan hingga 18 April 2018.

Hikmat Darmawan, sang kurator menjelaskan, pada pameran kali ini terdapat perbedaan konsep dalam kategori karya yang menitikberatkan pada karya pop art, yakni seni komik.

Komik sebagai tema diambil dengan pertimbangan bahwa komik merupakan bahasa komunikasi visual yang universal sekaligus merespons tren dunia internasional yang saat ini mulai memberi ruang apresiasi terhadap seni komik.

Komik adalah cerita gambar, bukan cerita bergambar yang menempatkan gambar hanya sebagai ilustrasi. Cerita pada komik tidak bisa dilepaskan dari tanda-tanda gambar seperti misalnya gambaran yang memperlihatkan perwatakan tokoh, ekspresi wajah, atau tanda-tanda gerak tubuh dan kendaraan. Tanda-tanda gambar ini bagian dari narasi yang bila ditiadakan akan memacetkan alur cerita.

Komik semacam mempunyai kode etik agar tetap berada dalam jalur komik, yakni sekuensial yang berarti penjajaran imaji secara kronologis untuk membentuk sebuah cerita atau pesan. Artinya, terdapat pembagian cerita yang tertuang dalam gambar. "Jadi enggak hanya cerita, tapi bahasa komiknya. Itu mencakup story telling dan medium," tutur Hikmat.

Kurator Jim Supangat mengatakan, jika sebelumnya komikus disering dianggap bukan seniman, pameran ini seolah menjadi bukti bahwa para komikus juga seorang seniman."Yang luar biasa mereka seperti seniman kontemporer, ada yang bikin instalasi. Jadi tiba-tiba kelihatan banget kalau mereka seniman. Ini sebetulnya sebuah bukti yang di luar dugaan," tambah Jim.

Misalnya, karya Bonnie Rambatan yang menjadi salah satu penerima penghargaan spesial mention, mengefektifkan pesan dan gagasannya lewat rancangan presentasi berupa karya instalasi yang cukup rumit.

Salah satu karya, yang membahas tentang maraknya gejala polisi moral dalam masyarakat. Bonnie mewujudkannya dalam sekuens yang tercetak di atas kasur, dan pintu dengan sosok kartun yang mewakili penggeruduk.

"Saya kan eksplorasi medium dengan cara kalau komik dilepas dari medium dua dimensi, kerusakan medium bisa menjadi bagian dari cerita. Komik kan intinya seni sekuensial. Jadi, ada sekuelnya dari mulai kasur bagus sampai rusak," terang Bonnie Rambatan.

BERITA TERKAIT