Inspirasi dan Energi dari Kembang Mayang


Penulis: Iis Zatnika /(M-3) - 08 April 2018, 06:00 WIB
DOK. SANGGAR KEMBANG MAYANG
DOK. SANGGAR KEMBANG MAYANG

Akhir pekan ini, kaum urban Jakarta tak perlu repot-repot menembus kemacetan buat berpelesir ke luar kota. Arahkan saja kendaraan menuju Sanggar Batik Kembang Mayang di Jalan Mayang, Larangan Selatan, Tangerang, Banten.

Ada tembok-tembok berhiaskan motif-motif batik Nusantara, termasuk asal Tangerang hingga yang bergambar mayang, rekaan para penggiat sanggar ini. Lokasi itu bukan cuma jadi latar swafoto yang dipastikan bakal mengundang banyak tanda cinta di Instagram dan jempol di Facebook, melainkan juga kaya cerita.

Lebih mantap lagi jika meluangkan waktu buat mengeksplorasi batik, langsung di sanggarnya yang cuma berjarak beberapa langkah dari tembok-tembok nan cantik itu. Ada pilihan paket belajar membatik, 2 dan 4 jam, masing-masing Rp150 ribu dan Rp250 ribu. Pun, ada paket pertemuan selama enam kali, masing-masing 4 jam dengan biaya Rp1 juta.

Jumat (6/4), sebanyak 30 ibu dikirim Mercy Corps, lembaga nirlaba, untuk belajar membubuhkan malam di atas pola hingga mempelajari teknik pewarnaan. Tentu, yang paling seru, aksi foto-foto di depan tembok batik.

Budi Darmawan, salah satu penggagas Sanggar Batik Kembang Mayang, menuturkan telah banyak penjajakan dan interaksi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tangerang yang diyakini akan membuat kampung sekaligus lokasi bergiat mereka jadi salah satu destinasi wisata utama.

Pilih latar swafoto

Tembok berswafoto dan kisah-kisah seru tentang batik itu bisa ditempuh dari Jalan Ciledug Raya, yang terakses bus Trans-Jakarta yang melintas di atasnya. Memasuki jalanan perumahan nan resik dengan gerbang bertuliskan 'Kompleks Kembang Larangan', sanggar ini berada di antara rumah-rumah warga yang telah dihuni hingga tiga generasi dengan halaman-halaman yang lebar dengan aneka pohon dan tanaman hias warna-warni.

Tembok pertama yang akan ditemui, salah satu motif batik yang telah ditetapkan sebagai ikon Tangerang. Gambarnya, perahu naga dengan gelombang Sungai Cisadane di bawahnya. Tangerang memang terkoneksi kuat dengan sungai yang melintasi kota ini dan salah satu hilirnya ialah Pantai Tanjung Kait.

Kisah Cisadane ini juga bisa disimak di Museum Benteng Heritage yang terletak di antara kepadatan Pasar Lama Tangerang. Ada beberapa lukisan, keramik, hingga peralatan perang dan rumah tangga yang memvalidasi kedatangan rombongan dari Tiongkok yang dipimpin Laksanama Cheng Ho, yang terdiri atas sekitar 300 kapal kayu besar dan kecil yang membawa hampir 30 ribu pengikut.

Cisadane yang masih dalam kondisi terbaiknya saat itu bisa dilayari kapal-kapal yang kemudian sebagian pelautnya memilih menjadi warga Tangerang, tak ikut kembali ke tanah airnya. Merekalah yang kemudian menjadi cikal bakal kaum peranakan, hasil perkawinan campur antara warga Tiongkok dan orang-orang lokal yang kemudian melahirkan tradisi-tradisi baru nan ekosotis. Kecap SH yang diproduksi di Benteng, sebutan yang juga identik dengan kawasan pecinan di berbagai wilayah Nusantara, pun kue keranjang, dodol berbahan beras ketan dan gula merah, kini menjadi ikon-ikon kebanggaan Tangerang.

Lalu, ada pula motif Mega Mendung yang tersohor sebagai ikon batik Cirebon yang tampil meriah. Di sampingnya, tampil anggun motif Gordo yang terinspirasi sosok garuda yang gagah beriwbawa. Di ujungnya, ada Sidomukti yang menandakan harapan atas kemakmuran.

Tentu lebih seru jika saat berfoto, makna-makna itu diperoleh. Para pengurus Sanggar Batik Kembang Mayang, yang kerap beraktivitas di lokasi yang kini masih menumpang gedung posyandu, bisa disapa dan menjadi narasumber terbaik.

Wisata belajar

Ketika berwisata kini identik pula dengan aneka pengalaman inspiratif, termasuk aktivitas belajar, patutlah menyempatkan diri mengikuti pelatihannya. Ada kain dengan lebar 30 cm dan panjang 1 m yang menjadi bahan pembelajaran.

Lalu, duduklah d iatas bangku kecil, tempatkan kain seperti memegang buku yang hendak dibaca dan guratkan canting dengan cermat di atas pola terpilih, tentu bisa juga menggambar kembang mayang. Rasakan sensasi mencelupkan canting dalam malam yang mencair di atas kompor listrik dan meniupnya pelan-pelan untuk mendapat tekstur lilin terbaik yang dihasilkan dari panas yang tepat.

Adegan meniup canting ini tak boleh lupa buat diabadikan, apalagi dengan latar kain-kain batik yang dipamerkan dengan apik di sekitar ruangan sanggar yang terbilang lega itu. Bergayalah seperti para perempuan pembatik andal yang kerap ada di potret-potret majalah wisata dan aneka iklan dengan latar tradisi Indonesia.

Batik itu kaya cerita

Sesapi juga sensasi hangat yang ditimbulkan goresan canting. Jika ada noda yang tak sengaja menetes dari canting, atau guratan yang tak sesuai gambar, nikmati saja. Tak perlu risau, karena seperti yang dipaparkan Farah, salah satu dari tujuh pelatih di sini, batik adalah proses dan cerita.

Kain dan baju batik, mulai yang menerapkan kaidah yang benar, diolah dengan proses tulis atau cap, atau yang sekadar tekstil bermotif karena diproduksi mesin, bisa didapat di mana pun dalam aneka rentang harga.

Namun, proses membuatnya, terutama ketika membuatnya sendiri, dengan guratan canting di jemari, bisa melahirkan aneka pengalaman, cerita, dan tentunya inspirasi.

"Tentu, sesuai pilihan paketnya, proses yang dipelari beragam, mulai membatik menggunakan canting dengan malam, mewarnai, hingga melorot atau menghilangkan lilin," ujar Farah.

Bawa pulang kain batik itu, yang bahkan ketika hanya sampai di tahap mengguratkan malam dan mewarnai saja sudah sangat keren buat dipajang dengan pigura sederhana seperti yang terlihat di Sanggar Batik Kembang Mayang.

Jika ingin memajangnya dalam tas atau baju, potongan batik karya sendiri itu bisa menjadi aksen ketika dipadukan dengan kain-kain polos. Pun, teknik ini dipamerkan di sanggar, yang memberikan opsi-opsi inspirasi memuliakan batik.

"Sejak mulai beroperasi pada awal 2018 ini, kami telah melatih sedikitnya 100 peserta yang memilih aneka paket. Sanggar Batik Kembang Mayang memang fokus pada pelatihan agar wirausaha sosial berbasis masyarakat di RW 11 ini bisa berkelanjutan dan bersahabat dengan sekitar," kata Budi yang berkolaborasi dengan empat tetangganya di tim manajemen--semuanya pria dan tujuh pelatih yang empat di antaranya telah lulus uji kompetensi setelah mengikuti pelatihan dari Kampung Batik Palbatu, Tebet, Jakarta.

Inisiatif warga

Melancong ke Sanggar Batik Kembang Mayang bukan cuma pembelajaran tentang batik yang didapat, melainkan juga inspirasi tentang inisiatif warga untuk belajar dan merintis aktivitas baru.

"Siapa yang sangka bahwa semua ini berawal dari perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang ditetapkan Kota Tangerang yang mengharuskan lingkungan sehat, bersih, juga indah. Rembuk warga tentang keindahan itu, pun aktivitas salah satu pendiri kami, Pak Budi, sebagai pegiat batik yang juga merintis Pal Batu, berwujud tembok, lalu sanggar, dan kini kegiatan pelatihan," ujar Zulfifni Adnan, sang ketua umum.

Tuntas menjelajahi batik jangan lupa pada pohon pinang yang ditanam di depan halaman rumah di seberang sanggar. Ya, karena mayang adalah bunga pinang. Proses menemukan gambar dan sosok kembang pinang hingga upaya memopulerkan inisiatif ini tak lepas dari internet. Batik memang bisa sangat urban, kisah dan prosesnya bisa digali dengan aneka medium dan tentunya dinikmati sesuai energi dan sejuah mana hasrat buat mengenalnya.

BERITA TERKAIT